Kenangan Antara Tanjung Perak dan Pelabuhan Lembar, Catatan Menyusuri Lautan Indonesia Tengah - Travel - www.indonesiana.id
x

Gunung Agung Bali

Tatang Hidayat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 25 Juli 2021 09:51 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Kenangan Antara Tanjung Perak dan Pelabuhan Lembar, Catatan Menyusuri Lautan Indonesia Tengah

    Senja Kamis (27/6/2019) baru saja kapal meninggalkan pelabuhan Tanjung Perak, ketika daratan pulau Jawa sudah hilang di pandangan mata dan langit mulai gelap, suasana seketika syahdu dan hening, mendengarkan suara adzan Maghrib bersahutan saat senja meskipun kalah keras dengan suara mesin kapal. Setelah matahari terbenam total dan warna si merah jingga tak terlihat lagi di ufuk barat sana, segera saya menuju mushola kapal. Inilah peristiwa pertama saya bisa melaksanakan shalat berjama’ah di atas laut, meskipun sebenarnya ini bukanlah pengalaman naik kapal pertama kali. Namun untuk bisa shalat di atas laut ini baru pertama kali.

    Dibaca : 832 kali

    Oleh : Tatang Hidayat (Pegiat Student Rihlah Indonesia)

    Kamis (27/6/2019) saat sedang berada di Masjid Kemayoran Surabaya, saya menghayati dalam-dalam dan mencoba untuk kembali ke masa lalu tentang berbagai kejadian di masjid ini. Tidak terasa dalam lamunan kala itu diri saya seolah sedang menggembung khayali diajak menembus ruang dan waktu. Terasa nyaman hati ini. Entahlah, terasa ada suasana sejuta rasa bahagia, sedih, haru dan kecewa yang tidak bisa diceritakan. Saat itu saya melakukan napak tilas ke berbagai tempat yang memiliki nilai-nilai sejarah perjuangan tokoh-tokoh yang saya cintai.

    Begitulah cinta akan memberikan nilai terhadap tempat yang sederhana bahkan kadang tak dilirik orang menjadi bermakna dan istimewa. Saat sedang menghayati suasana di dalam masjid,  tak terasa matahari mulai semakin tergelincir. Ini tandanya saya harus segera berangkat ke pelabuhan Tanjung Perak. Jadwal kapal yang menuju Lombok akan segera tiba pukul 14.00 WIB.

    Dari Masjid Kemayoran Surabaya, saya segera berangkat ke pelabuhan. Di pelabuhan sudah banyak orang berlalu lalang akan melakukan penyeberangan juga. Saya segera menuju pembelian tiket tujuan Lombok. Teman-teman bisa membeli tiket dengan harga Rp.72.000 dan bisa juga lengkap dengan makannya selama 2 kali seharga Rp 30.000. Oh ya, sebelum berangkat teman-teman mesti cek terlebih dahulu jadwal keberangkatannya ya, khawatir ketika sampai ke pelabuhan tidak sesuai jadwal. Adapun persyaratan membeli tiket kapal laut cukup dengan memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Setelah selesai mengurus pembelian tiket, saya segera menuju pintu keberangkatan dan menunggu kapal berlabuh di pelabuhan.

    Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB, ternyata kapal belum kunjung tiba. Ada keterlambatan kedatangan sehingga saya harus sabar menunggu untuk beberapa jam. Ada kekecewaan ketika saya harus menunggu lama, berdesak-desakan dengan penumpang lain apalagi dengan fasilitas pelabuhan yang kurang memuaskan. Ditambah cuaca panas, lengkap sudah saya melatih kesabaran.

    Setelah menunggu sekian lama, kapal pun datang ke dermaga dan melakukan bongkaran dan memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. Baru setelah itu saya bisa menaikinya. Namun harapan saya untuk bisa rebahan dan duduk nyaman di kapal tak sesuai kenyataan. Ternyata naik kapal laut harus rebutan tempat duduk. Jika kita telat sedikit dapat dipastikan kita tidak akan dapat tempat duduk di ruang utama, meskipun kita sudah membeli tiket. Tak jarang lorong-lorong kapal dijadikan tempat duduk oleh para penumpang.

    Entahlah apakah kapal yang saya naiki yakni KMP Legundi kelebihan muatan sehingga tidak sesuai dengan kapasitas. Atau memang kejadian seperti ini merupakan hal yang biasa? Bapak-bapak, ibu-ibu, orang dewasa, remaja dan anak-anak yang tidak kebagian tempat utama semuanya mengampar di mana saja, yang penting bisa ditempati. Apakah memang seperti ini wajah transportasi laut Indonesia?

    Saat itu kapal mengalami keterlambatan untuk berlabuh di dermaga, yang seharusnya pukul 14.00 WIB sudah berangkat, namun kapal baru berlabuh pukul 16.00 WIB. Setelah saya cek jam di HP, ternyata pukul 17.00 WIB kapal itu baru meninggalkan pelabuhan. Tak lama setelah kapal itu berjalan, ketika mata saya tertuju ke ufuk barat lisan ini tidak hentinya untuk memuji Sang Pencipta, ya siapa lagi yang tidak bersyukur bisa melihat keindahan dan menikmati kesyahduan hadirnya si merah jingga di ufuk barat, kalau cuaca bagus, matahari seperti membakar langit, lambat laun menjadi siluet, dan meninggalkan warna emas, kuning dan biru kuat. siapa lagi kalau bukan lembayung senja itu menemani perjalanan saya meninggalkan pulau Jawa untuk menyebrangi lautan ibu pertiwi.

    Tanjung Perak merupakan salah satu pintu gerbang Indonesia, yang berfungsi sebagai kolektor dan distributor barang dari dan ke Kawasan Timur Indonesia, termasuk propinsi Jawa Timur. Karena letaknya yang strategis dan didukung oleh hinterland yang potensial maka pelabuhan Tanjung Perak juga merupakan Pusat Pelayaran Interinsulair Kawasan Timur Indonesia. Dahulu kapal-kapal samudera membongkar dan memuat barang-barangnya di selat Madura untuk kemudian dengan tongkang dan perahu- perahu dibawa ke Jembatan Merah (pelabuhan pertama waktu itu). yang berada di jantung kota Surabaya melalui sungai Kalimas (jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, 30/5/2013).

    Karena perkembangan lalu lintas perdagangan dan peningkatan arus barang serta bertambahnya arus transportasi maka fasilitas dermaga di Jembatan Merah itu akhirnya tidak mencukupi. Kemudian pada tahun 1875 Ir.W.de Jongth menyusun rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak agar dapat memberikan pelayanan kepada kapal-kapal samudera membongkar dan memuat secara langsung tanpa melalui tongkang- tongkang dan perahu-perahu. Akan tetapi rencana ini kemudian ditolak karena biayanya sangat tinggi (jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, 30/5/2013).

    Selama abad 19 tidak ada pembangunan fasilitas pelabuhan, padahal lalu lintas angkutan barang ke Jembatan Merah terus meningkat. Sementara rencana pembangunan pelabuhan yang disusun Ir.W.de.Jongth dibiarkan terlantar. Pada sepuluh tahun pertama abad ke-20 Ir.W.B. Van Goor membuat rencana yang lebih realistik yang menekankan suatu keharusan bagi kapal- kapal samudera untuk merapatkan kapalnya pada kade/tambatan. Dua orang ahli didatangkan dari Belanda yaitu Prof. DR. Kraus dan G.J. de Jong untuk memberikan suatu saran mengenai rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak (jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, 30/5/2013).

    Setelah tahun 1910, pembangunan pisik Pelabuhan Tanjung Perak dimulai, dan selama dilaksanakan pembangunan ternyata banyak sekali permintaan untuk menggunakan kade/tambatan yang belum seluruhnya selesai itu. Dengan selesainya pembangunan kade/tambatan, kapal-kapal Samudera dapat melakukan bongkar muat di pelabuhan. Pelabuhan Kalimas selanjutnya berfungsi untuk melayani angkutan tradlslonal dan kapal-kapal layar, sementara pelabuhan yang terletak dl Jembatan Merah secara perlahan mulal ditinggalkan (jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, 30/5/2013).

