Desember

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Desember sangat mungkin berarti ketegangan bahkan sebelum kalender mengesahkan kehadirannya.

Desember sangat mungkin berarti ketegangan bahkan sebelum kalender mengesahkan kehadirannya. Terkadang, ada kabar kenaikan tarif listrik atau kenaikan harga kebutuhan harian yang menjelma salam damai perpisahan. Desember sulit memuat kelegaan, tapi kelelahan menyelesaikan target-target hidup. Orang-orang bisa saja tidak ingin menuju Desember yang mengandung horor. Kecuali si cantik Taylor Swift yang berdoa dalam nyanyi, I’d go back to December turn around and make it all right/ I go back to December all the time.  

Dalam persepsi yang lain, serangan-serangan sale atau great sale mengundang para penggila belanja untuk tidak melewatkan akhir tahun sebagai pengonsumsi masal. Mereka mengantri, berebut, berlomba, dan saling pamer kebisaan memborong. Potongan harga membalik kesadaran atas waktu. Para pemuja belanja masih diberi kesempatan memiliki barang-barang yang pernah tenar di bulan November, Oktober, September, Agustus, Juli, Juni atau malah Januari. Dulu, barang-barang itu mahal dan sering tidak terjangkau kantong. Desember membawa nasib baik potongan harga. Di ujung bulan menuju tahun baru, orang-orang mengejar kebaruan yang telah jadi usang.

Ketegangan yang antusias juga terjadi dalam keluarga. Desember adalah ambisi merencanakan liburan keluarga. Iklan hotel, tiket pesawat, dan liburan tahun baru sudah melakukan serangan sebelum Desember datang. Menjadi hak orang-orang Indonesia berduit untuk terbang ke Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, Inggris, Prancis, atau Amerika menyaksikan kembang api pergantian tahun. Promosi wisata menawarkan kenyamanan, penghijauan, persinggahan, dan peremajaan hidup. Para anggota keluarga ingin melakukan pembalasan dendam atas hari-hari penuh kerja, kontrak, sekolah, tugas, atau segala bentuk kewajiban sebagai pekerja atau pelajar. Ujung Desember jadi momentum membeli segala bentuk kenikmatan terlewatkan selama sebelas bulan yang lalu.

Bisa dipastikan bahwa setiap pemerintah kabupaten dan pemerintah kota menjadi sibuk di bulan Desember. Mereka harus berebut melobi artis untuk datang ke kota meramaikan acara tahun baru di rumah sendiri. Malam-malam tidak boleh sepi, jalanan harus macet, terompet-terompet siap dijual, dan langit mesti dibakar dengan api. Desember jadi kesempatan membakar uang di atas kota yang dipaksa bangun sampai dini hari. Tidur pantang dilakukan dalam momentum pergantian Desember ke Januari.

Kalender

Usai penantian panjang, pada akhirnya kalender membuka halaman bertuliskan Desember. Di rumah, warung makan, sekolah, kantor, dan bank, Desember sabar menanti, mendahulukan bulan-bulan lain berunjuk angka pada orang-orang yang resah menitip peristiwa di tiap-tiap hari. Waktu di antara kita memang kalender yang religius, gagah, seksi, militeristik, sekaligus birokratis karena di sana ada gambar masjid, sepeda motor, mobil, artis, perempuan cantik, aktivitas perkantoran, agenda pemerintah, atau kegiatan sekolah.

Setiap kantor mencetak kalender yang mengingatkan pegawai pada beban kerja atau kampus mencetak kalender agar mahasiswa semakin giat belajar atau merampungkan skripsi. Bulan Desember 2016 saja belum berakhir, tapi orang-orang sudah membawa pulang gulungan kalender 2017 yang menegaskan bahwa Desember tetap saja duduk manis di halaman paling akhir.

Kalender telah membawa misi mengikat waktu. Menjaga Desember tetap aman di sana dan tidak lari kemana-mana. Sekalipun orang-orang sering tertipu atau sengaja menipu bahwa setiap hari membawa keberuntungannya masing-masing. Padahal, keberuntungan tidak hanya ada karena tanggal di kalender berwarna merah. Puluhan kalender datang dan pergi meski sulit mengisahkan apapun. Dengan sabar dibongkarnya tumpukan kalender itu, begitu kata Joko Pinurbo dalam puisi Penjual Kalender (2003). Ha! Berkas-berkas kalender itu sudah kosong,/ ribuan angka dan hurufnya lenyap semua. Dalam sekejap/ ribuan kunang-kunang berhamburan memenuhi ruangan.

Desember terlalu sering berarti kesimpulan yang membuat orang-orang melakukan bongkar pasang memori. Mereka sering membahasakannya dengan istilah evaluasi atau introspeksi. Betapa sabar orang-orang yang menantikan sebelas bulan untuk bisa berevaluasi. Menyimpulkan kebenaran dan kesalahan bukan untuk diri sendiri, tapi karena keterikatan pada atasan, lembaga, dan instansi. Desember masih juga tidak memberi kebebasan. Justru karena terjadwal dan terkalender, orang-orang merasa tertuntut tanpa harus keluar jalur.

Memang butuh kesabaran bertemu Desember, perlu melewati hari-hari di sebelas bulan yang panjang. Di Desember ada 31 hari yang beresiko pergi terlalu cepat. Sebelum mengucapkan selamat tinggal pada Desember, kita boleh mendengar lagu “Desember” lantunan Pandai Besi dengan pasrah. Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini/ Menanti seperti…/ Menanti seperti pelangi/ setia menunggu hujan reda […] Aku selalu suka sehabis hujan/ di bulan Desember, di bulan Desember/ Aku selalu suka sehabis hujan/ di bulan Desember, di bulan Desember. Tidak ada rumah untuk Desember, kita sering harus bergerak ke tempat-tempat lain demi kelelahan-kelelahan lain.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Setyaningsih

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Anak-Anak yang Belajar di Jalan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
img-content

Buku, Konferensi, dan Anak

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua