Sosok Mashur Berkepribadian Kompleks - Urban - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Sosok Mashur Berkepribadian Kompleks

    Sosok-sosok mashur mengubah persoalan mental mereka menjadi keunggulan yang membuat mereka sukses.

    Dibaca : 2.400 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    “Karakter itu bagaikan pohon dan reputasi bagaikan bayangan. Bayangan adalah apa yang kita pikirkan, sedangkan pohon adalah kenyataannya.”

    --Abraham Lincoln (Presiden AS, 1809-1865)

     

    Siapakah Marilyn Monroe di bawah rambut platinumnya? Siapa pula Andy Warhol yang gemar berbelanja apa saja yang terlintas di benaknya setiap hari? Apakah Abraham Lincoln, bapak bangsa Amerika, menderita depresi? Benarkah sangkaan kita bahwa orang-orang terkenal itu berbeda dengan kita orang biasa?

    Keanehan perilaku orang-orang terkenal memang menarik perhatian, terutama mereka yang dihantui pertanyaan: Apa yang menggerakkan dan memengaruhi pikiran Warhol, Lincoln, atau Darwin dan Einstein? Sejak lama, para penulis biografi menaruh minat terhadap isu-isu psikologis orang-orang dengan prestasi hebat ini. Mereka mashur bukan karena tayangan reality show yang meninabobokan penonton dengan mimpi-mimpi.

    Banyak orang berusaha mencari tahu sisi-sisi lain kehidupan mereka. Claudia Kalb, jurnalis sains, baru-baru ini menerbitkan buku serupa. Judulnya provokatif sekaligus menghibur: Andy Warhol Was a Hoarder: Inside the Minds of History’s Great Personalities (penerbit National Geographic Society, 2016). Kalb memelajari 12 figur terkenal dan menunjukkan bukti bahwa masing-masing figur ini terjebak dalam kondisi mental tertentu. Kalb memanfaatkan berbagai riset ilmiah, mewawancarai para pakar, dan menyusuri informasi historis tentang figur-figur ini untuk memahami kondisi psikologis mereka.

    Dalam bukunya, Kalb menggambarkan, orang-orang berpenyakit mental seringkali menemukan cara untuk mengubah kondisi mereka menjadi keunggulan. Mesti diingat, penyakit mental memiliki begitu banyak keragaman. Abraham Lincoln, tulis Kalb, kerap disebut mengidap depresi. Ada banyak pandangan bahwa karakter melankoli dan depresifnya telah mendorong kemampuan Lincoln untuk memahami dengan lebih baik Perang Saudara di AS dan membuatnya lebih peka mengenai apa yang dimaui kedua belah pihak.

    Sosok lain yang menarik perhatian Kalb, dan niscaya karakter serupa juga menarik bagi banyak orang, ialah Frank Lloyd Wright—arsitek yang dianggap oleh American Instititute of Architects sebagai ‘arsitek Amerika terbesar sepanjang masa’. Wright, arsitek mashur pada awal 1990an ini, memiliki kualitas-kualitas narsistik: rasa kebesaran diri, keunggulan, keyakinan diri yang tinggi dalam sensibilitas estetika. Ia kerap mengabaikan karya arsitektur yang tidak mencapai standarnya.

    Tidak seperti orang-orang yang mengidap depresi, mereka yang narsis tidak sangat menderita secara personal akibat kondisi mereka. Namun, perilaku mereka dapat berakibat buruk bagi orang-orang sekelilingnya. Dia banyak menuntut dan kurang bisa berempati—siap membuat Anda menangis.

    Banyak orang berani mengambil risiko, tapi ada orang-orang tertentu yang amat berani, memiliki kepercayaan diri sangat besar, serta rasa superior yang membuat mereka tidak takut berkompetisi. Inilah sosok Howard Hughes muda, ketika ia berambisi membangun industri penerbangan dan mendirikan Hughes Aircraft. Di masa tuanya, Hughes lebih dikenal sebagai perilaku eksentrik dan suka menyendiri. “Ia terisolasi sepenuhnya, tak mampu berinteraksi dengan orang, dalam bisnis maupun dalam masyarakat,” tulis Kalb.

    Bagaimana dengan Andy Warhol, seniman yang dipujikan karya-karyanya? Dari hasil penelusurannya, Kalb mendapati bahwa Warhol menimbun berbagai jenis barang sepanjang lebih dari 30 tahun hingga akhir hidupnya, 1987. Warhol terobsesi oleh Time Capsule dan ia menyimpan lebih dari 600 Time Capsule. Di dalamnya tersimpan, antara lain, kwitansi, surat, catatan, foto, kaleng sup, pizza yang baru dimakan sebagian, serangga mati, kartu undangan berbagai acara. Seluruh koleksi Warhol ini sekarang dimuseumkan.

    “Tukang timbun,” tulis Kalb mengutip sebuah studi, “merasa cemas setiap kali membuang sesuatu; mereka khawatir suatu saat memerlukannya, tak ingin mengingat bahwa barang itu sudah tak ada, atau harus menyimpannya karena alasan sentimentil.” Itulah yang dialami Warhol.

    Kalb, dengan bukunya ini, menyingkapkan kompleksitas kepribadian setiap orang dengan mengambil contoh nama-nama mashur, seperti Puteri Diana, sastrawan Fyodor Dostoevsky, Abraham Lincoln, ilmuwan Charles Darwin dan Albert Einstein. Ada sisi-sisi lain kepribadian seseorang yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami. Sebagian terlihat, lebih banyak lagi tersembunyi. ***

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.