Penyempurnaan Kurikulum Filanesia dalam Sepak Bola Akar Rumput Segera Disentuh - Analisa - www.indonesiana.id
x

supartono jw

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 23 Juni 2020 07:48 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Penyempurnaan Kurikulum Filanesia dalam Sepak Bola Akar Rumput Segera Disentuh

    Dibaca : 508 kali

    Di tengah polemik antara Shin Tae-yong (STY) dengan PSSI, yang terus menjadi bahan gorengan media nasional, dan menyeret Indra Sjafri dalam perang statement, semoga Ketua Umum PSSI akan segera dapat menyelesaikan masalah dengan tegas, tepat, dan bijak, karena sejak awal memang bisa jadi ada masalah yang belum terklarifikasi dan terkomunikasikan.

    Namun, jujur dalam hal ini saya melihat, mengapa media nasional begitu sangat berkepentingan dalam mengapungkan polemik ini? Ada apa hayoo?

    Revisi Kurikulum Filanesia dan Afiliasi SSB

    Di luar persoalan polemik dengan STY ini yang menjadi bias karena persoalan sudah di ranah media, ada hal lain yang sejatinya sudah sangat fokus untuk dikerjakan oleh Indra Sjafri sebagai Direktur Teknik PSSI sebelum persoalan STY muncuat.

    Jadi, baiknya saya membahas masalah positif yang memang sangat dinanti oleh sepak bola nasional dari akar rumput sampai timnas. Jauh sebelum konflik dengan STY, sebagai Dirtek PSSI, Indra sudah merencanakan akan segera menyentuh sepak bola akar rumput dengan lanjutan Program Afiliasi SSB dan Program Satu Pintunya, agar fungsi, keorganisasian, kedudukan, hingga pembinaan, pelatihan, dan kompetisi SSB benar-benar sesuai arah dan tujuan yang benar dari federasi bernama PSSI.

    Sebab, bila sekolah formal ada dibawah kendali Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, maka SSB sebagai sekolah non-formal dalam cabang sepak bola, harus ada dalam kendali PSSI.

    Nah, sebelum program afiliasi dan satu pintu digulirkan, mengingat tugas Direktur Teknik PSSI yang cukup banyak, terlebih semua timnas juga sangat membutuhkan perhatian serius, maka sambil seiring sejalan, Indra Sjafri akan melakukan revisi dan penyempurnaan Kurikulum Filanesia terlebih dahulu.

    Dalam diskusi melalui jaringan telepon dengan saya, Sabtu (20/6/2020), Indra telah cukup menerima masukan dan apa saja langkah-langkah dalam merevisi dan menyempurnakan Kurikulum Filanesia tersebut.

    Di antara langkah tersebut, tentunya nanti akan melibatkan berbagai pihak dan stakeholder terkait, terutama adanya tim ahli kurikulum yang akan turut dilibatkan, selain para instruktur kepelatihan dan para pelatih/pemain nasional yang sudah memiliki pengalaman selama ini.

    Danurwindo Bapak Filanesia

    Sebagai catatan, untuk pertama kali dalam sejarah, sejak PSSI berdiri 19 April 1930, sepak bola nasional akhirnya memiliki acuan Kurikulum yang didalangi oleh Danurwindo, dan sebutannya adalah Kurikulum Filanesia.

    Kurikulum tersebut diluncurkan oleh PSSI pada Kamis (9/11/2017). Di dalam buku tersebut ada panduan cara bermain khas yang dipopulerkan dengan nama Filosofi Sepakbola Indonesia (Filanesia). Sehingga buku tersebut disebut Kurikulum Filanesia (KF).

    Meski setelah saya analisis, ternyata KF, belum memenuhi standar bila disebut sebagai Kurikulum, dan hal ini juga sudah saya sampaikan langsung kepada Danurwindo dalam beberapa kesempatan, baik dalam obrolan langsung maupun melalui pesan dan sambungan telepon, namun bila bukan karena Danurwindo, maka saya menjamin, belum akan lahir KF dari PSSI dan dalam sejarah sepak bola nasional.

    Bayangkan, untuk pendidikan formal saja, setelah puluhan kali menjabat para Mendibud di Indonesia, sudah puluhan pula lahir Kurikulum Pendidikan Indonesia. Namun, meski sebagai Lembaga Non-Formal, PSSI yang memiliki tanggungjawab terhadap pembinaan sepak bola nasional mulai dari akar rumput (usia dini dan muda) hingga level senior, bahkan usianya lebih tua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), baru melahirkan Kurikulum setelah PSSI berusia, 87 tahun.

