Covid19 Wars - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Hendi Kusuma S Soetomo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 September 2021

Minggu, 28 November 2021 16:58 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Covid19 Wars


    Dibaca : 410 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perjuangan seorang pemuda yang  meninggalkan desa demi jadi relawan tenaga kesehatan melawan covid19.


    Suara roda tempat tidur pasien terdengar dibeberapa ruangan rumah sakit,  diatasnya terbaring tubuh lelaki paruh baya dengan tangan terinpus dan mulut terbungkus masker oksigen.  

    "Permisi tolong beri jalan," kata perawat yang mengenakan baju Alat Pelindung Diri (APD)  pada tamu rumah sakit.

    Perawat itu  terburu-buru mendorong tempat tidur menuju ruang karantina.
    Sesampai di ruang karantina, ia memanggil relawan tenaga kesehatan (nakes) jaga.

    "Wiga, satu lagi pasien suspect covid19," kata perawat 

    Wiga yang mendengar panggilan itu langsung mengambil tempat tidur dan meletakannya di tempat yang masih kosong. 

    "Ini catatan medisnya, semua kami serahkan kepada kalian," kata perawat menyerahkan papan kertas berisi data pasien lalu pergi. 

    "Baik," jawab wiga singkat. 

    Wiga kemudian melihat pasien dan membaca catatan medisnya. 

    "Nama pasien Jeffry,  umur 48 tahun,  menikah dan bekerja sebagai seniman," pikirnya. 


    "Bagaimana Wiga," terdengar suara perempuan bertanya dari belakang. 

    "Dokter Lena,  pasien ini baru sampai.  Berdasarkan catatan suspect covid19," jawab Wiga.

    Dokter Lena lalu mengambil catatan dan mulai memeriksa pasien, terlihat gejala demam, napas sesak dan kedua kaki bengkak keras dan demam. 

    "Benar,  dia positif covid19 dan ada riwayat penyakit jantung. Pastikan inpus dan oksigen tercukupi dan pantau tekanan darahnya,"ucap Dokter Lena pada Wiga. 

    "Baik dokter," jawab Wiga


    Lalu tiba-tiba terdengar bunyi keras dari ujung kamar, seorang pasien terlihat meronta-ronya di tempat tidur,  tubuhnya  naik nurun, napas termegap-megap seperti tercekik. 


    "Cepat bergerak." kata dokter lena pada seluruh nakes diruang karantina.

    Merek mendatangi pasien lalu menutup tirai pembatas. Seluruh tim berusaha menahan tubuh pasien yang meronta-ronta itu. 

    "Wiga periksa jalur oksigen dan pernapasan pasien," ucap Dokter Lena

    "Jalur oksigen semua lancar, tapi pernapasannya seperti tersumbat." jawab wiga. 

    "Virus itu ternyata telah merusak jaringan pernapasan." ucap dokter lena. 

    Tim terus berusaha menyelamatkan pasien dengan membuka jalur pernapasan, namun sayang nyawa pasien tidak bisa lagi diselamatkan, virus covid19 telah merusak jaringan pernapasan.

    Dokter lena dan semua perawat medis terduduk dilantai,  mereka terlihat letih dan lesu setelah pasien meninggal.

    "Sial, seandainya sudah ada vaksin."teriak dokter lena marah. 

    "Tenang bu,  kita sudah berusaha maksimal." kata wiga menenangkan dokter lena.

    "Hari ini sudah 3 orang meninggal,  entah besok berapa banyak lagi." keluh dokter lena.

    Wiga diam,  ia tidak mampu menjawab pertanyaan dokter lena.  Ia tahu virus covid19 terus menyebar dan belum ada obatnya.

    "Wiga kamu urus jenazahnya sesuai protokol kesehatan. Jangan sampai virus covid menyebar lebih luas." tegas dokter lalu pergi meninggalkan ruang karantina

    "Baik dokter." jawab wiga. 

    Wiga kemudian membungkus tubuh pasien dengan kantong jenazah, seluruh pakaian dan peralatan yang digunakan pasien harus dibuang guna mencegah penyebaran virus. Pasien dimandikan lalu dimasukan dalam peti jenazah. 

    Tanpa terasa jam menunjukan pukul 23:00 WIB, seluruh ruangan rumah sakit tampak hening, sekarang waktunya pergantian jam kerja. 

    Wiga bersama nakes lainnya bergegas masuk ke ruang sterilisasi,   seluruh pakaian APD yang kenakan di lepas lalu dibuang. Mereka di tes suhu badan dan tes swab petugas strelisasi,  setelah semua diperiksa dan dinyatakan aman  barulah masuk kamar mandi membersihkan tubuh. 

