Percaya pada Hoaks Hanya Berakibat Membatasi Ruang Hidup Kita - Analisis - www.indonesiana.id
x

Image by <a href="https://pixabay.com/users/geralt-9301/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=2097358">Gerd Altmann</a> from <a href="https://pixabay.com/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=2097358">Pixabay</a>

zahara rony

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Agustus 2021

Rabu, 22 September 2021 09:21 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Percaya pada Hoaks Hanya Berakibat Membatasi Ruang Hidup Kita

    Berita bohong (hoax) di era digital dengan mudah tersebar. Hoax menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengguna teknologi dan media sosial. Kita masuk kelompok penerima atau pencipta hoax? Kedua peran itu memberikan dampak dalam kehidupan, terutama para penyebar berita hoax. Perlu kesadaran bahwa stiap informasi perlu diuji. Itu untuk memastikan apakah pikiran seseorang merepresentasikan kebenaran universal, atau tidak.

    Dibaca : 1.007 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dewasa ini dengan hadirnya teknologi menyebabkan dunia informasi dipenuhi kebohongan massal termasuk hoax yang sering hadir di tengah kita. Hoax merupakan informasi atau berita yang berisi hal-hal yang belum pasti atau sesunguhnya bukan sebuah  fakta. Kini informasi atau berita yang dianggap benar tidak mudah ditemukan.

    Survey Mastel (2017) mengungkapkan bahwa dari 1.146 responden, 44,3% diantaranya menerima berita hoax setiap hari dan 17,2% menerima lebih dari satu kali dalam sehari. Bahkan media arus utama yang diandalkan sebagai media yang dapat dipercaya terkadang ikut terkontaminasi penyebaran hoax masing-masing sebesar 1,20% (radio), 5% (media cetak) dan 8,70% (televisi).

    Selain itu hoax banyak beredar di masyarakat melalui media online. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mastel (2017) menyebutkan bahwa saluran yang banyak digunakan dalam penyebaran hoax adalah situs web, sebesar 34,90%, aplikasi chatting (Whatsapp, Line, Telegram) sebesar 62,80%, dan melalui media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, dan Path) yang merupakan media terbanyak digunakan yaitu mencapai 92,40%.

    Sementara itu, data yang dipaparkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar hoax dan ujaran kebencian (Pratama, 2016).            

    Di zaman ini teknologi semakin maju, banyak orang ingin dikenal dan selalu eksis dengan memanfaatkan media sosial, mekipun mereka harus membuat suatu kuasi kebenaran/kebenaran semu, dengan menyampaikan informasi tak akurat dan meragukan. Orang berkata-kata dengan ketidaktahuannya. Orang tak tahu bahwa dirinya tak tahu, tetapi orang itu tetap saja merasa tahu, bahkan sok tahu. Berkata tanpa argumen dengan gagah.

    Celakanya sebagai penerima informasi, kadang kita tak mampu membedakan mana yang salah dan benar. Narasi dan opini yang bertebaran hadir ke permukaan kehidupan dan tanpa sadar  kita menjadi salah satu individu yang memproduksi hoax sehingga banyak korban  mendapatkan informasi yang salah sehingga kita menyumbang sebuah hasil eksekusi kelompok atau masyarakat sangat tidak tepat dan sangat merugikan.              

    Fenomena di atas memberikan isyarat bahwa ada hal penting yang harus dilakukan secara sadar. Setiap informasi perlu diuji. Itu untuk memastikan apakah pikiran seseorang merepresentasikan kebenaran universal, atau semua itu hanya pikiran yang terbatas dan tak bertanggung jawab? Dikhawatirkan pemikiran tersebut hanya menilai situasi berdasarkan perspektif dirinya sendiri, dengan menggunakan data yang dimilikinya sendiri, dan dengan cara pandang dirinya sendiri.

    Fenomena tersebut dapat menyebabkan informasi yang hadir hanya didominasi bias-bias.  Informasi semacam ini bisa mempengaruhi tindakan yang tanpa sadar merugikan diri sendiri dan banyak pihak. Informasi yang belum matang kita terima menjadikan kita manusia kosong tanpa jiwa, dan sepanjang hayat hidup penuh kebimbangan dijejali dengan persepsi semu. Mungkinkah kita secara bijaksana dapat menyikapi informasi dengan selalu mempertimbangkan fakta dan data yang hadir bersamanya?  Disadarikah jika informasi yang berkeliaran tersebut membatasi ruang kita untuk bergerak, sedangkan informasi tersebut belum tentu benar?            

    Realita dalam kehidupan memperlihatkan bahwa sebagian besar manusia memisahkan antara kehidupan dunia (di luar dirinya) dan (kehidupan) pikiran mereka. Hal semacam itu sudah terjadi sejak lama. Manusia telah mendisposisikan diri bahwa di antara dunia dan pikiran adalah dua entitas yang terpisah. Praktik kehidupan itu mencerminkan bahwa persepsi kita membatasi pikiran kita, dan apa yang (tersedia) di luar pikiran kita (MR Luddin, 2019).

    Bahkan sering terjadi yang di persepsikan tidak sesuai dengan fakta dan kenyataannya. Dalam dunia psikologi kita namakan hal tersebut sebuah ilusi. Apa dan bagaimana yang dipersepsikan sesungguhnya tidak sesuai dengan faktanya. Namun tanpa disadari indera kita dapat dikelabui dengan berbagai cara, dan tipuan tersebut meluas ke setiap alat indera, salah satunya mata. Meski disadari bahwa ilusi hanya sebuah tipuan belaka, namun indera kita mempersepsikannya dan terjadilah sebuah ilusi.            

    Dampak dari sebuah ilusi lebih banyak negatif-nya. Itu membuat ruang gerak kita seolah menjadi terbatas. Apa yang dapat dikerjakan semakin sempit. Kita seolah-olah dapat ditentukan semaunya untuk mengerjakan sesuatu yang kecil dan terbatas. Bahkan kita membiarkan pikiran negatif kita merambah dan menguasai pikiran kita. Padahal realitas kehidupan begitu luas. Ia menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya agar manusia memiliki alternatif berbagai tindakan untuk membuat keseimbangan yang utuh.

    Mampukah kita menjaga agar pikiran tetap berada di dalam rel kehidupan positif, sehingga kita bisa melakukan praktik kehidupan bersama dengan lebih bahagia dan sejahtera? Tentunya kita bisa dengan memulai dari menjaga kejernihan informasi dan berkomunikasi. Juga dengan menebar manfaat dan menjawab ketidaktahuan dituntaskan dengan ilmu serta menjunjung integritas.

    Al-Hujurat (49) ayat 6, "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu".  Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya [Al-Israa: 36].  

    Penulis Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan & Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Ubhara Jaya dan Doktor Ilmu Manajemen SDM.   Zahara Tussoleha Rony.  

    Ikuti tulisan menarik zahara rony lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.