Menjaga Nyala Api di Dada

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Antusiasme adalah tempat bergantung bila keadaan menjadi sukar. Antusiasme adalah suara batin yang berbisik, “Aku bisa melakukannya!”

Masih ingatkah Anda pada pengalaman sewaktu kecil, seperti yang saya alami, menatap pelangi di langit dengan rasa takjub? Sebagai kanak-kanak, fenomena alam yang luar biasa itu membuat saya berbinar-binar. Penuh rasa ingin tahu. Sebenarnyalah, saya dan Anda dilahirkan dengan mata lebar oleh rasa takjub yang penuh antusiasme. Bukan hanya pada pelangi, tapi juga pada anak kucing yang lucu, mainan mobil yang bergerak ke sana kemari, juga bunyi dan cahaya yang berkilatan.

Tapi kemana semua itu setelah puluhan tahun hidup kita lewati?

Antusiasme yang spontan nyaris hilang digerus usia. Betapa kerap kita menerima tugas di tempat kerja tanpa minat sedikitpun. Dengan benak dibebani oleh target kita bekerja. Hasilnya? Masih untung bila target terpenuhi tepat waktu. Namun, tanpa antusiasme, kinerja kita niscaya tidak akan mencapai puncak.

Ahli-ahli sumberdaya manusia kerap menyebutkan, tanpa antusiasme, kerjasama tim yang solid sulit terwujud. Bagaimana Anda mau fokus pada pekerjaan apabila Anda tidak memiliki antusiasme pada pekerjaan itu? Sebagai bahan bakar, antusiasme menyalakan api semangat untuk bekerja demi meraih hasil terbaik. Sebagai energi penggerak, antusiasme mendorong siapapun untuk melakukan aktivitas dengan penuh semangat.

Antusiasme adalah tempat bergantung bila keadaan menjadi sukar. Antusiasme adalah suara batin yang berbisik, “Aku bisa melakukannya!” ketika orang lain berseru, “Ah, kamu payah!” Di tengah kepungan kecemasan dan ketakutan, antusiasme sanggup mengusirnya. Orang yang antusias bisa mengubah keadaan yang menjemukan menjadi petualangan, kerja ekstra yang berat jadi kesempatan belajar, dan orang asing jadi sahabat baru.

Mengapa antusiasme begitu penting bagi kesuksesan? Jalan nalarnya seperti ini: perbedaan antara keberhasilan dan kegagalan itu tipis (slight edge). Dua orang dengan ketrampilan dan bakat serupa dapat membuahkan hasil yang berbeda. Perbedaan ini tidak dapat diatribusikan bahwa kemampuan orang yang satu melebihi yang lain. Perbedaannya terletak pada antusiasme mereka. Yang seorang lebih antusias dibandingkan yang lain. Kita dapat merasakan adanya passion di dalam hasil kerja orang yang antusias. Dua koki yang memasak dengan resep yang sama akan menghasilkan hidangan yang berbeda lantaran antusiasme yang berlainan.

Bagaimana kita mengembangkan kekuatan antusiasme?

Dalam pandangan Randy Slechta, President of Leadership Management International, Inc., terdapat tiga langkah kritis yang harus dilalui. Pertama, kita mula-mula harus membangun minat atau keingintahuan yang kuat terhadap subyek tertentu. Kita memupuk rasa ingin tahu seluk-beluk pekerjaan itu.

Kedua, pengetahuan. Tindakan (action) adalah kunci dalam mengubah minat menjadi pengetahuan. Ketika Anda berminat pada sesuatu, Anda harus bertindak untuk mencari tahu. Begitu Anda menghimpun pengetahuan tersebut, ini akan menciptakan kondisi bagi langkah ketiga.

Ketiga, keyakinan adalah situasi di mana Anda mengubah pengetahuan jadi komitmen emosional. Di sinilah antusiasme diciptakan. Tidaklah cukup hanya mengetahui segala hal mengenai suatu subyek, Anda harus meyakininya. Satu-satunya cara untuk meyakini ialah menguji pengetahuan Anda tentang subyek itu. Keyakinan ini menghasilkan komitmen emosional yang kuat, yang mendorong antusiasme.

Banyak orang menunggu datangnya antusiasme pada dirinya. Sayangnya, kata Randy, antusiasme tidak mendatangi kita tanpa diundang. Kita harus bertanggungjawab menciptakan antusiasme di dalam dada kita—kitalah yang menyalakannya, kita pula yang menjaga nyala apinya. Hanya dengan itu kita dapat mewujudkan mimpi-mimpi kita, seperti yang diujarkan oleh penyair Amerika Ralph Waldo Emerson: “Tidak ada hal besar terjadi tanpa antusiasme.” (sumber ilustrasi: mooreyoga.wordpress.com) ***

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

1 Pengikut

img-content

Bila Jatuh, Melentinglah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua