Cerpen | Eyang Pikasieuneun - Analisa - www.indonesiana.id
x

Elnado Legowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 5 Maret 2021 08:50 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Cerpen | Eyang Pikasieuneun

    Untuk melunasi semua hutang, Ucok memutuskan untuk pergi merampok dengan ditemani oleh kedua temannya. Lantas mereka menjadikan seorang kakek sebagai targetnya, karena tergiur dengan koin emas miliknya. Akan tetapi, aksi mereka berujung pada petaka yang mengerikan.

    Dibaca : 431 kali

    Ucok kalah di alas tikar judi. Itulah yang menyebabkan dirinya terlilit hutang dan menjadi buronan. Itulah juga yang membuat hidupnya menjadi tidak tenang. Dia harus mencari cara untuk melunasi hutangnya. Tetapi Ucok adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di lingkungan liar tanpa pendidikan. Pada saat itulah dia memilih untuk merampok.

    Karena desanya adalah desa yang miskin, dia harus merantau ke desa tetangga untuk mencari korban. Setelah melakukan penelusuran, Ucok menemukan sebuah desa yang terletak di pinggir pantai. Di desa itu terdapat banyak sekali penduduk yang kaya karena kesuksesannya dalam membangun bisnis keluarga, bertani, maupun bernelayan. Ditambah dengan akses yang mudah, membuat Ucok semakin yakin untuk memilih desa tersebut.

    Ucok tidak bekerja seorang diri, dia ditemani Acep dan Abon. Acep adalah seorang remaja berandalan yang baru saja berteman dengan Ucok. Karena usianya yang masih muda, dia adalah seorang yang naif. Sedangkan Abon adalah teman lama Ucok yang berlatar belakang sebagai seorang jawara, sehingga membuatnya jago berkelahi dan memiliki paras yang beringas. Mereka bertiga berangkat ke desa tersebut pada keesokan harinya dengan menumpangi sebuah bus antar desa.        

     

    ****

     

    Keesokan pagi, mereka tiba di sebuah desa yang telah ditumbuhi oleh bangunan perumahan dan pertokoan yang mengelilingi sepanjang jalan. Setelah turun dari bus, merekapun singgah di sebuah warung berbentuk rumah kayu. Mereka membeli secangkir kopi hitam dan meminumnya sembari mengawasi orang-orang di sekelilingnya.

    Mereka mencari orang yang meyakinkan untuk dirampok. Mulai dari pakaiannya, hingga barang-barang yang melekat di tubuhnya. Walhasil mata mereka tertuju pada satu orang yang baru saja membayar pesanannya dengan sekeping koin emas, di sebuah toko makanan yang terletak tidak jauh dari warung yang mereka singgahi.

    Dia adalah seorang kakek berpakaian pangsi yang berkulit keriput, seakan dia sudah menginjak usia lebih dari 80 tahun. Kakek itu memiliki tatapan tajam, sehingga membuat rasa tidak nyaman. Hidung yang mancung, rambut yang panjang, kumis dan jenggot yang lebat, dan kuku yang panjang dan tajam seakan menambah atmosfer mengerikan. Lalu kakek itu berjalan dengan bantuan tongkat kayu, dengan gerakan seperti seorang penari balet yang pincang. Pengunjung yang berada di dekat kakek itu langsung menghindar dengan ekspresi takut dan resah.

    Melihat kejadian itu, Ucok menjadi tergiur dengan koin emas milik si kakek itu. Dalam bayangannya, koin emas itu mampu melunasi hutangnya dan bisa membuatnya menjadi kaya. Itulah yang membuat Ucok menjadikan kakek itu sebagai targetnya.

     

    ****

      

    Menurut cerita beberapa penduduk yang mereka temui, sang kakek masih memiliki koin emas peninggalan Belanda dan masih menggunakannya untuk membeli sesuatu. Namun, kakek itu tidak suka bersosialisasi dengan warga sekitar dan tinggal seorang diri di rumahnya yang terasing di tepi pantai. Hal itu membuat warga tidak mengetahui banyak mengenai kehidupan maupun sejarah keluarga si kakek itu.

    Mereka juga bersaksi bahwa sang kakek memiliki hobi membuat sebuah boneka jerami yang berbentuk manusia, lengkap dengan pakaian dan muka. Namun yang tidak lazim, beberapa warga pernah memergoki sang kakek sedang berbicara dengan boneka jeraminya dan boneka itu dapat menanggapi si kakek dengan suara yang berbeda. Bahkan ekspresi boneka itu dapat berubah sesuai emosi dari jawabannya, seakan-akan boneka itu hidup. Melihat kejadian itu, warga kampung menjulukinya sebagai “Eyang Pikasieuneun” yang artinya “Kakek yang Mengerikan”.

    Namun cerita dan kesaksian penduduk kampung tidak membuat surut nyali mereka. Pikiran dan hati mereka hanyalah tertuju pada koin emas.      

     

    ****

      

    Pada suatu malam di sebuah gubuk yang terletak di pinggir sawah, terlihat ekspresi serius Ucok yang sedang mendesain sebuah rencana untuk merampok Eyang Pikasieuneun. Mereka berencana membuntuti Eyang Pikasieuneun hingga ke rumahnya. Setelah itu, mereka akan memasuki rumah Eyang Pikasieuneun dan merampoknya.

    Apabila dilihat dari fisiknya, Eyang Pikasieuneun terlihat tidak akan mampu melawan, sehingga Ucok hanya perlu membujuk atau mengintimidasinya agar dia mau memberitahu tempat dia menyimpan emasnya. Setelah mendapatkan seluruh emasnya, mereka akan membunuh Eyang Pikasieuneun demi menghilangkan jejak. Mereka mendesain rencana itu sembari mengawasi Eyang Pikasieuneun yang sedang makan di sebuah warung, yang terletak di ujung jalan dan tidak jauh dari gubuk mereka berada.

    Tidak lama kemudian, Eyang Pikasieuneun keluar dari warung itu dan berjalan pulang. Lalu mereka langsung membuntutinya dari dalam kegelapan, sampai meninggalkan desa dan memasuki tepi pantai yang tidak memiliki nuansa kehidupan. Tidak lama kemudian, mereka melihat Eyang Pikasieuneun memasuki sebuah pintu pagar besi berkarat yang diapit oleh dinding batu yang dijalari oleh tanaman merambat. Melihat itu, mereka merasa yakin bahwa itu adalah rumahnya. Lalu ketiganya mendekati pintu pagar itu dan mengintip ke dalamnya.

    Terlihat sebuah rumah dengan arsitektuk peninggalan Belanda yang tidak terawat, selayaknya rumah kosong yang sudah ditinggal lama oleh penghuninya. Di halaman rumahnya telah ditumbuhi oleh rerumputan liar. Tanpa lampu penerang, rumah itu tampak semakin suram. Mereka semua terdiam cengang sambil melihat Eyang Pikasieuneun masuk ke dalam rumahnya, namun tetap menjalankan rencananya.

    Melihat kondisi sekitar yang sepi, mereka mulai memanjati pintu pagar besi itu lalu berjalan menuju rumah itu. Setiba di depan pintu, Abon membuka paksa pintu rumahnya yang sudah lapuk dengan linggis. Tanpa membutuhkan waktu lama, pintu itu berhasil dibuka dengan mudah dan mereka masuk kedalamnya.

    Terlihat seisi rumahnya yang dipenuhi oleh sarang laba-laba di tiap sudut ruangan. Banyak sekali furniture rumah yang sudah tua dan tidak terurus, seperti; jam dinding yang sudah tidak berfungsi, piano jadul yang menjadi sarang tikus, sofa tua kumal, lemari kayu yang rusak, bahkan lampu-lampu gantung antik yang sudah tidak berfungsi sehingga membuat seisi rumah diselimuti oleh kegelapan yang mencekam. Ditambah dengan foto-foto hitam putih yang terpajang di dinding ruangan, mengabadikan ekspresi orang jaman dulu yang berwajah pucat, menatap tajam dengan raut muka terkutuk, sehingga memberi kesan tidak nyaman.

    Seketika Acep menjadi bimbang. Dia meminta Ucok untuk membatalkan rencananya dan segera keluar dari rumah itu. Namun Ucok menolaknya dengan tegas dan meyakinkan bahwa mereka tidak akan meninggalkan rumah itu tanpa emas. Selain itu, Ucok juga mengancam akan membunuh Acep jika dia tidak menuruti perintahnya. Itulah yang membuat Acep mengikutinya dengan terpaksa. Lalu Ucok memerintahkan mereka semua untuk mengeledah seluruh ruangan dan mencari Eyang Pikasieuneun.

     

    ****

      

    Setelah beberapa lama mereka menggeledah semua ruangan, tidak ditemukan Eyang Pikasieuneun maupun benda berharga lainnya. Hanya sebuah pintu yang terkunci oleh sebuah gembok besar yang terletak di belakang dapur rumah. Pintu itu memancarkan cahaya kuning yang menerobos keluar melalui sela-sela pintu. Selain itu juga terdengar suara yang samar dari dalam pintu itu.

