Politik Salat Jumat - Analisa - www.indonesiana.id
x

SYAHIRUL ALIM

Menulis, Mengajar dan Mengaji
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Politik Salat Jumat

    Dibaca : 271 kali

    Dalam momen-momen tertentu, Jumatan memang kerap dijadikan ajang politik, seperti soal adanya khotbah yang menggelorakan semangat massa dalam mengekspresikan sikap politiknya terhadap kekuasaan yang menyimpang dan otoriter. Dulu, di Iran, pelaksanaan salat Jumat mirip dengan salat Idul Fitri, digelar ditengah lapangan terbuka di lingkungan kampus Universitas Teheran. Muncul teriakan-teriakan sarkastik, seperti “marg bar Amrika” atau “marg bar Isroil” yang kurang lebih menyuarakan kekesalan pada negara Amerika dan Israel. Namun, salat Jumat di Iran ini tak perlu dipasangi pamflet pemberitahuan yang dipasang di jalan-jalan, agar umat muslim sekitar mengikuti salat, karena di Iran salat Jumat tidaklah wajib sebab yang wajib hanyalah salat dzuhur.

    Banyak momen salat Jumat yang menjadi sesak karena semangat politik didalamnya, entah itu karena keinginan bersama dalam berdoa agar terpenuhi rasa keadilan dari para penguasa despotis, seperti yang pernah terjadi di Mesir dimana ketika pergerakan Ikhwanul Muslimin salah satu kelompok oposisi dibawah kendali Sayyid Quthb juga pernah berada dalam kondisi yang sama, menggunakan salat Jumat bagi momen kepentingan politik. Mungkin masih banyak lagi fenomena yang menggambarkan bahwa Jumatan kerap dimanfaatkan bagi kepentingan politik, baik dalam rangka mengkritik, mendesak pergantian kekuasaan, hingga pada tahap paling ekstrim, yaitu menggerakan makar.

    Melihat sisi politik dari salat Jumat ini memang selalu menarik, bukan saja karena realitasnya yang kontroversial karena ada yang membolehkan dan melarang, namun disisi lain lebih didorong oleh kenyataan sulitnya mempersepsikan secara seragam apa yang dimaksud “politik” dan bagaimana Jumatan dianggap ibadah yang “dipolitisasi” pada akhirnya. Politik dalam pandangan paling netral, tak melulu terkait dengan kekuasaan formal, karena mungkin saja politik dimanfaatkan untuk penyebaran semangat atau ide-ide tertentu yang menggelorakan semangat masyarakat untuk lebih banyak mendahulukan ilmu pengetahuan daripada soal perebutan kekuasaan.

    Hal ini pernah dilakukan Nabi Muhammad, ketika pertama kalinya beliau menginjakkan kaki di Madinah sewaktu hijrah. Kedatangan Nabi ke Madinah bahkan sudah tersebar sekalipun tanpa pamflet atau spanduk yang dipasang di pinggir-pinggir jalan. Masyarakat Madinah yang egaliter, justru sangat penasaran dengan sosok Nabi yang tersiar melalui kabar verbal sebagai seorang pemimpin lintas suku yang sukses membentuk “suku super” yang semakin banyak pengikutnya. Tiba di hari Jumat di Madinah, lalu Nabi berkhutbah dimana dalam salah satu baitnya beliau mengatakan, “Wahai umat manusia, dahulukanlah ilmu pengetahuan dari hartamu, sebab kelak kalian akan dikumpulkan seperti segerombolan ternak yang tanpa penggembalanya. Kalian akan ditanya nanti oleh Tuhanmu satu persatu. Maka berbuat baiklah, sekalipun kalian hanya memberikan sepotong kurma dan jika kalian tidak mampu, cukuplah dengan berkata baik, sebab kebaikan itu akan dibalas dengan kebaikan berlipat-lipat, bahkan hingga sampai 700 kali lipatnya”.

    Dalam konteks Jumatan Nabi di Madinah ini, jelas berkonotasi politik dimana setiap orang disadarkan akan keberadaan dirinya untuk lebih dekat kepada ilmu, mendahulukan pengetahuan dan kebaikan, dan ikuti mereka yang memiliki pengetahuan agar tak tersesat seperti domba-domba yang tanpa penggembalanya. Nabi menggelorakan semangat pengetahuan yang dikala itu, mungkin hampir tak ditemukan seseorang berkhutbah dengan cara demikian. Mengajak kepada kebaikan dalam banyak hal, termasuk bagian dari “politisasi” yang memaksa alam bawah sadar manusia untuk berpolitik, meningkatkan perbuatan baik dan mendahulukan kegiatan keilmuan yang dapat lebih membuka wawasan.