    Sejak saat itulah, Pelabuhan Tanjung Perak telah memberikan suatu kontribusl yang cukup besar bagi perkembangan ekonomi dan memiliki peranan penting, tidak hanya bagi peningkatan lalu lintas perdagangan di Jawa Timur tetapi juga bagi seluruh Kawasan Timur Indonesia. Untuk mendukung peranan itu pada tahun 1983 telah diselesaikan pembangunan terminal antar pulau yang kemudian diberi nama terminal Mirah. Untuk keperluan pelayanan penumpang kapal laut antar pulau juga dibangun terminal penumpang yang terletak di kawasan Jamrud bagian utara. Berdampingan dengan terminal penumpang antar pulau dibangun pula terminal ferry untuk pelayanan penumpang Surabaya Madura yang beroperasi 24 jam penuh (jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, 30/5/2013).

    Seiring dengan berjalannya waktu pelabuhan Tanjung Perak telah pula membuktikan peranan strategisnya sebagai pintu gerbang laut nasional (Gateway Port). Untuk itu dipersiapkanlah pembangunan terminal petikemas bertaraf internasional yang pelaksanaan pisiknya dapat diselesaikan pada tahun 1992. Terminal petikemas itu saat ini dikenal dengan nama Terminal Petikemas Surabaya (jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, 30/5/2013)..

    Tanjung Perak merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk kedua di Indonesia setelah Pelabuhan Tanjung Priok  dan juga sebagai pusat perdagangan menuju kawasan Indonesia bagian timur. Pelabuhan Tanjung Perak menjadi kantor pusat PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia III.

    Senja Kamis (27/6/2019) baru saja kapal meninggalkan pelabuhan Tanjung Perak, ketika daratan pulau Jawa sudah hilang di pandangan mata dan langit mulai gelap, suasana seketika syahdu dan hening, mendengarkan suara adzan Maghrib bersahutan saat senja meskipun kalah keras dengan suara mesin kapal. Setelah matahari terbenam total dan warna si merah jingga tak terlihat lagi di ufuk barat sana, segera saya menuju mushola kapal. Inilah peristiwa pertama saya bisa melaksanakan shalat berjama’ah di atas laut, meskipun sebenarnya ini bukanlah pengalaman naik kapal pertama kali. Namun untuk bisa shalat di atas laut ini baru pertama kali.

    Beberapa jama’ah antri untuk melaksanakan shalat Maghrib kala itu, mushola penuh setiap waktu shalat, ada rasa haru dan bangga melihat orang dari berbagai suku bisa melaksanakan shalat berjama’ah dalam satu tempat, karena memang seperti inilah penampilan Islam meskipun berbeda beda tetapi bisa disatukan dengan ajaran Baginda Nabi Agung Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

    Semakin malam udara semakin dingin, angin laut malam itu seolah menembus ke setiap pori pori yang ada di tubuh, tidak terasa kelalahan sejak tadi pagi menelusuri jejak-jejak sejarah di Surabaya mulai menyerang, rasa kantuk yang tidak tertahan akhirnya mengantarkanku untuk berkelana ke alam mimpi sembari ditemani suara mesin kapal dan deburan ombak. Kalau boleh jujur sebenarnya malam itu tidur saya tidak nyenyak, di samping karena saya tidur di kursi kantin kapal, terus angin laut dan cuaca dingin di lautan membuat tubuh saya menggigil, tetapi tidak mengapa itu semua menjadi pengalaman berharga bagi saya untuk diceritakan kepada anak cucu kelak.

    Jum'at (28/6/2019) saat saya sedang berkelana di alam mimpi, tak terasa waktu Shubuh akan segera tiba, segera saya menuju mushola untuk melaksanakan shalat qiyamul lail sembari menunggu shalat Shubuh berjama’ah beserta penumpang lainnya. Tak ku sangka, ternyata mushola itu sudah penuh dengan beberapa jama’ah, padahal shalat Shubuh masih lama didirikan, ya ghirah umat dalam melaksanakan ibadah meskipun dalam perjalanan namun tetap tidak ketinggalan, beginilah wajah Islam yang sesungguhnya, meskipun sedang dilanda kesulitan dalam perjalanan, namun untuk urusan ibadah tetap tidak boleh terlewatkan.

    Waktu Shubuh saat itu merupakan Shubuh yang sangat berkesan bagi saya, bagaimana tidak shalat dilaksanakan dalam keadaaan terombang ambing di hamparan luasnya lautan ibu pertiwi yang saya pun tidak tahu sedang di sebelah mana saat itu. Ba’da shalat Shubuh saya isi kegiatan dengan membaca Alquran sekaligus mentadaburinya dan mentafakuri perahu yang berlayar di luasnya lautan ibu pertiwi.

    Ketika saya tadaburi beberapa ayat Alquran, cahaya matahari pagi itu mulai menembus setiap lorong jendela mushola kapal, dan ketika saya keluar pandanganku dimanjakan dengan keindahan luar biasa terbitnya matahari dari ufuk timur yang menerangi gelapnya negeri timur jauh, begitu jelas seolah matahari keluar dari hamparan lautan ibu pertiwi, namun saya sangat menyesal tidak bisa mengabadikan momen tersebut karena HP saya habis baterainya.

    Tak ketinggalan pagi itu ditemani juga dengan lumba lumba yang meliak liuk mendekati kapal seolah ia menari-nari mengikuti irama mesin kapal itu. Sungguh sebaik baik matahari terbit adalah pada hari Jum’at, sempurna sudah pagi itu.

    Ketika menikmati indahnya kekuasaan Sang Pencipta,  perut saya mulai keroncongan, cacing-cacing di perut sudah berdemo hehe segera saya ambil makanan yang disediakan oleh  awak kapal, meskipun tidak banyak, tetapi makanan itu setidaknya mampu membuatku menegakan badan untuk melakukan berbagai aktivitas sembari menikmati hangatnya sinar matahari dan indahnya hamparan lautan ibu pertiwi. Kegiatan pagi itu saya isi dengan berbagai aktivitas, berjemur, olahraga ringan, ngobrol dengan penumpang lain, menikmati keindahan laut Indonesia tengah, melihat gunung Agung yang di pulau Bali terlihat jelas dari kapal, dan tak terasa waktu shalat Jum’at akan segera tiba, sehingga saya segera mengambil air wudhu dan tampak sudah banyak para penumpang mengantri untuk sama-sama melaksanakan shalat Jum’at, meskipun fasilitas tempat wudhu dan toiletnya mengecewakan karena nampak airnya tersendat sehingga membanjiri tempat wudhu.

    Memang benar apa yang disampaikan Ahmad Yunus dalam buku Meraba Indonesia Ekspedisi Gila Keliling Nusantara (2011:108) bahwa republik ini tak mampu menyediakan sebuah kapal yang nyaman dan bersih. Sekaligus aman. Banyak kasus kecelakaan akibat kapal penumpang tenggelam. Jika kapal sedang banyak muatan, alamak! Mendadak geladak kapal seperti pasar. Tua-muda, laki-perempuan, anak-anak hingga bayi mungil berserakan macam ikan pindang. Berdesakan dan berebut tempat. Geladak juga disesaki barang bawaan penumpang.

    Tentu yang paling memprihatinkan adalah kondisi perempuan, baik muda maupun tua, ibu menyusui dan anak-anak. Mereka tak punya tempat khusus. Mulai dari toilet, kamar mandi, hingga tempat untuk merebahkan badan. Mereka juga sulit naik-turun ke aras geladak. Tingginya sekitar satu meter dan sempit. Sisi kiri kanan badan kapal dibatasi pagar besi. Kalau tak hati-hati bisa terkilir atau jatuh ke laut. Jalan sempit ini jug kotor penuh sampah. Terkadang licin akibat muntah penumpang (Ahmad Yunus, 2011:108-109).

