x

Iklan

Ahmad Syafiqul Umam

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 November 2021

Minggu, 28 November 2021 14:24 WIB

Esok Tak Akan Ada Cahaya

Cerpen untuk Sayembara Cerpen Indonesiana.id 2021

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Besok Tak Akan Ada Cahaya

 

Asep menghitung lagi lembaran kertas merah di hadapannya. Berkali-kali untuk memastikan jumlahnya. 4 lembar merah dan 3 lembar warna hijau. Pas. Sebelum ia beranjak dari toko emas itu, ia menoleh sebentar ke cincin miliknya yang baru saja berpindah tangan. Perasaan haru dan marah teraduk dalam hatinya. Cincin pernikahan. Cincin simbol cinta yang katanya abadi dan harus dijaga sampai mati. Asep berusaha melaksanakan perannya. Nyatanya ia dikhianati duluan. Dua bulan lalu di suatu pagi Asep menemukan istrinya raib dari tempat tidur, pun semua pakaian miliknya. Mungkin, ia tak tahan kemiskinan. Tersisalah Asep Bersama Farid, anak lelakinya yang berusia 10 tahun, dan Sukma yang masih 18 bulan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Asep segera membunuh kegundahannya. Ia tersenyum mengingat janjinya kepada Farid untuk pulang sambil membawa susu untuk Sukma, dan juga sebungkus martabak telur. Pada malam-malam sebelumnya, Asep selalu gagal menepati janji itu. Pekerjaannya sebagai tukang becak hanya cukup untuk uang sewa rumah gubuk dekat lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan makan dengan menu yang hanya cukup memenuhi standar kenyang. Senyum Asep semakin mengembang, mulai besok pula Farid tak perlu menyalakan lilin untuk menikmati nasi bungkus ketika sarapan selepas Isya. Listrik rumah akan segera kembali menyala.

Dikayuhnya becak tua miliknya. Segera menuju minimarket terdekat. Ia sedang puasa seperti hari-hari lainnya. Hawa udara juga sedang kejam pertanda akan hujan lebat. Tapi bayangan senyum Farid dan wajah tenang Sukma ketika tidur karena kenyang memberikannya kekuatan tiba-tiba.

Susu sudah dibeli, dan kebetulan di depan minimarket ada penjual martabak. Asep memesan seporsi martabak spesial. Asep bahagia bisa memberikan sedikit kemewahan untuk anak-anaknya. Asep letakkan susu dan martabak di kursi becak depan layaknya barang berharga yang tak boleh lepas dari pandangan. Tinggal menuju tempat pembayaran listrik. Tempatnya cukup jauh. Tapi bagi Asep itu bukan apa-apa.

“Besok akan ada cahaya.”, benak Asep sambil tersenyum merekah.

Sebenarnya sudah beberapa hari Asep merasa ada yang tidak beres dengan roda depan kanan becak. Beberapa kali ban terlihat goyah. Entah karena usia ban yang sudah tua atau jeruji yang dijadikan sarang karat.

“Ah, nanti pasti ada uang sisa. Semoga cukup untuk beli ban baru.”, kata Asep dalam hati.

Jalan raya ramai seperti jam siang pada hari lainnya. Asep sibuk menghalau debu agar tak masuk mata, ia jadi tak awas melihat genangan di hadapannya. Rupanya itu lubang besar penuh air akibat hujan deras kemarin malam. Becak terjembab masuk lubang. Rodanya lepas. Asep tak siap. Segera ia jatuh terkapar. Dari belakang muncul bus kota. Sopir bus kaget. Kaki kiri yang siaga menekan pedal rem kalah cepat dengan ban bus yang melindas kepada Asep.

“Krass”

Bus mendecit. Orang-orang mulai berteriak. Asep sudah hilang nyawa. Martabaknya tercecer di mana-mana.

 

Epilog

Malam telah petang. Farid segera membuka pintu rumah yang dari tadi digedor. Ia sudah lama menunggu ayahnya datang. Tapi ia tahu di balik pintu bukan sosok yang ia tunggu.

Setelah pintu terbuka Faris melihat Pak Karman, tetangganya yang biasa berangkat membecak bersama ayahnya, berdiri sambil menatapnya. Farid belum sempat berkata apa-apa ketika Pak Karman tiba-tiba merunduk memeluk dia. Ia merasakan bahunya basah. Ia tak paham mengapa Pak Karman menangis. Yang jelas di hadapannya ia hanya melihat langit malam petang

Entah, malam itu terasa lebih hening.

Dari belakang terdengar suara tangis Sukma yang semakin nyaring.


Ahmad Syafiq

Singosari, 27 November 2021

 

 

~ dongeng tentang derita tak pernah habis dicerita, agar orang tak punya jeda untuk berkeluh kesah ~

Ikuti tulisan menarik Ahmad Syafiqul Umam lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu