Onze Ong - Sosok Onghokham yang Eksentrik - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Cover buku Onze Ong

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 6 Oktober 2021 16:21 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Onze Ong - Sosok Onghokham yang Eksentrik

    Ong Hok Ham mengganti cara penulisan namanya menjadi Onghokham sejak ada anjuran ganti nama. Namun setelah peristiwa Mei 1998, ia kembali menulis namanya menjadi Ong Hok Ham. Ia adalah seorang pejuang kelompok minoritas, penganjur asimilasi, sejarawan, pengajar dan sekaligus seorang penikmat kuliner kelas berat.

    Dibaca : 636 kali

    Dukung penulis indonesiana

    Judul: Onze Ong

    Editor: David Reeve, JJ Rizal dan Wasmi Alhaziri

    Tahun Terbit: 2007

    Penerbit: Komunitas Bambu      

    Tebal: xvi + 358

    ISBN: 978-979-3731-18-6

     

    Kesimpulan saya tentang Onghokham setelah membaca buku ini adalah ia seorang yang eksentrik. Tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan sosok Onghokham selain kata eksentrik. Buku “Onze Ong: Onghokham” Dalam Kenangan ini adalah kumpulan tulisan-tulisan pendek para kolega, sahabat dan keluarga Onghokham yang ditulis dalam peringatan 100 hari kematian beliau. Dari semua tulisan yang terkumpul di buku ini, para sahabat, kolega dan keluarga menggambarkan sosok Onghokham yang betul-betul eksentrik.

    Ong Hok Ham lahir di Surabaya pada tanggal 1 Mei 1933 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 30 Agustus 2007. Ong dibesarkan dalam keluarga Tionghoa kelas menengah yang berorientasi kepada budaya Belanda.

    Dalam tulisan-tulisan di buku ini, Onghokham disebut sebagai seorang sejarawan. Tak kurang dari A. B. Lapian, Anthony Reid, James T. Siegel dan Asvi Warman Adam menyebut Onghokham sebagai sejarawan. Lapian menyebut Onghokham sebagai sejarawan yang menggunakan istilah-istilah Jawa untuk menjelaskan sejarah Eropa (hal. 8). Ini tentu sesuatu yang unik, karena biasanya istilah-istilah Eropa yang dipakai untuk menjelaskan sejarah Jawa/Nusantara.

    Anthony Reid menjuluki Onghokham sebagai orang yang mampu menjelaskan kepada publik tentang pentingnya sejarah dan konteksnya, serta sering menyuarakan pandangan minoritas (hal. 35). Sedangkan Asvi menjulukinya sebagai seorang sejarawan yang kritis bahkan ketus terhadap karya yang dianggapnya tidak bagus (hal. 40). Meski diakui kepakarannya dalam hal ilmu sejarah, Onghokham tidak menghasilkan karya yang luar biasa. Sebab Onghokham lebih banyak menulis di kolom daripada membuat karya besar. Nah bagaimana seseorang disebut sejarawan jika tidak memiliki karya besar di bidang sejarah? Tetapi hanya punya kumpulan tulisan di kolom majalah? Bukankah itu eksentrik namanya?

    Beberapa penulis di buku ini menyebut Onghokham sebagai pejuang bagi kaum minoritas, khususnya keturunan Tionghoa. Tak kurang dari Angus McIntyre, Charles A Coppel, Christianto Wibisono, Eka Budianta, Harry Tjan Silalahi, Mely G. Tan, Mona Lohanda, Myra Sidharta dan The Kian Wie mengakui peran Onghokham dalam meperjuangkan minoritas. Ong adalah seorang penganut aliran asimilasi. Ia sangat kuat mendukung supaya orang tionghoa masuk ke dalam budaya suku dimana ia tinggal. Namun, meski ia adalah seorang penganjur asimilasi, tetapi dia tidak mengganti namanya, seperti layaknya para pendukung asimilasi (hal. 85). Ia hanya mengubah cara penulisan namanya dari Ong Hok Ham menjadi Onghokham. Bukankah ini sesuatu yang eksentrik?

    Keeksentrikan Onghokham ditunjukkan dari ketidak-peduliannya akan kontradiksi saat ia naik turun bus umum di panasnya Jakarta sambil memakai jas dan membaca koran-koran asing. Ong memang tidak suka memiliki mobil. Ia nyaman menggunakan moda transportasi umum. Meski transportasi umum di Jakarta tidaklah cukup representative, tetapi hal itu tidak mengganggunya. Bahkan ia nyaman saja berdesakan dengan penumpang lain sambil tetap membaca New York Times. Kesan ini ditulis oleh banyak sahabatnya dalam buku ini.

    Satu hal yang dibahas agak malu-malu di buku ini adalah tentang orientasi seksual Onghokham. Dede Oetomo. Dalam tulisannya Dede Oetomo menyampaikan bahwa Ong adalah pendukung penuh upaya Dede Oetomo untuk merintis gerakan gay Indonesia. Sebab bagi Ong, homoseksualitas bukan sekadar mengejar kenikmatan tetapi juga soal keadilan dan pembebasan (hal 109). Kasiyanto menggunakan istilah “didekati” oleh Onghokham dalam tulisannya (hal. 217). Kata didekati ditaruh dalam tanda “…” yang pastinya dimaksudkan mempunyai arti khusus. Namun arti khusus itu tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Kasiyanto.

    Keeksentrikan lain – dan menurut saya yang paling menonjol yang ditulis dalam buku ini adalah perilaku hedonis Ong terhadap makanan enak. Hampir semua penyumbang tulisan di buku ini menyinggung kegemaran Ong terhadap makanan enak. Bahkan kegemarannya akan makanan ini menyebabkan ia gagal berangkat ke Amerika untuk membuat penelitian yang dibiayai oleh Pemerintah Amerika. Kegagalannya untuk berangkan konon karena dikhawatirkan ia akan terlalu sibuk minum anggur sehingga risetnya tidak bisa selesai (hal. 40). Kasiyanto menyampaikan bahwa pernah terjadi keributan kecil di kelas Ong, gara-gara Ong membawa bandeng ke kelas sehingga seluruh kelas berbau amis (hal.220). Ong diijinkan mengajar dari rumahnya setelah pensiun. Kegiatannya mengajar di rumahnya terpaksa dihentikan oleh Universitas Indonesia karena saat mengajar dia banyak minum anggur, yang dianggap akan berpengaruh buruk kepada para mahasiswa.

    Onghokham memang memilih untuk tidak menikah dan tidak memiliki keluarga biologis. Namun ia mempunyai banyak kawan dan orang-orang yang setia. Pada masa tuanya dan dalam kondisi sakit, ia ditemani dan dirawat oleh anak-anak muda yang tinggal di rumahnya. Bagi ong keluarga bukan berarti orang-orang yang mempunyai pertalian darah. Tetapi keluarga berarti mereka yang mempunyai ketulusan untuk saling berbagi kehidupan bersama. Ong Hok Ham…eh..Onghokham memang sosok yang eksentrik. 625



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.