Dusta Sarpakanaka - Urban - www.indonesiana.id
x

Ketut Budiasa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Dusta Sarpakanaka

    Sarpakanaka Berdusta. Tapi jangan kira Rahwana tertipu. Tidak. Rahwana bertindak berdasarkan kepentingannya sendiri, meski dibungkus argume pembelaan.

    Dibaca : 4.184 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sarpakanaka adalah anak kedua Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Seperti kakaknya Rahwana yang lahir dari segumpal darah perlambang angkara murka, Sarpakanaka lahir dalam bentuk kuku, lambang nafsu yang mencengkeram. Ia tumbuh menjadi wanita jalang. Jangankan manusia, raksasa ia selingkuhi. Nafsunya menggelegar menguasai hidupnya.

    Suatu hari Sarpakanaka berjalan2 di hutan Dandaka. Disana, 2 kesatria Ayodya, Rama dan Laksmana sedang menjalani sumpah mereka menjauh dari kekuasaan. Sita, putri Mantili yang baru saja dipinang sebagai permaisuri oleh Rama, menyertai mereka. Sarpakanaka mengintip dari semak2. Ia kagum melihat kecantikan Sita. Tapi perhatiannya segera beralih ke arah seorang pria muda yg penuh wibawa. Dadanya berdegup kencang menyaksikan ketampanan pemuda itu, yang tak lain adalah Laksmana. Nafsunya membuncah, ia merasakan ada bagian tubuhnya yang menghangat. Tak tahan, Sarpakanaka segera mewedarkan ilmu silumannya. Tiba2 ia berganti rupa menjadi wanita secantik Sita. Seperti kembar mereka berdua.

    “Hai pria tampan, jamahlah aku. Tak tahan aku menikmati indahnya cinta bersama dirimu” katanya menghampiri Laksmana. Laksmana termenung, mata bathinnya yang suci menembus ilmu siluman Sarpakanaka. Ia tahu berhadapan dengan siapa. “Putri jelita, aku sudah bersumpah menjalani suklabrahmacari. Aku tak bisa memenuhi harapanmu, pergi dan carilah laki2 lain”, katanya sopan. Tapi nafsu Sarpakanaka sudah sampai di ubun2. Ia menyingkap kainnya dan siap menubruk Laksmana. Laksmana yang selalu waspada sudah siaga. Keris kecil ditangannya menyobek hidung Sarpakanaka yang membuat Sarpakanaka kembali ke wujudnya semula. Ia kabur ke Alengka dengan teriakan penuh nafsu bercampur amarah.

    “Kakanda Rahwana, kau harus pergi ke hutan Dandaka untuk menghukum seorang pria yang telah mencelakai adikmu”. Sarpakanaka bersungut2 didepan singgasana Kakaknya. Rahwana acuh, ia sudah hafal kelakuan adiknya. “Kakanda, taukah kamu, disana juga ada seorang wanita yang kecantikannya menyerupai Dewi Widowati? Aku melihatnya sendiri, mereka serupa, aku bahkan berfikir mereka kembar, atau mungkin titisan Dewi Widowati”. Sarpakanaka paham betul, kakaknya akan melakukan apapun untuk mendapatkan Dewi Widowati. Dahulu kala, Rahwana jatuh cinta dan memaksa seorang pertapa bernama Dewi Widowati. Sayang, sang dewi memilih menceburkan diri ke api sebelum Rahwana berhasil menjamahnya. Sejak itu, Rahwana selalu terkenang akan Dewi Widowati.

    Rahwana tersentak mendengar nama itu disebut2 oleh adiknya. Bayangan kecantikan Dewi Widowati langsung memenuhi sepuluh kepalanya. Ia tak peduli dengan luka di hidung Sarpakanaka. Tapi ia peduli dengan nafsu dan keinginannya sendiri. Maka ia menyiapkan semua senjata dan aji2 kesaktiannya, bersiap pergi ke hutan Dandaka. Ia rela melakukan apa saja, demi Dewi Widowati, cinta lamanya yang bersemi kembali. Dan begitulah, ia menjerumuskan kerajaan dan rakyatnya, Alengka, demi memuaskan nafsunya. Kelak, kota Alengka dibakar oleh Hanoman yang menjadi utusan Rama.

    Apakah Rahwana ke hutan Dandaka atas kebaikan hatinya membela Sarpakanaka ? Tidak. Apakah Rahwana tertipu oleh tangis Sarpakanaka ? Tidak juga. Rahwana hanya bertindak sesuai kepentingannya sendiri. Ia memanfaatkan informasi Sarpakanaka untuk mendapatkan Dewi Widowati yang diinginkannya sejak dulu, yang berkali2 gagal diraihnya.

    ****

    Sahabat, kadang manusia bertingkah seperti Sarpakanaka dan Rahwana itu. Mereka seolah2 pahlawan membela yg lemah, padahal itu hanya topeng mengejar kepentingannya. Sifat Sarpakanaka dan Rahwana sama seperti Thanos dalam pidato Jokowi. Sifat itu bisa menyerupai siapa saja. Ketika dusta Sarpakanaka terkuak, mereka akan cuci tangan beramai2, bahkan membangun narasi “Sarpakanaka memanfaatkan kebaikan kami. Kebaikan kami menjadi kelemahan kami”

    Jangan percaya !! Tak ada kebaikan yg menjadi kelemahan. Jangan menambah dosa, setelah berdusta kini menghina kebaikan. Weda jelas mengatakan “Dharma raksati raksitah”. Siapa yang menjalankan Dharma (kebenaran) maka ia akan dilindungi oleh Dharma. Dan perlindungan kebenaran adalah sebaik2nya perlindungan. Yang lemah, rapuh dan zalim adalah keinginan yang bertopeng kebaikan. Ya. Yang ini memang rapuh. Serapuh plastik, serapuh kardus.

    Ikuti tulisan menarik Ketut Budiasa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.