Semesta yang Terbakar Bara - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Muliea Chindho

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2021

Senin, 29 November 2021 10:29 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Semesta yang Terbakar Bara

    cerita singkat tentang percintaan anak remaja...

    Dibaca : 213 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                                                   Semesta yang Terbakar Bara
                                                                 Muliea chindho
                Suara jatuhnya air hujan adalah salah satu karunia terindah dari tuhan yang di perdengarkan secara Cuma-Cuma alias geratis. Pagi ini mendung menyelimuti kota kecil ini, mengunci ketenangan di  dalam bilik kamarku dan pula di dalam hatiku. Awan abu-abu kehitaman yang terlihat sangat lembut di balik jendela seolah mengadu padaku, Ia merajuk pada matahari yang beberapa bulan ini selalu menguasai pagi, siang dan juga sore. Aku masih dengan baju kaos dan celana pendek selutut, menikmati rainy Sunday, katanya.

                 Aku membawa langkah kaki ku ke depan jendela dan membukanya, membiarkan wajahku 
    tersentuh rintik hujan, huh dramatis!. “Kamu ngapain?” suara ayah mengagetkan aku yang tengah 
    menikmati suasana paling syahdu ini. Aku menoleh, nyengir, malu.
             

               “udah lama ya nggak hujan gini, kayanya awet nih hujannya” Sambil mengaduk teh yang Ia 
    seduh, Ibu melihat keluar jendela dapur yang juga terbuka. Suasana rumah sangat hangat di tengahtengah hari yang sejuk.

               Sudah pukul sepuluh pagi, tapi sisa-sisa rintik hujan yang jatuh dari langit ke atap rumah masih tertinggal, namun inilah yang paling pantas untuk dinikmati. Aku memutuskan untuk mandi dengan air hangat lalu bersiap menemui Bara, pacarku. Aku dan Bara sudah membuat janji untuk bertemu di sebuah kedai kopi kecil di kota kami.

               Aku dan Bara sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun, melewati banyak suka dan duka, saling berbuat salah dan juga saling memaafkan. Mempertahankan kami yang sebenarnya sudah banyak keropos di makan waktu. Sering kali laki-laki itu membuatku naik pitam dan meledak, merasa sesak dan tercekat, tapi di balik itu semua, Ia lah sejatinya cinta yang patah dan tumbuh secara bersamaan. Menurutku. Aku mengambil kunci mobil di atas meja ruang keluarga, dekat vas bunga tua milik Ibu, lalu berpamitan dengan kedua orangtua ku.

     

    Sambil menikmati sisa gerimis, lagu-lagu di radio hari ini sangat selaras dengan suasana hatiku. 
    Lagu milik Bruno Mars, kemudian Adele, dan Nadin Amizah. Sempurna!. Setelah kurang lebih lima belas menit, akhirnya aku sampai di tempat tujuanku. Tanpa perlu di minta, seseorang memayungkan payung transparan diatas kepalaku, siapa lagi?.

           “Makasih ya Bar, eh kamu nunggu lama nggak?” tanyaku membuka pertemuan kami hari ini, 
    yang aku sendiri tak tau akan terjadi hal baik atau sebaliknya?

           “Enggak kok aku juga barusan, mama sekalian mau ke tempat tante Indah jadi aku nebeng deh”

           “kamu udah pesen?” tanyaku 

           “atas nama Semesta!” aku dan bara melempar pandangan ke arah yang sama

           “udah, tuh kopi kamu. Aku ambil dulu” Bara melangkah mengambil satu cup kopi susu yang     Ia pesan untukku, aku menunggunya sambil duduk, menatap punggungnya dari belakang, Bara dengan setelan kemeja flannel, adalah yang termanis.

    Entah kenapa Ayah dan Ibu memberikan aku nama Semesta, orang-orang jadi bingung deh mau 
    panggil aku apa!.

            “Sayang, Aku kemaren liat temen-temen kamu ke kampus aku, mereka ngapain ya?” tanyaku 
    santai. Bara menaruh gelas nya “ohh itu, kemaren aku di ajak juga sih… tapi gatau mau ngapain, 
    makanya aku nggak ikut”.

            Obrolan kami hari itu terasa sangat hangat, begitu hangat. Tidak terasa waktu menunjukkan 
    pukul empat sore, kami memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sebelum pulang. Di perjalanan Bara bolak-balik mengganti siaran radio “ihh… berisik tau!” kataku sambil melirik sinis ke arahnya, Ia malah menyeringai tanpa meninggalkan pandangannya dari jalan di depannya. Kemudian tiba-tiba radio memutar lagu kesukaannya “nah gini dong dari tadi!” sambil sedikit menurunkan jendela, Bara mulai merogoh saku celananya, mengambil rokok.

             “Bar, kalo lagi gini aku maunya lama-lama deh sama kamu, udah lama kita nggak kaya gini”

              “nggak gini? Gini gimana maksudnya?”

              “biasanya kita selalu berantem, ntah apa… semuanya kita berantemin” Bara diam mendengar 
    jawabanku.

              “kenapa? Mau berantem lagi?” aku terus menatap wajah nya dari sisi kiri, dia masih diam. Aku membuang pandangan ke luar jendela.

             “Aku sayang sama kamu” Bara memecah keheningan kami berdua, aku menatapnya dengan 
    penuh tatapan heran. Lampu merah, Ia balik menatapku, tersenyum tipis “tapi aku nggak tau, besok, lusa, minggu depan atau bulan depan, apa kita bakal selalu baik-baik aja?” lanjutnya. Aku tertawa kecil “pasti berantem lagi” ucapku dalam hati.

              “sebenernya kamu mau bilang apa Bar? Ngomong aja” kataku to the point

              “enggak, ya… Cuma mau bilang sayang aja, tapikan menurut kamu sayang itu lemah lembut”

               “ya memang” tangkasku cepat. 

    Suasana yang semula hangat berubah menjadi panas tanpa alasan, beginilah kami “aku mau putus” Bara lagi-lagi memecah keheningan, kali ini dengan kalimat pamungkasnya. Tanpa menjawab aku terus menatap tajam ke arahnya. Ia melajukan mobil ini ke arah yang sudah tak asing. Jalan buntu yang sudah dipenuhi rumput ilalang, jantungku mulai berdebar lebih cepat.

              “kamu mau mukulin aku lagi?” tanyaku dengan airmata yang hampir tumpah “kenapa sih kamu nggak berubah?” kali ini aku sudah menangis. Dia menginjak rem, mematikan radio dan menatapku “enggak, aku Cuma mau kamu ngerti, dan sadar. Sebenernya kamu udah tau aku orangnya gimana, tapi kamu selalu nutup mata kamu karna kamu sayang sama aku, kamu udah tau aku kasar bahkan tempat inipun jadi neraka buat kamu kan?” Bara menatap mataku tajam, tajam sekali.


              Aku menunduk, merasakan sesak seperti biasanya. Bara selalu meluapkan marahnya padaku di tempat ini, setiap kali kami bertengkar, Ia selalu membawaku ke tempat yang indah ini. Tapi hari ini sebenarnya aku juga bingung, karna kami sedang baik-baik saja.

              “Semesta, aku nggak mau kamu terus-terusan berharap untuk ada di samping aku, dengan aku yang nggak bisa memaknai cinta itu sama kaya yang kamu bilang” Bara menggenggam tanganku, aku mulai membaca situasi ini. Akhir perjalanan. 

    “aku sayang kamu, tapi aku sadar aku selalu nyakitin dan nyusahin kamu. Hari ini… kita udahin ya” Bara lagi-lagi Bicara semaunya, aku masih diam sambil menarik tanganku dari genggamannya

    “kita harus udahan. Ya?” aku mengangkat kepalaku, mencoba meraih hati lewat matanya. Beberapa kali aku telah bertemu pada masa-masa ini, sebuah hubungan yang dijalani sudah sangat lama,bahkan tanpa aadanya alasan apapun, pikiran dan hati kami sudah mampu mengacak-acak keadaan.

    “aku bodoh bertahan sama kamu Bar, aku fikir kamu ngerti loh Bar kenapa aku selalu maafin kamu setiap kali kamu kasar sama aku… even itu hal yang nggak jelas, ternyata sampe detik ini kamu gak nger”

    “aku ngerti! Kamu sayang sama aku kan?, kamu nggak mau kehilangan aku? Itu kan? Tapi akhirnya kamu juga sadar, kalo pertahanin hubungan sama aku ini adalah hal bodoh, ya kan?” Bara memotong 
    ucapanku

    Aku meraih pundaknya, melingkarkan kedua tanganku di lehernya

    “Apa harus kaya gini akhirnya?” air mataku Kembali jatuh, aku menunduk. Bara mengusap kepalaku lembut, sepertinya ikut menangis “aku selalu nggak bisa ngendaliin diri setiap kamu bilang kamu selalu mau sama aku, aku takut… malah, aku tau… aku nggak akan mampu bahagiain kamu, aku nggak akan bisa jadi cinta yang lemah lembut untuk kamu, aku selalu dikuasain setan setiap kali aku sadar kalo kamu bakal selalu maafin aku, aku dengan sadar berkali-kali nyakitin kamu” Bara memelukku, kali ini pelukannya terasa menjadi pelukan yang paling hangat. Aku mencoba untuk tenang, tidak tenggelam.

    “tapi kita saling sayang Bara” kataku pelan “tapi kamu nggak Bahagia sama aku Meta” tangis Bara pecah. Kami berdua diam, aku melepaskan diri dari pelukannya, melempar pandangan ku ke arah jendela lagi, menangis sejadi-jadinya. Hari ini aku tersadar bahwa Bara benar-benar menyayangiku.

    “kamu, diri kamu, tubuh kamu, itu hak kamu Semesta… tapi aku selalu merasa kalo kamu seutuhnya punya aku. Aku selalu berusaha untuk nggak lagi-lagi nyakitin kamu, tapi apa? Aku ini gila!” Bara memukuli setir yang ada di depannya.

    “Aku udah nggak mau kamu maafin aku!, mulai detik ini kamu harus benci sama aku!” Bara membanting pintu dan meninggalkanku, aku menangis sejadi-jadinya.


    Aku selalu merasa bahwa memang sebenarnya aku yang bodoh, mempertahankan hubungan 
    dengan laki-laki yang tidak punya pendirian, manipulatif dan selalu merasa benar. Namun dibalik itu semua, aku seolah-olah yang paling tahu isi hatinya, begitu yakin bahwa Ia mencintaiku. Sampai detik ini, aku masih merasa seperti itu. Benar kata Ibu, hari ini hujannya sangat awet, hujan hari ini abadi di hatiku, terpenjara dalam ingatanku. Di dalam mobil yang masih menyala, rupanya aku tertidur.Sambil meraih ponselku untuk melihat jam, aku berharap bahwa ini adalah mimpi. Sudah pukul tujuh malam aku segera bergegas pindah ke kursi pengemudi untuk pulang, meninggalkan tempat jahanam ini. Tapi sebelum aku sempat menginjak pedal gas, seseorang mengetuk jendela, membuatku terkejut setengah mati.

    “maafin aku” Bara menunduk lemah, bajunya basah. Aku meraih tangannya dan ikut keluar, 
    memeluknya sekali lagi. Sebelum aku benar-benar kehilangan hari ini."

    “sekarang kamu tau kan… aku nggak pantes buat kamu, kamu hati-hati ya. Jaga diri kamu baik-baik, oh iya… selamat ya, kamu udah lepas dari aku, aku pamit ya” Bara membalas pelukkanku dengan sangat erat, kemudian pergi begitu saja.Aku berdiam diri cukup lama, menyerah. Inilah akhir dari kebodohanku 


              Dengan rambut yang lepek aku pulang kerumah sambil terus menangis sepanjang jalan. Hari ini baru saja aku menyadari bahwa rasa sayang saja tidak cukup untuk menjadikan hubungan menjadi hubungan yang sehat.


            Berkali-kali aku mencoba untuk mempertahankan hubungan kami, tapi Inilah akhir cerita 
    Semesta yang terbakar Bara



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.