Menapaki Jejak Historis Makam Kyai Raden Santri, Perjalanan Spiritual dan Wisata Religi - Travel - www.indonesiana.id
x

Sepanjang jalan menuju makam kyai raden santri yang di padati dengan aneka macam toko oleh-oleh

Fahrizal Leo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Mei 2020

Jumat, 22 Mei 2020 05:57 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Menapaki Jejak Historis Makam Kyai Raden Santri, Perjalanan Spiritual dan Wisata Religi

    Dibaca : 1.668 kali

    Memang tidak dapat dipungkiri jumlah tempat wisata religi di Indonesia sangat banyak dan akan terus bertambah, mengingat sifat dan karakter dasar masyarakat Indonesia yang memiliki tingkat ke-religiusitas yang tinggi. Tak terkecuali di daerah Magelang.

    Magelang bisa dibilang sebagai surganya objek wisata religi karena saking banyaknya dan memang, terdapat banyak sekali peningalan-peninggalan kerajaan zaman terdahulu seperti candi-candi, tempat ibadah, pentirtaan (sumber air, sendang, umbul), dan sejumlah tempat yang diyakini masyarakat memiliki kekuatan spiritual dan dikeramatkan.

    Seperti yang terdapat di daerah Gunungpring, sisi barat dari kota Muntilan. Sebuah makam yang berdiri diatas ketinggian 400mdpl, adalah sebuah makam dari Kyai Raden Santri. Beliau adalah putra dari Ki Ageng pemanahan dan bergelar sebagai pangeran Singasari dan masih ada trah  atau keturunan dari raja kerajaan Majapahit terkahir, yakni Prabu Brawijaya V.

    Sosok Kyai Raden Santri begitu terkenal di kalangan masyarakat Magelang, Kedu, dan sekitarnya karena telah berjasa menyebarkan agama islam di daerah daerah sekawan keblat pancer nya gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan deretan Pegunungan Menoreh di sepanjang kali Progo.

    Menurut catatan sejarah, Kyai Raden Santri dilahirkan di Pajang, dan mulai berdakwah sebagi ulama sejak menjelangnya kerajaan mataram Islam berdiri, dan setelah resmi kokoh menjadi perdikan. Beliau diangkat sebagai Senapati Perang oleh kakakanya Panembahan Senapati sebagai pengajar shalat untuk prajurit perangnya dan menjaga keamanan Mataram dari sebelah utara.

    Beberapa mitos tentang kesaktian beliau juga santer terdengar, seperti kisah tentang murid-murid Kyai Raden Santri yang hendak shalat namun disitu tidak terdapat sebuah air untuk berwudhu, kemudian dengan tongkatnya seraya berdoa kepada Allah, tempat tersebut menjadi sebuah sendang  atau kolam yang memancurkan banyak air dan hingga kini sendang tersebut tidak berhenti mengalirkan air. Petilasan itu kini dinamai sebagai Sendang Manis yang terletak di dusun Kolokendang, desa Ngawen, sebelah utara dari Makam beliau.

    Mitos yang lain adalah tentang sejarah munculnya desa Watucongol yang berada di kawasan desa Gunungpring. Konon setelah Kyai Raden Santri berkhalawat atau menyepi di atas puncak bukit Gunungpring dan hendak meneruskan perjalanan pulang, ia mendapati sungai yang harus ia sebrangi sedang meluap dan dilanda banjir.

    Kyai Raden Santri pun berkata, “Wahai air, berhentilah, aku akan menyebrang.” Maka dengan seketika air itu berhenti mengalir, dan setelah banjirnya mereda, terdapat banyak batu-batu sungai yang bermunculan kembali. Maka, itulah sebabnya daerah tersebut dinamai sebagai watu congol  atau yang memiliki arti ‘batu yang bermunculan’.

    Berdasarkan cerita-cerita sejarah beserta berkat jasa sang Kyai, hingga kini makam beliau ramai dikunjungi sebagai tempat ziarah. Bahkan jika memasuki bulan sura atau muharram, makam ini bisa dikunjungi beribu-ribu peziarah yang datang dari berbagai daerah seperti Gresik, Sidoarjo, Banjarnegara, Surabaya, lampung, dan masih banyak lagi.

    Hal tersebut berdampak langsung kepada warga sekitar yang jadi membuka sejumlah penginapan murah serta berderet warung-warung makan dan toko pernak-pernik khas desa. Dan akhir tahun ini, pemerintah desa telah membangun sejumlah pendopo dan memperluas tempat parker karena biasanya peziarah datang berombongan menggunakan bis-bis besar dan jumlahnya tidak sedikit.

    Hal menarik juga dapat disaksikan pada tangal 1 Muharam, dimana terdapat sebuah acara Khaul Kyai Raden Santri di depan rumah Gus Jogorekso, yaitu memperingati hari kematian beliau (khaul) dengan pembacaan Al-Qur’an. Tahlil, kirab budaya, dan diakhiri pengajian oleh ulama dan kyai. Secara administratif, Makam Kyai Raden Santri  merupakan milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibawah Reh  Kawedanan Hageng Sriwandowo bagian Puroloyo.

    Maka dari itu, kirab budaya dilakukan oleh para abdi dalem keraton dengan deretan barisan pembawa tumpeng dan rangkaian hasil tani sebagai simbol wujud rasa syukur dengan rute melewati jalan pemuda Muntilan dan berkahir menuju makam. Biasanya rangkaian acara karnaval ini juga dimeriahkan oleh masyarakat sekitar yang ikut mengiring menggunakan delman dan berdandan seperti halnya ulama atau seorang wali. Rangkaian acara ditutup dengan bancaan atau makan bersama-sama.

               

               


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 249 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.