    Denga demikian, politik semestinya dikonotasikan secara baik dan seragam, sebagai bagian dari upaya penyadaran masyarakat akan hak-hak mereka, kepentingan-kepentingannya, termasuk kesempatan mereka yang luas untuk berbuat baik dan beramal melalui ilmu pengetahuan. Sedangkan, politik-kekuasaan tentu saja identik dengan keuntungan materi yang bersifat keduniaan, sebab yang diperoleh setiap orang hanyalah jabatan, kemewahan, kehormatan, dan tentu saja pendapatan materi yang dramatis bahkan fantastis. Lalu, jika ada momen salat Jumat yang “dipolitisasi” seperti zaman Nabi, masihkah itu menjadi kontroversi?

    Dalam konteks kekinian, terlebih ditengah sublimasi tahun politik, sensitifitas masyarakat soal politik tentu saja menguat. Bahkan, hal ini bukan tidak mungkin didorong oleh kecenderungan yang teramat rumit terhadap ragam pilihan politik yang dikotomis. Ada hal-hal yang teramat sulit untuk dilakukan, karena dalam konteks apapun selalu saja dihubungkan dengan sikap kecondongan terhadap pilihan politik tertentu. Pemberitaan yang ramai menyoal capres Prabowo Subianto yang akan salat Jumat di Masjid Kauman, tentu saja menyedot perhatian publik karena sudah tentu akan ada muatan-muatan politik didalamnya, namun apakah itu terbukti? Kita memang terlampau sensitif, bahkan saking sensitifnya dugaan-dugaan dan asumsi-asumsi sudah lebih dulu menjadi pembenaran secara liar, seolah kita ini terjerat dalam situasi “post-truth” yang menggelikan.

    Jumatan politik seolah menjadi diksi yang menakutkan bagi sebagian pihak, dimana seolah-olah nilai kesakralan salat akan tergusur oleh kedatangan seseorang yang notabene pemimpin politik. Padahal, sudah sejak dulu para politisi juga salat Jumat di daerah konstituennya lalu dengan secara sadar memberikan pengaruh politik atau paling tidak menunjukkan dalam suasana politik yang tidak lagi sakral dalam suasana Jumat dengan menunjukkan dirinya adalah muslim yang baik. Jumatan dijadikan ajang peningkatan citra diri yang ekslusif bahkan mungkin saja sebelumnya telah ada spanduk atau pamflet yang mengumumkan bahwa masjid ini akan dihadiri oleh seorang caleg yang akan memperjuangkan nasib rakyat di daerahnya.

    Bagi saya, politisasi itu tak selalu dinilai buruk, terlebih ketika melihat pada realitas sejarah ketika Nabi Muhammad berkhutbah pada salat Jumat pertama kalinya di Madinah. Banyak diksi kepolitikan yang dikutip dalam serangkaian hadis yang tersebar soal pidato Nabi ini, namun tak ada yang menyangkal bahwa itu merupakan bagian dari “politisasi” Nabi untuk membentuk dan menciptakan umat yang lebih mementingkan akhirat daripada dunia. Sekalipun saya termasuk yang tidak menyetujui jika Jumatan menjadi ajang ujaran kebencian dan pemanfaatan untuk mobilisasi kritik terhadap kekuasaan, namun soal Jumatan salah satu capres yang sedianya akan dilakukan di Semarang, jangan terlampau dilebih-lebihkan, apalagi dinilai sebagai kampanye politik.

    Hari Jumat merupakan hari suci bagi umat Islam, karena selain hari terakhir dalam kurun satu minggu dimana seluruh catatan amal setiap orang disetorkan para malaikat kepada Tuhan, Jumat merupakan hari yang diyakini umat Islam sebagai hari paling sakral, karena prediksi soal kiamat yang jatuh di hari Jumat tak terbantahkan. Bagi mereka yang meyakini soal kesakralan hari Jumat, maka sudah semestinya dijadikan momen terbaik untuk saling mengingatkan satu sama lainnya soal ketakwaan, sebab satu-satunya entitas yang terkumpul didalamnya seluruh kebaikan hanyalah takwa. Tak ada perbedaan dalam seluruh manusia, baik jabatan, kedudukan, kekayaan, status sosial, capres, politisi, atau apapun, kecuali hanya takwa yang memiliki nilai tertinggi dihadapan Tuhan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: iin anggryani

    3 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 556 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin