Merajut Optimisme di Tengah Badai Korupsi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Menggambarkan tentang pendidikan anti korupsi dilingkungan keluarga

Janwan S R Tarigan (Penggembala Kerbau)

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Agustus 2020

Minggu, 21 November 2021 07:43 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Merajut Optimisme di Tengah Badai Korupsi

    Salah satu agenda utama Reformasi yakni pemberantasan korupsi. Alih-alih korupsi diberangus justru yang kita saksikan sendiri semakin merajalela menggerogoti sendi-sendi bangsa. Akan tetapi kita tidak boleh kalah dari badai korupsi ini, Bambang Widjojanto memandang “Optimisme pemberantasan korupsi harus terus dihidupkan kendati hujan badai dan gelegar petir korupsi terus menghantam persada dari negeri tercinta”.

    Dibaca : 1.745 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tema korupsi tidak pernah sepi dalam perbincangan publik hingga kini. Bambang Widjojanto (BW) mengonfirmasi hal tersebut melalui buku ”Berantas Korupsi Reformasi: Catatan Kritis BW”. Disebut catatan kritis karena ditulis oleh seorang yang aktif dalam agenda pemberantasan korupsi. Pak BW selain sebagai aktif Dosen Fakultas Hukum di Universitas Trisakti, juga dikenal sebagai aktivis antikorupsi, pernah menjabat sebagai Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada masa 2011-2014, dan juga merupakan advokat ulung.

                Gagasan dalam tulisannya merupakan perpaduan pengalaman sebagai praktisi antikorupsi dan sebagai akademisi hukum. Sesuai dengan latarbelakangnya, catatan dalam buku ini menyajikan data dan fakta, serta analisis hukum dalam pemberantasan korupsi di Indonesia selepas reformasi. BW memandang bahwa salah satu agenda utama Reformasi yakni pemberantasan korupsi akan tetapi hingga kini tampak belum sesuai harapan rakyat. Alih-alih korupsi diberangus justru semakin merajalela menggerogoti sendi-sendi bangsa. Pemetaan modus korupsi secara jelas digambarkan berikut dengan strategi intervensinya. Selain itu, disertakan juga contoh korupsi yang memudahkan pembaca memahami secara kontekstual. Uniknya, selain menjabarkan secara kritis praktik korupsi reformasi, juga turut mengusulkan solusi dan berusaha membangun optimisme pembaca. Tegas BW, “Optimisme pemberantasan korupsi harus terus dihidupkan kendati hujan badai dan gelegar petir korupsi terus menghantam persada dari negeri tercinta”.

                Pembaca dibuat terperangah dengan fenomena unik korupsi reformasi yang tidak kalah miris dengan korupsi ‘Orde Baru’. Sebagaimana dijelaskan dalam Bab pertama yang diberi sub judul “Korupsi di Era Reformasi (Rezim Reformasi Bukan Antitesis Rezim Orde Baru?). hemat BW, pembedanya adalah keberadaan KPK, kemudian membuat koruptor semakin tertantang merancang siasat yang lebih canggih untuk melakukan agenda koruptifnya. Lebih tajam, BW mengungkapkan fakta bahwa koruptor selalu bekerja bersama dan terorganisir atas dasar berbagai motif. Bahkan koruptor terang-terangan membangun jaringan melalui oligarki dan kartel politik agar mampu mengelabui penegak hukum, utamanya KPK. Herannya lagi, koruptor melakukan serangan balik (corruptor fights back) terhadap KPK yang berusaha memeranginya. Korupsi kian menggerogoti sendi-sendi bangsa, terlebih belakangan ada persoalan Tes Wawasan Kebangsaan.  

                Seorang yang sudah malang melintang sebagai aktivis antikorupsi, dosen advokat, dan sempat menjabat komisioner KPK kemudian menuliskan pengalannya membuat bukunya kaya substansi dan menarik dibaca. Substansi buku ini tidak lagi diragukan baik secara teori maupun praksis. Selain itu, penjelasan penulis mudah dipahami karena berdasarkan paduan teoritis dan praksis. Ringkasnya, buku “Berantas Korupsi Reformasi: Catatan Kritis BW” ini menarik karena tidak hanya berhasil mengkritisi praktik korupsi reformasi, tapi juga menawarkan solusi dan berusaha membangun optimisme para pembacanya dalam memerangi korupsi di negeri ini.

                Buku ini layak dan perlu dibaca oleh siapapun sebagai sarana mengasah nalar dan menambah wawasan. Secara khusus buku karya Pak BW ini layak dan disarankan dibaca oleh mereka yang memiliki panggilan pada agenda antikorupsi, baik itu aktivis antikorupsi; akademisi hukum dan sosial politik; serta para politisi, birokrat dan pimpinan Negara maupun daerah. Substansi buku “Berantas Korupsi Reformasi” akan sangat berguna memperdalam pemahaman tentang korupsi, implikasinya serta membangkitkan semangat dalam pembaerantasannya.

    Ikuti tulisan menarik Janwan S R Tarigan (Penggembala Kerbau) lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Priskila Naomi

    19 jam lalu

    Asa

    Dibaca : 79 kali