Si Coki yang Malang

Kamis, 11 November 2021 15:08 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tentang seekor anjing yang berjuang untuk bertahan hidup ditengah kejamnya perlakuan manusia terhadapnya.

Ini adalah kisahku. Kisah seekor anjing Golden Retriever yang terpaksa harus berjuang bertahan hidup di tengah kejamnya dunia. Perkenalkan, namaku adalah Coki. Aku memiliki bulu yang tebal dan berwarna cokelat, itulah alasan tuanku memberiku nama Coki.

Sejak aku kecil sampai dengan dewasa, aku tinggal bersama dengan Tuanku yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Dia baik, dia selalu mengajakku bermain. Disaat aku sakit, dia selalu merawatku dengan baik. Dia memperlakukanku selayaknya dia memperlakukan manusia lainnya. Dengannya, aku tak perlu khawatir akan kelaparan. Namun, dalam sekejap semuanya berubah. 4 bulan yang lalu, tuanku meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Penyakitnya telah berhasil merebutnya dariku. Sejak saat itu, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Selama ini, aku memang hanya tinggal berdua dengannya. Dia tidak memiliki anak dan istrinya sudah lebih dulu meninggalkan dunia ini. Dan kini hanya aku yang tersisa. Aku harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kehidupanku kini tidaklah seindah dulu. Iya, rumah tuanku kini hanyalah rumah kosong yang tidak berpenghuni. Aku pun hanya bisa sebatas tidur di teras rumah karena pintunya tertutup dan terkunci. Untuk makan pun, aku harus mencarinya sendiri di tempat-tempat sampah atau berharap ada sedikit belas kasihan dari manusia yang melihatku. Sayangnya, tidak ada satupun orang yang peduli pada keberadaanku. Tubuhku yang dulu bulat dan berisi, kini terlihat ringkih.

Bahkan kadang ada beberapa anak kecil yang entah berasal darimana yang masuk kedalam perkarangan rumah ini untuk menggangguku. Tidak jarang pula mereka melempariku dengan kerikil-kerikil kecil. Sakitnya tak seberapa, tapi rasanya sedih. Aku yang biasanya selalu dimanjakan dan diperlakukan dengan sangat baik oleh tuanku, tiba-tiba harus mendapat perlakuan yang seperti ini. Bukan hanya itu, banyak hal yang sudah kulalui selama 4 bulan ini.

Pernah sekali saat aku sedang berjalan menyusuri jalan untuk mencari sesuatu yang bisa kumakan, aku melihat banyak orang duduk disuatu tempat seperti rumah. Di rumah itu, aku melihat orang-orang itu sedang makan. Aku yang tengah kelaparan pun menghampiri mereka. Baru selangkah masuk ke dalam teras, tiba-tiba ada 1 orang yang datang membawa ember dan menyiramku. Aku pun terkejut dan langsung berlari kembali ke rumah.

Jujur saja, hal tersebut membuatku sedih. Aku hanya ingin meminta sedikit makanan orang-orang itu. Aku pun tidak nakal, aku tidak menggigit dan aku tidak berisik. Lalu, kenapa manusia itu menyiramku? Aku langsung bergelung di atas teras sembari tidur memeluk tubuhku sendiri, selera makanku sudah hilang. Yang tersisa saat itu hanya badanku yang menggigil kedinginan. Tapi, itu baru segelintir kisah tentang pengalamanku setelah kepergian tuanku. Masih ada banyak hal yang kualami namun aku tetap bertahan. Hingga kejadian 5 hari yang lalu membuatku trauma dan takut bertemu manusia.

5 hari yang lalu, aku dipukuli oleh lebih dari 1 manusia. Saat itu aku sedang menyusuri jalan perkampungan di sekitar rumahku untuk mencari makan. Hingga datanglah seorang perempuan yang berjalan ke arahku. Saat itu aku agak takut, aku takut dia akan berbuat jahat padaku. Setiap 1 langkahnya berjalan kearahku, aku melangkah mundur.

“Hey, tenang. Jangan takut, ini makanlah”, ucap perempuan itu ke arahku. Aku ragu, tapi entah kenapa perempuan ini terlihat baik. Aku tidak berjalan mundur lagi, tapi aku juga tidak melangkah maju. Aku hanya berdiam di tempat dengan posisi siaga.

Dan ketakutanku ternyata tidak berdasar, perempuan itu mengeluarkan bungkusan dari kantung plastik yang dibawanya. Dia membuka bungkusan itu dan meletakkannya diatas tanah yang ada di halaman luas yang terletak di sampingku. Mataku berbinar melihatnya, ekorku pun ikut bergoyang. Asiikkk, itu makanan!

“Nih, dimakan ya”, ucapnya kepadaku sebelum beranjak pergi. Aku pun senang dan menggonggong ke arahnya sebagai ucapan terimakasih.

Selepas dia pergi, aku langsung menyantap makanan itu. Ini enak. Ini makanan terenak yang pernah kumakan setelah beberapa waktu yang lalu selalu makan dari tempat sampah. Aku sangat bahagia dapat bertemu dengan manusia baik sepertinya.

Namun, kebahagiaanku ternyata tidak bertahan lama. Tiba-tiba datang beberapa manusia ke arahku. Mereka berusaha mengikatkan tali di leherku. Tapi aku melawan. Aku menggonggong dengan keras berharap mereka takut dan pergi. Tapi aku salah, mereka tidak takut. Mereka tetap berusaha mengikatkan tali itu di leherku. Aku pun reflek menggigit satu tangan yang paling dekat dengan wajahku.

Dan sepertinya aku salah langkah, tindakan yang ku lakukan untuk melindungi diriku sendiri justru berbalik menjadi bumerang untukku. Manusia-manusia itu malah memukulku dengan batang pohon pisang yang berjatuhan di tanah sekitarku. Badanku sakit, tapi aku terus menggonggong. Berharap ada yang bisa menolongku, tapi nihil. Tak ada satupun manusia yang datang untuk menolongku. Mungkin manusia baik yang tadi memberiku makan tinggal jauh dari sini.

Dengan sisa tenaga yang ku miliki, aku berusaha kabur dari kerumunan para manusia-manusia jahat itu. Dan aku pun berhasil. Aku berlari dengan menahan sakit ke rumahku. Saat menoleh ke belakang, untungnya manusia-manusia itu tidak mengejarku.

Sejak saat itu, aku tidak berani lagi untuk keluar rumah. Ketika aku lapar, aku akan memakan rumput liar yang tumbuh di pekarangan rumah tuanku. Namun sejak 2 hari yang lalu, aku seperti kehilangan seluruh tenagaku. Bergerak untuk berpindah posisipun aku tak sanggup. Kini aku hanya bisa berbaring meringkuk diatas teras dingin ini. Badanku rasanya sakit semua.

Di tengah rasa sakit yang aku rasakan, aku berdoa kepada Tuhan. Aku meminta agar Tuhan bisa membawaku pergi saja dari dunia ini. Aku pikir akan lebih baik di atas sana daripada di bawah sini. Mungkin di atas sana aku bisa bertemu kembali dengan tuan yang menyayangiku dan memperlakukan dengan sangat baik. Tidak seperti manusia-manusia lain yang kutemui. Tanpa kusadari, mataku berair. Aku pun perlahan memejamkan mataku. Berharap saat aku membuka mata nanti, aku bisa bertemu kembali dengan Tuan.

Bagikan Artikel Ini
img-content
tikusputih

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Si Coki yang Malang

Kamis, 11 November 2021 15:08 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content

Purata

Selasa, 7 Desember 2021 14:09 WIB

img-content
Lihat semua