Orang Jawa Naik Haji - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Orang Jawa Naik Haji

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 7 April 2020 12:49 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Orang Jawa Naik Haji

    Dibaca : 2.193 kali

    Judul: Orang Jawa Naik Haji

    Penulis: Danarto

    Tahun Terbit: 1984

    Penerbit: Grafiti Press                                                                                            

    Tebal: xi + 79 + halaman foto

    ISBN:

     

    Bagaimana seorang Jawa menghayati agamanya? Apakah mereka kemudian luluh dan meninggalkan spiritualitas Jawa yang selama ini sudah merasuki kalbunya? Atau mereka mencari harmoni antara ritual yang ketat dari agama yang dianutnya dengan keyakinan spiritual yang sudah ada? Saya mendapatkan beberapa jawaban setelah membaca buku “Orang Jawa Naik Haji” karya Danarto ini.

    Danarto adaah seorang seniman serbabisa kelahiran Sragen. Ia adalah pelukis, penulis cerpen, penulis drama, penata artistik pertunjukan, sutradara pertunjukan drama dan seorang cendekiawan tentu saja. Danarto adalah orang Jawa sekaligus seorang Islam yang lahir di Sragen. Seperti pengakuannya, Danarto bukan seorang Islam yang sangat paham tentang detail-detail ajaran Islam. Tetapi keyakinannya kepada Islam sebagai agama yang membawanya kepada Sang Khalik tak perlu diragukan. Itulah sebabnya untuk mengisi bolong-bolong pengetahuannya tentang Islam, Danarto menggunakan pemahaman Jawa-nya untuk beribadah.

    Danarto melaksanakan ibadah haji secara ifrad, yaitu berhaji tanpa melakukan umrah terlebih dahulu. Ibadah haji dengan cara ifrad adalah meneladani Nabi. Tetapi tentu saja syarat-syaratnya lebih berat dibanding jika ia melakukan umrah terlebih dahulu.

    Saat ia tidak paham doa-doa yang harus dilantunkan saat berada di Tanah Suci, saat menunaikan panggilan Ilahi, ia menggunakan Doa Sapu Jagat, yaitu doa yang dianggapnya bisa mewakili keinginan hakiki. Doa tersebut adalah sebagai beriku: “Ya Allah, berilah kami di dunia dan di akhirat kebaikan dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka.” Danarto yakin bahwa doa tersebut sudah cukup untuk membuat perjalanan hajinya sah dan diterima oleh Allah.

    Danarto sungguh sangat ingin perjalanan hajinya adalah perjalanan bertemu Allah. Perjalanan pribadi yang tak diganggu oleh keinginan-keinginan lainnya. Namun ia juga membekali diri bahwa banyak rintangan yang akan dihadapi yang sengaja dilakukan oleh para malaikat. Ganguan tersebut adalah dilakukan secara sengaja untuk menguji perjalanan haji seseorang supaya benar-benar fokus kepada Sang Khalik. Untuk menghadapi gangguang yang disengaja oleh para malaikat itu ia berbekal nasihat dari tetangganya, yaitu “Tutup Mata Tutup Telinga.” Dengan cara tutup mata dan tutup telinga maka dia berharap bisa menghindari segala godaan dan rintangan yang dihadapinya.

    Namun godaan itu ternyata sudah dimulai sejak berada di dalam pesawat. Bersama dengan 500 calon Jemaah yang rata-rata belum pernah naik pesawat, membuatnya tak tahan untuk tidak mengomentari perilaku para calon Jemaah tersebut. Godaan kedua adalah saat ia tiba di Madinah. Ternyata pelayanan haji yang dia bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan. Danarto harus hidup berdesak-desakan dalam kamar yang sangat sempit untuk bisa menunaikan pemenuhan shalat 40 waktu. Kamar yang sangat sempit, WC yang jumlahnya terbatas, suhu yang sangat panas adalah godaan yang harus dihadapi disaat seharusnya ia khusuk melaksanakan kewajiban shalat 40 waktu. Demikian pun saat ia menunaikan shalat di Masjid Nabawi. Supaya bisa shalat di dekat makam Nabi, ia harus bertengkar dengan jemaat lain yang menginginkan tempat yang sama. Belum lagi banyaknya copet yang memanfaatkan kondisi berdesak-desakan. Belum lagi praktik pemalakan yang dilakukan kepada para Jemaah tersebut oleh orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung para calon haji ini.

    Apakah Danarto berhasil melaksanakan shalat 40 waktu saat di Madinah? Alhamdullilah ternyata beliau berhasil mengatasi segala godaan yang bisa merintangi ibadahnya tersebut. Lulus.

    Keinginan utama Danarto adalah kembali kepada Sang Khalik saat berada di Masjidil Haram. Keinginan kembali kepada Yang Baka itu tentu menjadi keinginan banyak manusia yang menunaikan ibadah haji. Alangkah bahagianya jika Allah mengambil dia saat berada di puncak ibadah. Segala sesuatu menjadi tiada gunanya dibanding dengan menyatu dengan Allah. Maka Danarto pun berdoa sambil berurai air mata supaya Allah memanggilnya: “Ya Allah, matikanlah Hamba.” Ia iri dengan jemaat haji yang meninggal di Mekkah.

    Ibadah di padang Arafah dan kemudian ke Mina adalah perjalanan ibadah yang sangat berat. Sebab mereka harus berdesak-desakan dengan Jemaah dari negara lain, naik bus selama 14 jam dan menghadapi tempat yang jorok. Namun sekali lagi Danarto berhasil menghadapi itu semua. Maka tunailah ibadah haji yang dilakukannya.

    Ia menutup catatannya dengan kalimat: “Mina yang jorok, kami yang jorok, tapi jangan ragukan cinta kami, ya Allah. Puji syukur kepada-Mu. Ya Allah, semoga Engkau berkenan menerima ibadat haji hamba.” Dan saya yakin Allah pun tersenyum menerima ibadah Danarto yang dilakukan sebagian dengan cara Arab dan sebagian dengan cara Jawa tersebut. Allah Maha Pengasih.

     

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.