Djulak Larau, Perawat Seni Tradisi dan Budaya Banjar - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Kartika Eka H

Penikmat wisata, kuliner dan fotografi
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Djulak Larau, Perawat Seni Tradisi dan Budaya Banjar

    Dibaca : 2.720 kali

    Awal perjumpaan saya dengan “Djulak Larau” nama panggung dari budayawan  dan seniman Banjar yang dikenal serba bisa Drs Mukhlis Maman, sekitar pertengahan tahun 2000-an. Diawali ketika kami sama-sama mengisi beberapa program acara budaya di Radio NIRWANA FM, Banjarmasin, yaitu jaringan radio swasta terbesar di di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Di Radio dengan tagline “Radionya Urang Banjar” yang saat itu begitu getol menampilkan tema budaya dalam berbagai programnya itu, beliau dengan beberapa rekan main di acara budaya “Warung Bubuhan” yang secara reguler ditayangkan TVRI Kalimantan Selatan sampai sekarang, seperti Bang Irwan, Bang Ariel dan Bang Sukur secara reguler membawakan tema acara budaya Banjar dengan konsep semi dialog dalam acara surung sintak dan Lanting Kai, sedangkan saya saat itu mengisi acara dengan latar belakang tema  budaya Jawa dengan konsep yang kurang lebih sama dalam acara Tombo Kangen. Khusus pada hari Minggu, dalam acara Dialog Budaya yang berkonsep dialog interaktif dengan pendengar, beberapa kali kami sempat berpasangan untuk mengisi acara yang lebih banyak mengungkap dan mengangkat tema kekayaan, keberagaman dan keunikan budaya dari hasil akulturasi budaya masyarakat di seputar Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan yang secara riil memang sangat heterogen alias multi etnis. Dari beberapa kali bertemu dan berdiskusi baik on air maupun off air saya baru menyadari bagaimana pola dan cara kerja dedikasi sidin (beliau ; Bhs Banjar) terhadap seni dan budaya Banjar yang sangat luar biasa.

    Ada satu pernyataan sidin saat kami membawakan salah satu acara dialog budaya, secara live atau on air di Radio NIRWANA yang sampai sekarang masih saya ingat diluar kepala. Pernyataan yang saya terjemahkan sebagai konsep berkesenian sidin ini, begitu menginspirasi pendengar dan gerak langkah serta pola pikir saya dalam menjalani kehidupan, "berkesenian itu jangan asal mengikuti arus, kita harus punya ciri (tredemark) sendiri agar karya kita lebih mudah dikenali orang dan tidak membosankan, sehingga akan awet dan abadi. Contoh : Kalau kebanyakan pencipta lagu Banjar lebih banyak mencipta lagu Banjar dengan tema sungai, karena Banjarmasin dan Kalimantan Selatan identik dengan sungai dan budaya sungai, tapi kalau aku tidak! Aku lebih suka membuat lagu Banjar dengan tema gunung, bukit atau sawah yang hijau. Mungkin sedikit tidak lazim, tapi jangan salah obyek itu juga ada di Kalimantan Selatan! Jadi tidak melenceng dari fakta tentang Kalimantan Selatan sendiri"

    "Djulak Larau” yang juga Pamong Budaya Madya ini dikenal sebagai budayawan Banjar sekaligus seniman multitalent. Dalam aktifitas berkesenian, beliau dikenal sebagai penyair, koreografer, sutradara, komedian, musisi, pencipta lagu dan banyak lagi yang lainnya. Selain sebagai pelaku seni, sidin  juga tercatat sebagai salah satu penulis dokumentasi seni dan budaya Banjar yang cukup produktif. Beberapa buku karya sidin yang kesemuanya mengangkat tema budaya Banjar, seperti Wayang Gung kalimantan Selatan (2012), Gamelan Banjar Kalimantan Selatan (2007) dan Topeng Banjar di Barikin (2012) sampai sekarang masih menjadi rujukan bagi semua pihak yang ingin mempelajari eksotisnya seluk beluk berbagai seni dan tradisi Banjar.

    Era globalisasi menghadirkan revolusi teknologi, khususnya teknologi informasi dengan berbagai produk turunannya yang telah berhasil melipat dimensi ruang dan waktu menjadi semakin linier tanpa sekat dan batas, menyebabkan munculnya era dunia baru yang ditandai dengan mulai bergesernya tata budaya masyarakat dunia, khususnya negara-negara berkembang seperti Indonesia. Derasnya arus informasi global tidak hanya menambah wawasan dan pengetahuan secara umum, tapi juga mulai merubah pola pikir, sikap,  perilaku, gaya hidup dan etika sosial yang secara perlahan tapi pasti juga akan merubah tata nilai dan tata laku budaya masyarakat. Banyaknya asset seni dan budaya bangsa dari berbagai suku di Indonesia yang mulai punah, ditengarai sebagai salah satu bukti riilnya. Di Kalimantan Selatan sendiri, kesenian tari, teater rakyat dan sastra tutur yang dulu pernah merajai panggung hiburan rakyat seperti tari baksa kambang, japin, dammar ulan, wayang gong, wayang kulit banjar, mamanda, mamanda tubau, bapandung, balamut dan madihin sekarang sudah sangat jarang bahkan tidak ada yang memainkannya. Bisa jadi orang Banjar generasi sekarang justeru asing mendengar nama-namanya.

    Kehadiran sosok-sosok dedikatif seperti “Djulak Larau” dan kawan-kawan dalam lingkungan masyarakat yang sedang mengalami euphoria transisi budaya yang sekarang sedang membius sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan akibat serbuan aneka budaya pop yang terlihat lebih renyah, simple  dan menggoda merupakan hembusan angin segar sekaligus setetes harapan bagi eksistensi  seni budaya khas daerah Kalimantan Selatan.

    Berbagai usaha dan upaya pelestarian seni budaya khas suku Banjar telah dilakukan oleh seniman serba bisa yang juga jagau (jago : Bhs.Banjar) dalam bermain catur ini. Bersama-sama dengan rekan-rekan seperjuangan di markas “Taman Budaya Kalimantan Selatan’, yang sudah dianggap sebagai rumah kedua bagi sidin lahir ide-ide kreatif dan konsep “format” menuju titik ideal untuk melestarikan dan merawat seni tradisi dan budaya Banjar.  Salah satunya adalah melalui karya tulisan dokumenter tentang seni dan budaya. Karya tulisan sidin tidak hanya dalam bentuk buku seperti tersebut diatas, tapi juga dalam bentuk artikel yang tersebar di berbagai media baik cetak maupun online. Selain itu, sidin juga aktif menjadi pengisi acara bertema budaya di TVRI Kalimantan Selatan, baik yang berkonsep drama seperti dalam acara “warung bubuhan” maupun dialog interaktif.

    Di luar itu, sidin juga sering berbagi pengetahuan dan pemahaman tentang budaya Banjar dengan menjadi pembicara dalam berbagai seminar dan sarasehan budaya baik tingkat lokal maupun nasional, menjadi koreografer sekaligus pengajar tari di beberapa sanggar seni Banjar. Khusus untuk yang satu ini sidin juga masih sering turun untuk melakukan pentas seni baik di tingkat lokal maupun nasional   dan yang paling menarik adalah upaya sidin untuk melestarikan beberapa alat musik tradisional Kalimantan Selatan yang sudah lama terkubur dan terlindas jaman seperti  kuriding. Melalui tangan dingin sidin alat musik khas Indonesia yang di Kalimantan Selatan telah lama hilang dan tenggelam oleh waktu itu, sekarang mulai mewabah lagi di kalangan anak muda Banjarmasin. Begitu juga dengan alat musik unggut, alat musik khas pedalaman Kalimantan Selatan yang mirip dengan panting ini kembali diperkenalkan sidin kepada masyarakat Kalimantan Selatan dan yang paling baru, sidin kembali berimprovisasi dengan menciptakan alat musik baru kombinasi antara gitar dan tarbang (terbang/rebana ; bhs. Banjar) yang dinamai sidin  “tartar” alias singkatan dari gitar dan tarbang.

    Seorang Djulak Larau alias Drs Mukhlis Maman dan semua rekan yang aktif menggerakkan seni tradisi dan buadaya Banjar di Taman Budaya Kalimantan Selatan tentu tidak bisa sendirian berjuang mempertahankan eksistensi seni tradisi dan budaya Banjar. Peran sidin dan rekan-rekan sebagai katalisator pelestarian seni tradisi dan budaya Banjar harus mendapat support dari semua elemen masyarakat Banjar. Apalagi kalau melihat banyaknya seni tradisi dan budaya Banjar yang memerlukan langkah restrukturisasi dan reaktualisasi karena keberadaanya yang terancam punah. Idealnya, untuk menjaga dan merawat kelestarian seni tradisi dan Budaya Banjar harus bersifat kolektif. Artinya, kelestarian seni tradisi dan Budaya Banjar harus menjadi tanggung jawab semua masyarakat Banjar.

     

     

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.