    "Ayah, ibu,  doakan aku anakmu. " bathin wiga sembari mandi dan  terbayang wajah kedua orangtuanya. 

    *****

    Maret 2020

    Dunia gempar,  teror virus covid19 dimana-mana,  televisi dan surat kabar setiap hari memberitakan kematian orang terkena virus, masyarakat dan pemerintah pun panik. Virus covid jadi ancaman manusia di bumi. 

    Sebuah video beredar di sosial media,  seorang lelaki berpakaian hitam warga kota Wuhan, China,  terlihat berjalan merayap, tidak beberapa lama tubuh lelaki itu rebah ke tanah lalu mati seperti kehabisan napas, lelaki itu diserang virus covid19.

    "Virus yang mengerikan," kata wiga pada romi menyaksikan video itu.  

    "Lelaki itu langsung mati," jawab romi. 

    "Iya,  dia seperti tercekik lalu jatuh." wiga menjelaskan isi video. 


    Wiga dan romi baru saja lulus Akademi Perawat. Rencananya mereka akan bekerja di Rumah Sakit Daerah di Kota Bengkulu tahun ini. Tetapi pihak kampus dan pemerintah daerah meminta mereka untuk jadi tenaga kesehatan penanggulangan  pandemi covid di Jakarta.  Karena itu mereka terus mencari informasi tentang virus covid19.


    "Bagaimana rom, jadi ikut ke Jakarta ?" tanya wiga 

    "Tapi virus ini berbahaya dan belum ada obatnya,  salah-salah nyawa kita yang melayang." jawab romi. 

    "Rom,  kita ini calon perawat dan kita sudah disumpah untuk melayani masyarakat. Apapun resikonya kita harus siap." ucap Wiga. 

    "Aku pikir-pikir dulu dan minta izin pada kedua orangtua ku." jawab romi agak ragu.

    "Baiklah aku tunggu jawaban mu, malam ini aku juga akan minta izin pada orang tua." mereka lalu pulang kerumah masing-masing. 

    Malam harinya diruang tamu,  kedua orangtua wiga menyaksikan televisi, presenter televisi membacakan berita berjudul "Kasus Positif Covid19 Terus Melonjak, Jakarta Kekurangan Tenaga Kesehatan". beberapa slide video kepanikan masyarakat dan rumah sakit bergantian muncul, keterangannya mengatakan Indonesia Darurat Covid19.

    "Ayah, Ibu,  Wiga ingin bicara." kata wiga

    Kedua orangtua wiga kemudian mematikan televisi dan menoleh kearahnya. 

    "Ada apa nak,  kamu mau bicara apa?." kata ayahnya. 

    "Begini ayah,  wiga akan berangkat ke Jakarta.  Kami mendapat tugas sebagai relawan kesehatan covid19." kata wiga menerangkan

    Ayah wiga kemudian melihat istrinya.  Merek berdua diam sejenak dan berpikir. 

    "Jangan nak,  virus itu berbahaya, kau bisa mati. Ibu tidak ikhlas kalau terjadi apa-apa pada diri mu." jawab ibu wiga. 

    "Benar nak,  kami tidak rela jika harus kehilangan kau.  Lagi pula kau akan bekerja di rumah sakit daerah disini." kata ayah wiga membantu istrinya. 

    Wiga menatap kedua orangtuanya dan mengatakan. 

    "Ayah, ibu,  wiga seorang perawat dan telah disumpah melayani.  Jakarta saat ini kekurangan tenaga kesehatan kami para perawat muda dipanggil untuk membantu negara dalam keadaan darurat. " wiga mencoba menjelaskan.

    "Tapi nak, bagaimana kalau terkena virus itu.  " kata ibunya 

    "Ayah, ibu, tenang saja.  Kami perawat memiliki prosedur pencegahan supaya tidak terpapar virus itu, semua perawat akan dilindungi dengan pakaian APD." jawab wiga

    Kedua orang tua wiga tidak yakin dengan penjelasan anaknya,  tapi anaknya seperti sulit ditolak keinginanya. 

    "Baiklah,  ayah dan ibu izinkan,  tapi kamu harus selalu waspada." kata Ayah wiga. 

    Mendengar restu itu wiga mengucapkan terima kasih pada orangtuanya. Dan memohon doa supaya selamat dalam menjalankan tugas. 

    *****

    Hari sudah pagi,  udara kota jakarta mulai penuh asap kendaraan bermotor.  Mobil jemputan relawan nakes sudah terparkir di lobby hotel,  mereka yang sudah menunggu langsung masuk kendaraan menuju rumah sakit.
     