    Bila bukan Danurwindo yang memulai, maka yakin KF belum lahir. Karenanya sangat layak bila saya menyebut Danurwindo adalah Bapak Filanesia.

    Menyadari bahwa KF masih banyak kekurangan dan apalagi setelah saya memberi masukan bahwa KF belum memenuhi syarat standar sebagai sebuah kurikulum, maka dalam rangka menyempurnakan KF, dua tahun kemudian, Danurwindo (PSSI) menggelar pertemuan dengan semua pelatih Timnas Indonesia di Kantor PSSI, Senin (29/4/2019).

    Dalam pertemuan tersebut dihadirkan lima pelatih timnas, yakni Simon McMenemy (senior), Indra Sjafri (U-23), Fakhri Husaini (U-18), Bima Sakti (U-16), dan Rully Nere (putri).

    Saat itu, pertemuan dipimpin langsung oleh Sekjen PSSI, Ratu Tisha dan persoalan Kurikulum dipandu langsung oleh Direktur teknik PSSI, Danurwindo dalam rangka penyempurnaan KF.

    Setelah pertemuan tersebut, ternyata, hingga detik ini, belum terbit KF hasil penyempurnaan.

    Oleh karena itu, ketika kini estafet Dirtek PSSI diemban oleh Indra Sjafri, maka penyempurnaan KF pun akan segera dilanjutkan.

    Perlu diketahui, bahwa KF yang kini sudah diterbitkan dalam wujud sebuah buku kurikulum, akan menjadi sempurna bila di dalamnya terpenuhi prasyarat standar sebuah Kurikulum.

    KF belum memenuhi komponen kurikulum

    Di dalam KF, ternyata belum terstrukur kaidah kurikulum yang seharusnya. Sebab, sebuah kurikulum, minimal wajib memiliki lima komponen utama, yaitu : (1) tujuan; (2) materi; (3) strategi, pembelajaran/pelatihan/pembinaa (4) organisasi kurikulum dan (5) evaluasi. Kelima komponen tersebut memiliki keterkaitan yang erat dan tidak bisa dipisahkan.

    Untuk para instruktur kepelatihan, bila Kurikulum Filanesia sudah disempurnakan, maka kurikulum ini akan menjadi acuan utama dalam menyusun materi kepelatihan sesuai levelnya.Sebab, dengan adanya acuan Kurikulum yang benar dan standar, memenuhi lima komponen, maka materi kursus kepelatihan juga wajib menyesuaikan.

    Pertanyaannya, selama ini apa acuan penyusunan materl kepelatihan sepak bola di Indonesia? Tentu ada, namun tentunya tidak berdasarkan kurikulum yang seharusnya menjadi kiblat dan sumber utamanya untuk sepak bola Indonesia, sesuai kultur budaya dan sosial rakyat Indonesia, yaitu filanesia.

    Bagaimana dengan para pelatih sepak bola akar rumput yang sudah memiliki lisensi namun belum berdasarkan Kurkulum Filanesia yang Standar? Harus ada penyesesuain dalam program yang juga harus dirancang khusus.

    Filosofi sepak bola

    Selain itu, para instruktur dan pelatih yang nantinya dilahirkan dari KF harus mendarah daging dengan apa itu filosofi sepak bola.

    Filosofi adalah filsafat (KBBI). Sedang filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. Filsafat juga berarti teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan. Makna lainnya, filsafat adalah ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi, dan filsafat juga bermakna falsafah.

    Falsafah adalah anggapan, gagasan, dan sikap batin yang paling dasar yang dimiliki oleh orang atau masyarakat dan pandangan hidup. Karenanya banyak manusia yang menekuni bidang apa pun berfalafah, yaitu memikirkan dalam-dalam tentang sesuatu. Mengungkapkan pemikiran-pemikiran yang dalam yang dijadikan sebagai pandangan hidup.

    Sementara makna sepak bola (KBBI) adalah permainan beregu di lapangan, menggunakan bola sepak dari dua kelompok yang berlawanan yang masing-masing terdiri atas sebelas pemain, berlangsung selama 2 x 45 menit, kemenangan ditentukan oleh selisih gol yang masuk ke gawang lawan.

    Jadi bila digabung, makna filsafat sepak bola, jelas sangat jauh dari sekadar teknik dan fisik.

