2045 - Anak Indonesia yang Membantu Tiongkok Mempersiapkan Diri dalam WTO - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku 2045

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 15 Januari 2021 18:59 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • 2045 - Anak Indonesia yang Membantu Tiongkok Mempersiapkan Diri dalam WTO

    Kisah seorang mahasiswa Indonesia di Beijing yang direkrut sebagai tim perancangan ekonomi untuk menyiapkan Tiongkok masuk dalam perdagangan global (World Trade Organization)

    Dibaca : 907 kali

    Judul: 2045 – Petualangan Pemuda Indonesia Untuk Meraih Cita-cita dan Cinta di Negeri China

    Penulis: Anwar Widjojo

    Tahun Terbit: 2011

    Penerbit: Kurniaesa Publishing                                                                             

    Tebal: 345

    ISBN: 978-602-99349-4-6

     

    Dari sisi penuturan, novel ini tidak istimewa. Tetapi dari sisi pemilihan tema novel ini sangat menarik. Betapa tidak. Novel ini ditulis pada tahun 2011, saat dimana hamper semua novel bertema Tionghoa masih kemaruk dengan tema kekerasan SARA 1998 yang dialami oleh etnis Tionghoa. Pada saat ingatan kolektif tentang tragedy 1998 masih begitu kuat, Anwar Widjojo, penulis novel ini malah membuat tema seorang anak Indonesia yang berada di Tiongkok dan membantu Pemerintah Tiongkok mempersiapkan diri menghadapi masuknya Tiongkok dalam organisasi World Trade Organization.

    Kisahnya sendiri diawali dari seorang mahasiswa Indonesia bernama Tino yang sedang menempuh Pendidikan di Beijing. Tino secara tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang menabraknya dengan sepeda di depan sebuah toko. Dari kisah sederhana ini, Anwar Widjojo mengajak kita untuk mengenal kehidupan mahasiswa di Beijing dan mengunjungi tempat-tempat menarik yang ada di Tiongkok.

    Tino yang telah merampungkan belajar bahasa kemudian mengambil kuliah akuntansi di sebuah universitas di dekat Beijing. Anwar Widjojo menggunakan masa kuliah Tino ini untuk menggambarkan bagaimana keadaan para mahasiswa di Tiongkok. Juga tentang bagaimana hubungan antara dosen dan mahasiswa yang begitu akrab dan berfokus kepada memberi inspirasi daripada mengajarkan hal-hal yang sifatnya pengetahuan untuk dihafal. Dari paparan Anwar, saya mendapati bahwa para mahasiswa ini terlihat bahagia dan menikmati masa belajarnya di perguruan tinggi. Kehidupan mereka cukup bebas. Mereka bebas dalam mengembangkan inspirasi untuk kemajuan. Tidak ada pengelompokan mahasiswa berbasis kecurigaan antar kelompok. Artinya pandangan bahwa kehidupan di Tiongkok yang komunis itu kuno dan membosankan, seperti yang masih banyak kita yakini selama ini benar-benar dibongkar oleh Anwar Widjojo. Anwar bahkan menggambarkan bagaimana para muda ini bisa saling mencari pasangan di kampusnya.

    Cerita menjadi agak serius saat seorang Kolonel Zhang mengajak Tino untuk masuk tim Menteri Perekonomian Tiongkok. Sang Menteri sedang mempersiapkan strategi untuk mengkondisinya rakyat Tiongkok dalam menghadapi era perdagangan global. Kebijakan Tiongkok mulai membuka diri setelah merasa yakin mampu bersaing dan bersanding dengan negara-negara lain. Mula-mula Tiongkok mengajukan diri menjadi tuan rumah Olimpiade pada tahun 2013 dan kemudian masuk ke organisasi perdagangan dunia WTO.

