Menanti Kearifan Pemimpin Bagai Menunggu Godot - Analisis - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 17 September 2021 08:15 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menanti Kearifan Pemimpin Bagai Menunggu Godot

    Dengan membiarkan suatu peristiwa terjadi atau suatu persoalan tetap mengambang, para pemimpin memetik keuntungan dengan tangan tampak terlihat bersih. Rakyat menanti kearifannya sebagai pemimpin, tapi para pemimpin berpura-pura tidak tahu. Hingga akhirnya rakyat tahu bahwa mereka tengah menunggu Godot.

    Dibaca : 1.187 kali

    Dukung penulis indonesiana

     

    Sebagian pemimpin tidak menyukai poster-poster protes maupun mural-mural pengungkap perasaan hati kaum marjinal. Sebagian pemimpin barangkali bertelinga tipis sehingga mudah panas tatkala mendengar kritik dari masyarakat. Sebagian lainnya menutup mata dan telinga dari hal-hal yang disuarakan rakyat, sebab bila hal-hal itu diperhatikan malah bikin susah tidur.

    Mengapa ada pemimpin—atau yang dianggap pemimpin, atau yang menganggap diri pemimpin—yang bersikap acuh tak acuh terhadap kesukaran hidup dan keluhan orang-orang yang ia pimpin? Ada banyak alasan. Pertama, mereka bersikap seolah-olah yang dipimpin sedang baik-baik saja, sehingga mereka lebih senang berasyik masyuk mengerjakan apa saja keinginan mereka walaupun itu tak terkait dengan urusan terpenting orang-orang yang dipimpin. Para pemimpin ini menganggap protes, kritik, dan sumbang saran itu sebagai interupsi yang mengganggu kesibukan, keasyikan, dan kenyamanan.

    Kedua, sebagian pemimpin bersikap tidak mau tahu dan mengaku sudah terlampau banyak persoalan yang harus ia tangani; atau ia berkata bahwa persoalan itu bukan urusannya—cara menghindar yang terlihat gamblang. Banyak bawahan yang kemudian bersikap sebagai pelindung atasan dengan mengatakan bahwa itu bukan urusan blio, itu sudah ada yang menangani, jangan semua urusan dibawa kepada blio, dst. Bawahan yang cerdik mengambil hati memang cenderung menjadi pelindung yang sigap bagi atasannya.

    Ketiga, sebagian pemimpin mungkin saja membiarkan persoalan tertentu tetap berjalan seperti yang sudah terjadi. Ia tidak melakukan intervensi walaupun masyarakat luas mengritik penanganan persoalan itu. Mengapa ia membiarkan itu terjadi? Tak lain karena ia melihat ada keuntungan yang bisa dia peroleh dari cara bawahannya atau orang lain menangani persoalan itu. Jika sudah menguntungkan dirinya, untuk apa intervensi? Ia tidak mempedulikan kritik masyarakat.

    Keempat, sebagian pemimpin lebih suka diam saja, berpura-pura tidak tahu-menahu, atau bahkan menutup mata dan telinga terhadap suara publik, sebab ia tahu kritik itu akan reda sendiri. Biarkan saja, lama-lama kritik itu akan reda. Pemimpin ini tahu bahwa rakyat tidak akan mampu bertindak lebih jauh; yang bisa dilakukan rakyat hanya protes dan protes tanpa kekuatan. Pemimpin ini juga tahu bahwa keinginannya akan tetap terwujud tanpa ia perlu mengerahkan tenaga dan pikiran untuk intervensi atau meredam protes dan kritik.

    Dengan membiarkan suatu peristiwa terjadi atau suatu persoalan tetap mengambang, pemimpin-pemimpin ini memetik keuntungan tanpa perlu bersusah payah. Keadaan rakyat yang nirdaya membuat protes dan kritik tidak cukup memiliki kekuatan untuk menarik perhatian pemimpin, apa lagi menekan pemimpin agar menyelesaikan persoalan itu secara semestinya. Selagi pemimpin melihat ada keuntungan dari tindakan tertentu yang dilakukan bawahannya, walaupun diprotes masyarakat, mereka akan memilih diam dan membuang badan. “Masak segala urusan diserahkan ke saya,” menjadi frasa kegemaran pemimpin ini dengan sikap seolah-olah tak tahu-menahu bahwa rakyat sungguh berharap kepada kearifannya sebagai pemimpin.

    Banyak pemimpin yang baru membuka mata dan telinga manakala ia hendak melihat apa yang ingin ia lihat dan hendak mendengar apa yang ingin ia dengar. Pemimpin ini tidak siap menghadapi kejutan kecuali yang menyenangkan. Ia juga tidak menyukai penolakan. Tidak heran bila orang-orang di sekelilingnya berusaha menyenangkan hati para pemimpin ini dengan hanya memasok informasi yang menggembirakannya dan mengagendakan kegiatan yang menyenangkannya. Pemimpin seperti ini dapat dijumpai di manapun di bumi ini.

    Rakyat yang sedang menanti tanggapan kearifan pemimpin akhirnya harus menanti lama, lamaaaaaa sekali, bahkan hingga akhirnya rakyat tahu bahwa mereka tengah menunggu Godot. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.