    Terkait dengan filsafat, maka dalam permainan sepak bola jelas ada intelegensi dan personaliti yang lebih menjadi pondasi bagaimana seorang anak dapat mengendalikan kemampuan teknik dan fisiknya, menjadikan seorang anak memahami siapa diri dan seberapa besar kemampuan teknik dan fisiknya. Saat berada di tim dapat menjadi anggota tim yang kolektif, tidak individuallistis dan egois.

    Pendidikan sesuai KF

    Bila KF yang disempurnakan nanti sudah tercetak, maka sangat diharapkan pula para pembina dan pelatih khususnya sepak bola akar rumput, tidak lagi akan melatih dengan cara "lama". Namun, para pelatih sepak bola yang memiliki lisensi akan beralih menjadi pendidik, yaitu membekali siswa menjadi "berkarakter".

    Sebagai contoh, seorang pelatih ketika menjadi pendidik akan menularkan empat aspek keilmuan dan praktiknya baik untuk kebutuhan di dalam lapangan maupun kehidupan sehari-hari.

    Semisal aspek standar pesepakbola harus mumpuni dalam intelegensi, personaliti, teknik, dan fisik. Bagaimana seorang pelatih mentranser sekaligus mendidik pemain melalui sebuah materi yang tertuang dalam kurikulum?

    Sebagai contoh, semisal materinya passing untuk level usia dini, kelas VI (usia 12 tahun). Sebagai asumsi, usia dini kelas I usia 7 tahun.

    Maka saat mengajarkan dan mendidik siswa langsung menyelipkan makna pendidikan dari passing, semisal passing yang benar sesuai teknik passing, lalu melihat jarak yang di passing, maka akan ada hubungan dengan fisik, yaitu seberapa kekuatan passing yang dibutuhkan.

    Saat melakukan passing juga bekerja intelgensi dan personaliti. Maka, ada aspek dan indikator yang mempengaruhi, hingga akhirnya passing disebut benar dan berkualitas.

    Pelatih, dapat menyelipkan pendidikan karakter pada anak, semisal, passing yang benar itu, tidak membahayakan diri sendiri, tidak merepotkan teman yang menerima passing, tidak terpotong oleh lawan, tidak mempengaruhi tempo permainan, tidak individulis dan egois, mementingkan kepentingan kolektivitas dan tujuan, taktik, intrik, dan politik tim.

    Bila filosofi passing diterapkan dalam kehidupan nyata, maka seorang anak akan dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat  tidak membuat susah sendiri, tidak merepotkan orang lain, tidak membikin masalah yang membahayakan diri, keluarga/masyarakat, tidak egois, mementingkan kerjasama, tidak individualis, karena cerdas intelgensi dan personaliti.

    Sehingga, dalam mengajarkan dan mendidik, seorang pelatih akan terstruktur dan terprogram sesuai  tujuan, materi, strategi, pembelajaran/pelatihan/pembinaan, benar mengorganisasinya dan benar dalam mengevaluasinya hasil pelatihannya.

    KF sangat vital

    Karenanya, betapa vitalnya KF sebagai pedoman dan arah pembinaan sepak bola nasional, sehingga untuk menyempurnakan dan menerbitkannya kembali wajib melibatkan praktisi dan tim ahli, ada proses awal, proses penyusunan, proses validasi, hingga pada akhirnya terbitlah KF yang di maksud.

    Dari pedoman KF yang standar itulah, materi kepelatihan semua level mengacu. Dari Kurikulum itu pula, dapat dibuat ragam buku panduan kepelatihan di setiap level kelas/kelompok umur.

    Bila KF yang disempurnakan lahir dan terbit, maka akan sangat memungkinkan kata kursus pelatih diganti menjadi "Pendidikan Pelatih". Berikutnya, yakin bila nanti merujuk KF yang disempurnakan, maka materi pendidikan kepelatihan akan bertambah dan waktu pendidikannya pun akan lebih panjang.

    Tidak mungkin lagi, kursus lisensi D yang selama ini rata-rata hanya digelar seminggu, tentu waktunya akan bertambah sesuai kebutuhan materi dan kompetensi. Begitu pun untuk lisensi di atasnya, akan ikut pula bergeser dalam konten materi dan waktu.

    Sebagai bayangan KF yang disempurnakan akan mengakomodir komponen kurikulum semisal level usia dini kelas I usia 7 tahun hingga kelas VI usia 12 tahun. Berikutnya, level usia muda, kelas VII usia 13 tahun hingga kelas IX usia 15 tahun dan seterusnya.

    Semoga, KF yang disempurnakan segera diproses. Berikutnya afiliasi SSB. Aamiin.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.