    Terlepas dengan segala kekurangan transportasi laut yang ada di republik ini, saat itu saya diperlihatkan sebuah tontonan yang menakjubkan, meskipun dalam keadaan safar dan berada di atas laut, tidak menyurutkan para jama’ah untuk sama sama melaksanakan shalat Jum’at berjama’ah bahkan sampai ruangan utama mushola tidak cukup sehingga jama’ah membludak ke luar ruangan dan memenuhi setiap lorong kapal itu. Khatib kala itu menyampaikan beberapa wasiat kepada jama’ah salah satunya yang tidak ketinggalan adalah wasiat takwa. Pasca shalat Jum’at, saya langsung melaksanakan shalat Ashar jama takdim qashar, kemudian saya sempat beristirahat sebentar siang itu.

    Setelah sekian lama perjalanan hampir satu hari satu malam semenjak senja kemarin kapal meninggalkan pelabuhan Tanjung Perak, sore itu saya mulai bisa melihat daratan di ujung sana, tidak terasa kapal yang saya naiki akan segera berlabuh di pelabuhan lembar, ya pelabuhan Lombok. Saat menuju Pelabuhan Lembar, saya kembali dipertontonkan sebuah pemandahan indah cerahnya sore itu, langit terhampar berwarna biru cerah dan dihiasi awan putih melengkapi indahnya langit kala itu, Seolah alam hari itu merestui kedatangan saya untuk berkunjung ke negeri 1000 masjid.

    Pasca bongkaran, saya segera menuju tempat penginapan di Kota Mataram untuk sejenak beristirahat sembari mempersiapan untuk presentasi besok hari. Oh ia, dari pelabuhan lembar teman-teman bisa menuju kota Mataram dengan berbagai macam alat transportasi seperti taksi, atau transportasi online.

    Sepanjang perjalanan, selain diisi dengan diskusi bersama sopir berkaitan dengan Lombok dan peristiwa gempa yang terjadi sebelum saya datang ke Lombok kala itu, mata saya dimanjakan dengan deretean masjid-masjid di samping kanan dan kiri jalan dengan arsitek yang sangat mewah, ya Lombok dijuluki dengan negeri 1000 masjid, karena memang masjidnya sangat banyak. Jarak antara satu masjid ke masjid lainnya cukup dekat, bahkan tidak jarang ada dua masjid yang saling berhadap-hadapan.

    Dosen Fakultas Seni Rupa Desain, Institut Teknologi Nasional Bandung Taufan Hidjaz merupakan putra Sasak yang memiliki perhatian mendalam perihal catatan sejarah masjid di Lombok. Meski telah bermukim di Bandung, Jawa Barat sejak 70-an, Taufan tak lantas melupakan tanah kelahirannya. Segudang penelitian hingga pendalaman ke lapangan rutin ia lakukan menguliti perjalanan masjid yang sangat erat dengan karakter masyarakat Lombok. Taufan menjelaskan, penyebutan Pulau Seribu Masjid ini bermula dari kunjungan kerja Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Effendi Zarkasih pada 1970. Kala itu, Effendi meresmikan Masjid Jami Cakranegara. Saat meresmikan, Effendi terkesan sekali dengan banyaknya masjid di Lombok (republika.co.id, 22/2/2018).


    Taufan menyampaikan, masjid merupakan representasi budaya Sasak di Lombok. Dalam catatannya, terdapat 3.767 mesjid besar dan 5.184 mesjid kecil di 518 desa di Lombok. Artinya, setiap desa di Lombok memiliki lebih dari satu masjid. Taufan menyanyikan, masjid merupakan artefak penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kolektif masyarakat di Lombok dalam semua aspek. Kata Taufan, masjid menjadi tanda bagi keberadaan kolektif masyarakat Sasak, dari tingkatan dusun, desa dan kota sebagai ummat muslim. (republika.co.id, 22/2/2018).

    Ketika obrolan dari satu bahasan ke bahasan lain dengan sopir, tak terasa akhirnya tempat penginapan saya segera sampai. Setibanya di tempat penginapan, saya disambut baik oleh panitia dan segera diberikan kunci untuk beristirahat sembari mempersiapkan untuk agenda makan malam nanti bersama para presenter lainnya.

    Menjelang Maghrib, saya penasaran untuk keluar penginapan dan segera menuju Masjid terdekat. Ternyata tak disangka tempat saya menginap dekat dengan Masjid Hubbul Wathan Islamic Center yang merupakan masjid termewah di Lombok, bahkan di dalam masjid tersebut ada eskalatornya. Setelah melaksanakan shalat Maghrib berjama’ah dan Shalat Isya Jama Taqdim, HP saya beberapa kali berdering, ketika saya coba buka ternyata seorang teman di penginapan menghubungi bahwa rombongan akan segera berangkat untuk agenda makan malam.

    Malam itu menjadi malam pertama saya di Mataram Lombok yang sangat berkesan, ditemani dengan para presentasi lainnya berkunjung ke salah satu rumah makan, rumah makan tersebut menyediakan berbagai makanan kuliner khas Lombok terutama makanan lautnya seperti ikan, udang, kerang lengkap dengan plecing semacam salad yang isinya ada kangkung, toge dan sambal.

    Plecing kangkung adalah masakan khas Indonesia yang berasal dari Lombok. Plecing kangkung terdiri dari kangkung yang direbus dan disajikan dalam keadaan dingin dan segar dengan sambal tomat, yang dibuat dari Cabai rawit, garam, terasi dan tomat, dan kadang kala diberi tetesan jeruk limau. Kalau di Tatar Sunda yang semisal dengan Plecing adalah lotek atau karedok kali ya.

    Selain Plecing kangkung, makanan khas Lombok lainnya yang terkenal ada Ayam Taliwang, ayam bisa di bakar dan di goreng yang penuh rempah. Sate Bulayak, sate sapi khas Lombok yang disajikan dengan lontong berbentuk lonjong. Lebih enak kalau ditambah sambal khas suku Sasak. Nasi Balap Puyung bisa dibilang nasi campurnya orang Lombok. Nasi hangat dikombinasikan dengan ayam goreng atau ayam suwir, kacang, rebon kering, dan sayur, bikin kenyang seharian. Sate Rembiga yang Diambil dari nama sebuah desa di Lombok, daging sapi lembut akan dibumbui rempah-rempah. Sate Tanjung terbuat dari ikan cakalang yang diberi rempah-rempah, lalu dibakar. Poteng Jaje Tujak ini terbuat dari ketan yang diberi daun suji, pandan, dan gemblong. Bebalung cocok banget buat kamu yang suka tulang sapi. Kuahnya segar, ada jahe, kunyit, cabai, bawang merah, dan bawang putih. Beberuk terong atau lalapan khas Lombok. makanan ini terbuat dari terong yang dicampur tomat, cabai, dan bumbu lainnya. Yang penting harus ada air jeruk limau. ahannya pelepah pisang, sayur khas Lombok ini gurih banget. Kuahnya menggunakan santan dan rempah-rempah (idntimes.com, 5/3/2019).

    Setelah selesai makan, saya berkenalan dengan beberapa presenter seminar. Para presenter terdiri dari berbagai negara dan daerah di Indonesia, ada yang dari Amerika Serikat, Belanda, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Bukit Tinggi, Makassar dan beberapa daerah lainnya.

    Selanjutnya kami  diskusi berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan hasil riset yang kami lakukan, terutama tema yang akan didiskusikan besok. Tak terasa saking asyiknya diskusi, malam semakin larut dan kelalahan sudah menyerang, tandanya saya harus segera pulang ke penginapanan untuk beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk besok presentasi. Bagaimana dengan kisah saat presentasi diselenggarakan ? Nantikan dalam tulisan selanjutnya. Tetap pantengin channel saya ya teman-teman, meskipun tulisan sederhana apalagi baru belajar menulis, mudah-mudahan bermanfaat.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.