    Sesampainya dirumah sakit keadaan sudah penuh sesak,  pasien yang diduga positif virus covid19 berdatangan dari berbagai daerah datang. Kasus positif terus meningkat seminggu terakhir angka kematian juga meningkat.


    "Apa kabar wiga." kata romi teman kampus wiga yang kini juga jadi relawan tenaga kesehatan.

    "Baik-baik saja,  hari ini seperti kita akan sangat sibuk. Kasus positif kembali meningkat." jawab wiga.

    "Semoga saja bencana ini cepat berakhir." ucap romie melihat sekililing rumah sakit yang penuh pasien.

    Lalu suara keras dorongan roda tempat tidur pasien menuju ruang karantina menghentikan obrolan mereka.  Para nakes bergegas ke ruang karantina dan memakai APD.  Benar saja,  lagi-lagi pasien positif covid19 yang datang,  mereka langsung menerapkan protokol kesehatan pada pasien.  

    Wiga dan romi lalu memasang inpus, mengecek suhu tubuh, tes swab pada pasien.  Namun ketika hendak memasang masker tabung oksigen ternyata tidak ada.  

    "Dimana tabung oksigen?." tanya wiga pada nakes yang lain. 

    "Tabung oksigen habis,  semuanya sudah terpakai." kata nakes yang lain. 

    Wiga lalu meninggalkan pasien dan pergi ke bagian logistik.

    "Apa masih ada tabung oksigen." pada petugas logistik

    "Tabung oksigen dan APD habis, ini sedang menunggu bantuan pemerintah." ucap petugas. 

    Wiga menyadari sekarang keadaan akan semakin sulit jika tidak ada tabung oksigen,  pasien covid19 harus mendapatkan masker oksigen untuk bantuan bernapas.  

    Ditengah keadaan genting kekurangan tabung oksigen para nakes terus berjuang menyelamatkam nyawa pasien covid.  Mereka terus berjibaku dengan peralatan dan obat-obatan yang ada. 

    Setiap hari semakin banyak pasien positif covid19, makin banyak pula pasien meninggal dunia. Suara tangis keluarga pasien jadi hal biasa di rumah sakit. 

    Pemerintah juga sedang berupaya memenuhi kebutuhan APD,  Oksigen dan menunggu vaksin.

    *****

    Setelah 3 bulan bertugas kabar buruk pun datang, virus covid19 mulai menyerang dokter dan para nakes.  Tercatat ada puluhan dokter dan ratusan nakes meninggal dunia. 

    Tujuh orang termasuk wiga dinyatakan suspect covid19 oleh pihak rumah sakit, mereka harus diisolasi  dan diselamatkan.  

    Wiga terbaring di rumah sakit,  tubuhnya lemah,  demam, batuk kering dan flu seperti gejala virus covid19 pada umumnya.  

    "Istirahalah ga, kami akan berusaha menyembuhkan mu." kata romi menghibur wiga. 

    "aku tidak menyangka akan tertular virus ini." ujar wiga 

    "Bukan kau saja yang kena,  ada 2 dokter dan 5 nakes yang suspect." tambah romi. 

    "Bagaimana nasib mereka sekarang?" tanya wiga

    "Semua masih gejala ringan, kalian akan di isolasi di luar kota." kata romi. 

    "Syukurlah, semoga semua baik-baik saja." harap wiga. 

    Kemudian mereka yang nyatakan suspect covid19 di isolasi mandiri di asrama luar kota,  mereka tidak boleh berhubungan langsung dengan masyarakat untuk sementara waktu. 
    Lokasi asrama terletak jauh dari pemukiman penduduk, didalamnya terdapat  taman hijau,  fasilitas kolam renang dan lapangan olahraga. 

    Setiap hari dokter dan nakes yang dinyatakan suspect di pantau kondisinya,  apakah mereka mengalami gejala berat atau ringan. Mereka juga diwajibkan menjalankan protokol kesehatan 3M dan pola hidup sehat. 

    Setelah dua minggu menjalankan isolasi mandiri kabar baik pun datang,  informasi sejumlah 
    media massa memgumumkan vaksin virus covid19 telah ditemukan, beberapa negara sedang memproduksi massal vaksin dan akan didistribusikan pada negara-negara yang membutuhkan. 

    "Alhamdulillah, vaksin sudah ditemukan." ucap wiga. 

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Hendi Kusuma S Soetomo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Arif Munandar Prayitno

    12 jam lalu

    Senja

    Dibaca : 85 kali


    Oleh: Farhanaang__

    12 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 135 kali