Malam Terakhir - Kumpulan Cerpen Leila S. Chudori Setelah Pulang dari Amerika - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Malam Terakhir

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 11 Februari 2020 09:18 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Malam Terakhir - Kumpulan Cerpen Leila S. Chudori Setelah Pulang dari Amerika

    Dibaca : 326 kali

    Judul: Malam Terakhir

    Penulis: Leila S. Chudori

    Tahun Terbit: 1989

    Penerbit: Grafiti Press                                                                                            

    Tebal: xii + 208

    ISBN: 979-444-078-7

     

    Buku kumpulan cerpen Leila S. Chudori (Leila) ini ditulis saat Leila pulang dari Amerika. Itulah sebabnya terlihat sekali warna gagasan-gagasan barat dalam cerpen-cerpen tersebut. Gagasan tentang kebebasan, tentang keberanian untuk mempertanyakan budaya-budaya lama dan kekaguman atas keteraturan dan kebencian terhadap kecurangan. Leila adalah seorang pencerita yang piawai. Kekagumannya terhadap budaya barat ini dicurahkan melalui kisah-kisah yang menarik. Cerpen berjudul “Pulang Dari Amerika” bisa menggambarkan bagaimana perasaan Leila ketika kembali ke negerinya. Penuh kejijikan!

    Di Kata Pengantar H.B Yasin memujinya karena cerita-cerita tersebut memiliki estetika yang sangat tinggi. Menurut Yasin, di tangan Leila cerita tentang kejujuran, keyakinan dan tekad, prinsip dan pengorbanan dituangkan dalam bahasa yang intelektual sekaligus puitis. Leila menggunakan idiom dan metafora baru. Misalnya tentang karbol sebagai pembersih WC yang dijadikan metafora untuk menunjukkan betapa kotornya negeri Indonesia.

    Leila banyak menggunakan dua cerita setema yang dituangkan dalam cerpen-cerpennya. Seperti misalnya dalam cerita “Air Suci Sita” dengan kisah sepasang kekasih yang terpisah jarak. Sang perempuan yang berada di negara bebas – Amerika, harus menghadapi tuduhan ketidak-sucian. Padahal bisa saja sang lelaki yang berada di Indonesia juga berkesempatan berselingkuh. Bukankah lelaki lebih tidak tahan godaan dalam hal seks? Cerpen “Otonobee dan Ciliwung” juga memakai dua kisah paralel, yaitu orangtua yang sedang menunggu kedatangan anaknya yang pergi jauh.

    Saya tertarik untuk melihat kumpulan cerpen ini dari seorang yang melihat negerinya dengan kacamata baru. Leila S. Chudori yang baru pulang dari Amerika mengalami keterkejutan dengan kondisi negerinya. Korupsi yang meraja lela dituangkan dalam cerpen berjudul “Sebuah Buku Merah dan Karbol.” Cerpen pertama ini mengisahkan tentang bagaimana Marwan, seorang redaktur terpaksan harus mengorbankan profesi dan usahanya untuk membongkar kejahatan korupsi.

    Leila menyoroti sikap kepura-puraan yang begitu marak di budaya Indonesia. Pada cerpen kedua berjudul “Pasien Dokter Gigi Yos” mengisahkan bagaimana seseorang harus mengatakan sesuatu yang pahit dengan manis. Seseorang harus menerima saja apa yang dikatakan oleh mereka yang mempunyai otoritas jika ingin sembuh. Sikap tidak jujur membawa kita hidup normal dalam situasi negara yang abnormal. Dalam cerpen berjudul “TK” Leila begitu garang mengungkap sikap kepura-puraan.

    Leila juga menggugat posisi perempuan dalam masyarakat. Dengan meminjam kisah Sita dan Rama, Leila menggugat mengapa perempuan yang sudah menjadi korban tetap saja harus membuktikan kesuciannya? Cerpen “Ilona” menggambarkan bagaimana seharusnya perempuan bertanggung-jawab terhadap hidupnya sendiri. Perempuan seharusnya tidak takut dengan nilai-nilai sosial yang mengekangnya. Ilona berani untuk punya anak tanpa menikah.

    Pandangan Leila tentang kebebasan terlihat sekali sangat dipengaruhi oleh padangan Barat. Dalam cerpen berjudul “Sehelai Pakaian Hitam,” tokoh Salikha digambarkan sangat memuja kebebasan dan tidak takut menunjukkan kekebasannya di depan umum. Cerpen ini juga menggugat tokoh Hamdani, seorang yang memuja kebebasan tetapi karena posisinya sebagai tokoh agama membuatnya tak berani menunjukkan kebebasan yang dipujanya di depan publik. Dalam cerpen “Keats” tokoh Tami memilih prinsip sebagai landasan mengambil keputusan apakah ia akan menikah dengan Hidayat atau tidak, daripada pertimbangan kepatutan tradisi (pilihan terbaik dari keluarga).

    Demikian juga dengan yang dituliskannya di cerpen “Ilona.” Ilina gadis yang cerdas, mempunyai curiosity yang luar biasa memilih untuk punya anak tanpa menikah. Dalam cerpen ini Leila memilih tokoh gadis bule. Bukan tokoh gadis Indonesia. Mungkin Leila masih mempertimbangkan reaksi pembaca jika ia memakai tokoh perempuan Indonesia yang memaknai kebebasan seperti yang dilakukan oleh Ilona.

    Dua cerpen terakhir Leila membahas tentang tema seks. Seks adalah tema tabu bagi masyarakat Indonesia. Tabu untuk didiskusikan di ruang publik dan dalam keluarga sekalipun. Cerpen “Adila” dan “Malam Terakhir” mendiskusikan tentang maturbasi dan orgasma secara terbuka.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 449 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin