Suka Mendiagnosa Penyakit Lewat Internet? Hati-hati Kamu Terkena Cyberhondria - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

pencurian data digital

Muhammad Khairur Rasyid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 8 Agustus 2021 06:07 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Suka Mendiagnosa Penyakit Lewat Internet? Hati-hati Kamu Terkena Cyberhondria

    Fakta menunjukkan lebih 50% pengguna ponsel pintar menggunakan gadgetnya untuk memperoleh info kesehatan. Biasanya lalu berakhir dengan kecemasan. Ingat, belum tentu informasi dari dunia maya itu valid. Akibat dari perasaan khawatir yang terlalu berlebihan dapat memicu kondisi psikologis dan malah menjadi sakit beneran.

    Dibaca : 1.187 kali


    Di era digital ini berbagai informasi dapat dicari lewat internet, tak terkecuali informasi tentang penyakit. Siapapun bisa memperoleh informasi yang berkaitan dengan penyakit tertentu. Namun kita perlu bijak, sebab kalau ternyata semua gejala sesuai dengan yang dialami, jangan sampai membuat panik dan menyatakan diri sendiri menderita penyakit tertentu.

    Dosen Farmasi sekaligus Ahli Mikrobiologi Universitas Esa Unggul, Prof Dr Maksum Radji, M Biomed menerangkan kebiasaan seseorang terlalu sering mendiagnosis jenis penyakit berdasarkan info yang didapat dari internet tanpa bantuan dokter. Kebiasaan ini disebut dengan istilah Cyberchondria. Kata dia istilah Cyberchondria mirip istilah hypochondria, yaitu suatu kondisi di mana seseorang yang sebetulnya sehat walafiat, tetapi bersikeras mengaku sakit. "Hal ini disebabkan stimulasi pikiran negatif yang mendorong otak mereka berpikir bahwa mereka sakit. Padahal kenyataannya, dia tidak sakit apapun,” tutur Maksum.

    Maksum mengatakan akibat dari perasaan khawatir yang terlalu berlebihan dapat memicu kondisi psikologis mereka dan malah menjadi sakit. Fakta menunjukkan bahwa lebih 50% pengguna ponsel pintar menggunakan ponselnya untuk memperoleh info kesehatan dan berakhir dengan kecemasan. Padahal belum tentu informasi yang mereka dapatkan tersebut valid.

    Maksum memberi contoh, misalnya ketika seseorang batuk, atau nyeri dada kiri, mereka akan mencari info dengan kata kunci batuk dan nyeri dada kiri di situs pencari melalui internet. Hasilnya dapat diduga bahwa mungkin ada lebih dari 50 hasil pencarian yang berkaitan dengan informasi tentang penyakit batuk, atau nyeri dada, mulai dari batuk yang terjadi saat demam hingga batuk yang terjadi akibat kanker esofagus. Akibatnya mereka bisa saja berasumsi sendiri tentang penyakitnya berdasarkan info yang mereka dapat dari internet.

    “Dengan banyaknya informasi yang tersebar di internet, mereka menyimpulkan sendiri dengan penyakit terberat, padahal bisa saja, info dari internet tersebut tidak sesuai dengan jenis penyakit yang sebenarnya dialami seseorang. Akibatnya ia akan khawatir,” ucap Maksum.

    Maksum pun menerangkan bahwa di saat pandemi Covid-19 ini banyak sekali informasi yang menyesatkan tersebar diberbagai platform media sosial, yang oleh WHO disebut sebagai Infodemik.

    “Infodemik adalah sejumlah informasi yang berlebihan tentang suatu masalah, sehingga saking massifnya informasi tersebut menjadi sulit untuk diidentifikasi kebenarannya,” ucapnya.

    Maksum mengatakan di Indonesia banyak sekali berbagai infodemik yang perlu diwaspadai. Mulai dari isu konspirasi, virus COVID-19 merupakan hasil rekayasa, hingga klim obat virus yang ampuh tapi yang belum melalui uji klinik, COVID-19 bukan disebabkan oleh virus tapi oleh bakteri, dan berbagai info menyesatkan lainnya.

    “Akibatnya infodemik muncul berbagai kepanikan, termasuk menimbulkan kecemasan di kalangan masyarakat. Infodemik juga menimbulkan dampak yang kurang lebih sama dengan cyberchondria,” katanya .

    Prof. Maksum pun mengatakan terdapat tiga hal yang dapat dilakukan seseorang untuk dapat terhindar dari cyberchondria dan Infodemik, Pertama, jangan mudah percaya pada video, poster, tulisan atau info apapun yang tidak jelas sumbernya, tentang wabah Covid-19, menurutnya banyak narasi ataupun infografis yang beredar tanpa mencantumkan sumber resmi. Perlu dipastikan bahwa sumber informasinya terverifikasi.

    “Kedua, tabayyun, artinya mencari informasi pembanding yang benar dan jangan mudah meneruskan informasi yang didapatkan di medsos ataupun internet yang belum diklarifikasi kebenarannya. Ketiga, konsultasikan dengan para ahli dan buka situs resmi pemerintah pusat covid19.go.id, ataupun situs resmi Pemda setempat tentang Siaga Covid-19,” tuturnya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.