    Tino dipilih untuk menjadi tim Sang Menteri karena tulisan-tulisan di blog yang dia Kelola menunjukkan pemikiran-pemikiran kreatif dalam menghadapi perdagangan bebas. Kolonen Zhang sangat kagum dengan pengalaman Indonesia yang masyarakatnya sangat lentur dalam menghadapi krisis ekonomi global. Tiongkok perlu mempunyai strategi bagaimana menyiapkan rakyatnya jika suatu saat ekonomi global mengalami resesi. Dengan strategi tersebut rakyat Tiongkok tetap akan bisa survive mengjadapi resesi, seperti rakyat Indonesia yang berhasil melewatinya, walau dengan darah dan airmata. Tino bersama timnya berhasil mengembangkan aplikasi model resesi yang kemudian dipakai oleh Pemerintah Tiongkok.

    Kisah ini dibumbui dengan sentuhan gaya detektif. Anwar Widjojo memasukkan kisah perseteruan antar personil militer dalam novelnya. Serigala Perak yang terdepak dari dinas kemiliteran karena korupsi akhirnya menjadi seorang pembunuh bayaran. Ia sangat mendendam kepada Kolonel Zhang yang membongkar korupsinya. Serigala Perak digunakan oleh Jenderal Wang yang sedang melaksanakan Operasi Malaikat Hitam. Operasi Malaikat Hitam adalah sebuah operasi untuk membuat situasi politik di Tiongkok tidak stabil. Caranya adalah dengan menyusupkan orang-orang ke pemerintahan dan ke kelompok meditasi Kong Lon (Fa Lun Gong?). Penyusupan ini dilakukan untuk mengadu domba antara kelompok meditasi yang diikuti oleh banyak masyarakat ini dengan Pemerintah yang sah.

    Serigala Perak mendapat tugas untuk membunuh seorang Kepala Penjara di Shang Hai yang telah menewaskan keponakan Jenderal Wang. Namun dia harus melakukannya seolah-olah si Kepala Penjara dibunuh oleh anggota Kong Lon. Serigala Perak berhasil melaksanakan tugas tersebut dengan baik.

    Tetapi karena rasa dendam, dalam perjalanannya ke Shang Hai, ia secara tidak sengaja menyaksikan Kolonen Zhang yang sedang berpesta bersama Tino dan teman-teman mahasiswanya. Serigala Perak berupaya membunuh Tino. Namun ia salah membunuh orang lain. Alih-alih membunuh Tino, Serigala Perak malah membunuh Zhang Jun, seorang yang bersaing dengan Tino memperebutkan gadis cantik di kampusnya.

    Zhang Jun mati sehari setelah berkelahi dengan Tino. Tino ditangkap. Tetapi Tino berhasil membuktikan bahwa dirinya bukanlah pembunuh Zhang Jun. Justru dari kisah kematian Zhang Jun yang sangat mirip dengan kematian Kepala Penjara di Shanghai, akhirnya polisi bisa membongkar kejahatan Serigala Perak.

    Tino bertemu kembali dengan gadis yang menabraknya dengan sepeda. Mereka bertunangan dan berjanji untuk menikah setelah Tino pulang ke Indonesia. Namun sayang, Tino dibunuh di pesawat karena dianggap membahayakan Operasi Malaikat Hitam. Tino mendapat titipan surat yang harus disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia. Surat itu dianggap pesan penting yang akan membongkar kejahatan Jenderal Wang dan Operasi Malaikat Hitam.

    Seperti saya sebutkan di atas, dari sisi cerita novel ini biasa saja. Namun dari sisi pemilihan tema, sungguh sangat menarik. Anwar Widjojo sepertinya ingin menyampaikan kepada bangsanya sendiri, yaitu bangsa Indonesia untuk lebih mempersiapkan diri dalam memasuki perdagangan bebas. Memiliki strategi yang baik untuk mempersiapkan rakyat menghadapi resesi adalah sebuah keniscayaan dalam perdagangan bebas jika tidak ingin terjadi pertumpahan darah seperti yang terjadi tahun 1998.

    Strategi kuno dan biadab, yaitu menjadikan salah satu etnis sebagai tumbal kekacauan yang diakibatkan oleh resesi ekonomi sudah selayaknya ditinggalkan. (565)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.