Anak Perlu Pengalaman "Gila", agar Mandiri Setelah Dewasa - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Anak-anak bersepeda melintasi jalan yang terendam banjir di Banjarsari, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa 14 April 2020. Hujan deras serta meluapnya sejumlah saluran dan sungai menyebabkan puluhan desa di empat kecamatan di daerah itu terendam banjir. ANTARA FOTO/Siswowidodo

syarifah lestari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 April 2020

Selasa, 21 April 2020 06:03 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Anak Perlu Pengalaman "Gila", agar Mandiri Setelah Dewasa

    Pengalaman anak di masa kecil punya efek besar ketika dewasa. Anak yang selalu dilayani di masa keci, tak punya pengalaman “menantang”, cenderung cari aman hingga dewasa. Kelak, ketika menua, dsn tak ada abang atau orang tua yang menjaga lagi, siapa yang akan melayaninya?

    Dibaca : 1.535 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Anak-anak protes saat melihat emaknya bermain game balap motor. “Ummi kan perempuan, masak main kebut-kebutan gitu!”

    Ternyata sebagai generasi alfa, mereka lumayan ketinggalan zaman.

    Aku bukan perempuan yang sibuk minta disamakan dengan laki-laki, meski dulu sekali suami sering menyebutku feminis. Entah belakangan aku lebih kalem atau dia yang akhirnya insaf, sekarang tak pernah lagi ucapan itu keluar dari lisannya.

    Waktu si sulung masih kecil, psikolog menyarankanku mengurangi memberinya makanan merah dan barang-barang berwarna merah cerah. Alasannya, daging merah dan warna merah cerah yang melekat padanya (baju, mainan, dll) bisa meningkatkan gairahnya untuk terus bergerak.

    Anakku superaktif, tapi tidak masuk pada level hiper. Sebenarnya hanya sedikit lebih aktif dari anak lain, tapi aku khawatir mengingat tubuhnya yang waktu itu mungil sekali. Sulit diberi makan, dari yang berat sampai sekadar camilan.

    Cemas tak imbang antara nutrisi yang masuk dengan energi yang keluar. Dan memang juga berbahaya bagi jantung, jika tak terpenuhi waktu istirahatnya. Apalagi balita membutuhkan waktu istirahat jauh lebih banyak dari orang dewasa.

    Dari warna merah untuk keinginan terus aktif, sampailah kami pada diskusi mengenai warna dan mainan anak. Lewat panjang lebar penjelasan psikolog, kusadari cara mainku semasa kecil dulu ternyata sudah tepat.

    Aku sempat bermain boneka. Hanya satu yang kupunya, bahannya plastik. Dari reliefnya, boneka itu dicirikan pakai rok dan bersepatu. Setiap hari boneka yang sekujur tubuhnya berwarna merah itu tersenyum, dengan bentuk tubuh kaku.

    Selanjutnya: Jejak pengalaman masa kecil saat dewasa

    Ikuti tulisan menarik syarifah lestari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.