    Rasa penasaran dan putus asa telah membuat Ucok memerintahkan Abon untuk mendobrak pintu itu. Dengan sebuah palu yang besar, Abon menghancurkan gembok itu. Walhasil pintu itu dapat dibuka dan mereka bisa memasukinya. Tetapi bukan emas yang mereka temukan, melainkan sebuah pemandangan yang tidak seharusnya mereka lihat.

    Dengan bantuan cahaya lilin di tengah ruangan, terlihat ratusan boneka jerami yang dipajang penuh di rak kayu yang bersandar di dinding ruangan. Setiap boneka jerami itu ditemani oleh sebuah toples kaca yang berisi jantung yang direndam oleh cairan pengawet dan jantung itu masih berdetak. Detakan setiap jantung itu memiliki irama yang berbeda. Ada yang berdetak normal, ada juga yang berdetak keras sehingga membuat irama musik yang ganjil. Selain itu, setiap toples ditempelkan sebuah kertas berisi nama seperti; Parto, Sabrinah, Ginanjar, dan seterusnya, seakan-akan setiap boneka memiliki nama dan jantungnya masing-masing. Tetapi yang tidak lazim, seketika semua boneka itu menjerit pilu;

    “Tolooonnnggg!”

    “Ampuunnnn!”

    “Lepaskan saya!”

    “Keluarkan saya dari tempat iniii!”

    “Lariii!”

    “Aaaarrrgghhhh!”

    “Maafkan sayaa…”

    Setiap boneka itu mengeluarkan suara yang berbeda-beda. Ada suara laki-laki, ada suara perempuan, dan ada pula suara anak kecil. Boneka-boneka itu juga memiliki ekspresinya masing-masing, dari ekspresi ketakutan, memelas, hingga menangis darah.

    Pemandangan itu telah memadamkan api keberanian, sehingga mereka semua berlari meninggalkan ruangan itu seperti anak kecil dan melupakan koin emas yang mereka impikan. Kini yang dipikirkan mereka hanya keluar dari rumah itu dengan segera.

    Ketika mereka pontang-panting menuju pintu keluar, seketika pintu itu tertutup dengan sendirinya dan mengunci mereka. Abon dan Ucok berusaha mendobrak pintu itu, sedangkan Acep hanya bisa menangis ketakutan seperti bayi. Namun anehnya, pintu yang sudah lapuk itu seakan-akan menjadi kuat dan mampu menahan dobrakan mereka.

    Tiba-tiba terdengar suara kursi goyang yang diikuti aroma bau amis yang menyengat. Seketika Ucok dan Abon berhenti mendobrak pintu dan saling bertatapan dengan muka yang pucat. Acep hanya terdiam sambil menatapi mereka berdua dengan mata berkaca-kaca dan tubuh menggeligisnya.

    Terdengar suara orang tertawa cekikikan, sebuah rangkaian tawa dengan nada yang kelam. Lalu mereka bertiga menoleh ke arah suara itu datang. Terlihat sosok Eyang Pikasieuneun yang sedang duduk di kursi goyang yang terletak di ujung ruangan. Dia menatapi mereka dengan mata yang berwarna merah menyala sambil menyeringai dari dalam kegelapan.

     

    ****

      

    Pada keesokan hari, terlihat para warga dan nelayan sedang berkumpul di suatu tempat di tepi pantai. Mereka menemukan jenazah Ucok, Abon, dan Acep dalam kondisi yang mengenaskan.

    Ekspresi mereka menggambarkan sebuah ketakutan besar dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar. Bahasa tubuh mereka seperti orang yang berusaha melarikan diri sebelum ajal menjemput. Di bagian dada mereka terdapat sebuah lubang besar yang menembus hingga ke punggung. Di tambah dengan hilangnya jantung di setiap tubuh mereka, seakan membuat kondisi jenazah mereka semakin menakutkan.

    Tidak jauh dari lokasi jenazah mereka, terlihat sosok Eyang Pikasieuneun sedang berjalan melewati kerumunan warga sambil membawa tiga boneka jerami terbarunya. Boneka itu memiliki rupa seperti Ucok, Acep, dan Abon. Dia juga melilitkan benang di mulut boneka itu, sehingga mereka tidak bisa berteriak meminta tolong. Sedangkan Eyang Pikasieuneun menatapi mereka sambil menyeringai dengan ekspresi kebahagian yang terkutuk.

     

    ****



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.