Inikah Rekor DPR 2014-2019, Ngebut Bahas RUU dan Berhasil Lemahkan KPK? - Viral - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi rapat di DPR. TEMPO/Fakhri Hermansyah

tuluswijanarko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 1 Oktober 2019 12:22 WIB

  • Viral
  • Topik Utama
  • Inikah Rekor DPR 2014-2019, Ngebut Bahas RUU dan Berhasil Lemahkan KPK?

    Pencapaian legislasi DPR 2014-2019 jelas lebih rendah diabanding pencapaian legislasi DPR periode sebelumnya yang berhasil mengesahkan 125 RUU.

    Dibaca : 3.216 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Baru beberapa saat lalu 575 wakil rakyat dilantik sebagai anggota DPR RI periode 2019-2024. Pelantikan itu digelar di Ruang Paripurna I, Gedung Kura-kura, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

    Sekjen DPR Indra Iskandar membacakan Keputusan Presiden tentang peresmian keanggotaan DPR RI. Sedanhkan pengucapan sumpah/janji sebagai anggota DPR dipandu Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali.

    “Bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945...,” demikian, antara lain, bunyi sumpah tersebut.

    “Bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh-sungguh, demi tegaknya kehidupan demokrasi serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi, seseorang, dan golongan. Bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” demikian kelengkapan sumpah tersebut

    Apakah mereka bisa memenuhi sumpah itu atau mengkhianatinya baru bisa kita lihat lima tahun lagi, yakni usai masa jabatan mereka selesai kelak. Tentu semua berharap mereka dapat bekerja sungguh-sungguh menjalankan kewajibannya.

    Namun saat ini kita bisa melihat bagaimana prestasi para pendahulu mereka, yakni DPR periode 2014-2019, yang berkahir masa jabatnnya pada 30 September kemarin?

    Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengatakan selama lima tahun ini DPR telah menghasilkan 91 Rancangan Undang-undang (RUU). "Yang terdiri atas 36 RUU dari daftar Prolegnas 2015-2019 dan 55 RUU Kumulatif Terbuka," kata dia saat menyampaikan pidato penutupan masa bakti anggota DPR RI Periode 2014-2019 di Kompleks Parlemen, Senayan pada Senin, 30 September 2019.

    Benarkah angka yang disebut Bambang Soesatyo itu? Ternyata Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) punya data berbeda. Menurut Formappi pencapaian legislasi DPR RI 2014-2019 hanya mengesahkan 84 Rancangan Undang-Undang (RUU) dengan komposisi 49 kumulatif terbuka dan 35 program legislasi nasional (Prolegnas).

    Mana pun angka yang benar, jelas itu lebih rendah dibanding pencapaian legislasi DPR periode sebelumnya. Pada periode sebelumnya, DPR mengesahkan 125 RUU dengan komposisi 56 RUU kumulatif terbuka dan 69 RUU dalam Prolegnas. Selain itu terdapat empat RUU tambahan Prolegnas yang tidak terencana serta dikebut pada penghujung masa jabatan DPR.

    Melihat angka tersebut, wajar saja untuk menyebut bahwa prestasi DPR 2014-2019 lebih buruk ketimbang periode sebelumnya. "Rapornya merah," ujar Peneliti Formappi, Lucius Karus, Senin, 30 September 2019.

    Jangan lupa DPR periode 2014-2019 akan tercatat dalam sejarah sebagai parlemen yang "berhasil" melemahkan KPK lewat revisi undang-undang lembaga antikorupsi ini. Upaya merevisi UU KPK bahkan sudah terjadi pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tapi baru sekarang "sukses  gilang gemilang".

    Baca juga:
    Soal Perpu KPK: Jokowi Tersandera Sikap PDIP, Manuver PKS Keren



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.079 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.