Iwan Soak - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Asep Wijaya

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Desember 2021

Jumat, 3 Desember 2021 04:52 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Iwan Soak

    Akankah yang tak melawan selamat dan yang menentang kiamat?

    Dibaca : 179 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mata Agus terbelalak begitu ia membuka daun pintu tripleks yang permukaannya berlumur cendawan. Di hadapannya, terbujur sesosok jasad dengan kedua telapak tangan yang melingkari leher. Raut mukanya samar tersaput temaram senja dan redup cahaya akibat kain terpal yang membentang di atap gang permukiman. Meski begitu, dari riwayat penghuni kontrakan, Agus yakin, seonggok tubuh itu tidak mungkin lain pasti Iwan.

    Namun, keyakinan itu sama sekali tidak membantu Agus dari limbung yang mulai merayapi kedua kakinya. Ia khawatir, jika Iwan mati, maka dirinyalah yang bakal menyandang label saksi kunci penemuan mayat—yang kalau sedang bernasib sial, maka cepat atau lambat, si penemu mayat bisa bersalin status menjadi tersangka.

    Beruntung, celepik cecak segera menyadarkannya dari lamunan janggal menjadi tersangka itu. Namun, sebelum kedua kakinya beranjak untuk meminta bantuan, secarik kertas yang tergolek di meja dekat jasad mencuri pandang dan memaku langkahnya. Kertas itu seolah menarik balik ingatan Agus tentang amanat ganjil Iwan kemarin malam. Sambil terus mengatur degup jantung, ia rapatkan dirinya ke lembaran itu demi mengintip tulisan di atasnya. Begitu terbaca, ia lekas melesat, berlari, dan berteriak meminta tolong warga sekitar.

    Apa juga arti kalimat “yang terbujur lalu, yang terlintang patah?” di selembar kertas itu?

    Mau mati saja sok puitis kau, Wan!

    ======

    Malam itu, suasana warung kopi Mang Engkus tidak seperti biasanya. Kursi plastik masih berlonggok, tak seperti lazimnya menyebar dan berserak diduduki banyak orang. Mang Engkus sendiri tampak asyik di depan televisi. Kelakuannya begitu kontras dengan kebiasaan hariannya yang bergerak ke sana-ke mari, kelimpungan melayani pembeli. Padahal, warung kopi Mang Engkus sudah seperti lampu neon yang sering dirubungi laron—yang makin menarik pengunjung ketika malam menjelang. Namun, malam itu, warung kopi Mang Engkus tampak sunyi-sepi.

    Di kesepian itu, seperti biasa, Iwan memesan sebatang rokok dan secangkir kopi hitam. Ia bersandar di tembok sudut warung agar nyaman menatap tayangan televisi di seberangnya. Kala itu, siaran televisi menayangkan berita sela mengenai demonstrasi gabungan warga-mahasiswa yang disebut terbesar setelah aksi '98. Dari informasi penyiarnya, ada pendemo yang dikabarkan terluka. Bahkan, muncul desas-desus soal adanya peserta unjuk rasa yang meninggal dunia.

    Malam itu, bentrokan antara pendemo dan aparat memang berlangsung begitu panas. Kobaran api menyala di sejumlah ruas jalan. Yang terbakar bukan cuma ban bekas, melainkan juga mobil, toko kelontong, dan halte bus. Suasana kian mencekam saat kendaraan berat aparat keamanan berjalan pelan menyisir jalan.

    "Wah, kalau enggak buru-buru pulang, anak kampung kita bisa celaka! Upah cepek dari Korlap bisa enggak nutup kalau mereka ampe jadi korban," seru Mang Engkus yang mengharapkan respons balik dari Iwan. Namun, harapan Mang Engkus tampak jauh panggang dari api. Sebab, Iwan malah makin serius menyimak tayangan di hadapannya seolah tersedot masuk ke dalam peristiwa yang sedang disaksikannya. Pikirannya terseret balik ke masa 22 tahun lalu.

    Dua dekade lalu, saat usianya masih kepala dua, Iwan adalah aktivis sosial tingkat kampung. Ia menjadi yang terdepan di setiap kegiatan sosial. Ia pernah memimpin renovasi sejumlah rumah korban kebakaran dan sanggup bekerja siang-malam. Ia pernah membantu seorang warga yang sedang sakit keras—dari mulai mencarikan ambulans hingga mendapatkan biaya perawatannya.

    Karena kebaikannya itu, banyak warga menaruh simpati. Seorang warga pernah bertanya kepada Iwan, “Buat apa, sih, kerja sosial kayak begitu kalau hidupmu dan ibumu aja masih kepayahan, Wan?” Menanggapi pertanyaan itu, Iwan cuma bisa tersenyum sambil mengingat cerita ibunya tentang sosok almarhum ayahnya, Sarimin.

    Sarimin, yang mati muda waktu usia Iwan belum genap lima tahun, adalah seorang seniman jalanan. Meski tidak pernah makan bangku kuliah, Sarimin begitu mahir mengolah kata dan berjenaka. Pengetahuannya itu diperoleh karena Sarimin banyak bergaul dengan seniman betulan di Taman Ismail Marzuki.

    Sarimin makin konsisten menghibur orang setelah ia menjadi pelawak beken. Popularitasnya melambung saat tergabung dalam kelompok lawak yang dikenal kritis terhadap kebijakan pemerintah. Namun, frekuensi penampilannya perlahan menurun seiring penyakit TBC yang diidapnya. Meski begitu, baginya, rasa sakit yang dialami bukan penghalang untuk terus menghibur orang. Sikap berbagi tawa, di tengah kondisi politik dan ekonomi yang serba sulit waktu itu, merupakan pereda stres paling ampuh buat masyarakat. Penyakit TBC yang dideritanya—meski sebetulnya ia ingin sekali beristirahat—sama sekali tidak membuatnya mendahulukan ego dan berhenti untuk membikin orang tertawa.

    "Kamu tau sikap sosial yang paling hakiki itu seperti apa?" katanya sekali waktu kepada teman lawaknya yang terus mendesaknya untuk mengambil rehat sejenak.

    "Enggak tau!"

    "Yang menunda keakuan meski ia didera kekalutan."

    "Maksudnya apa, Mas?" tanya temannya yang cuma dibalas senyum tipis oleh Sarimin.

    Namun, sikap Iwan yang beroleh simpati warga itu berubah total setelah ia dan karibnya, Agus, terlibat aksi turun ke jalan untuk menuntut mundur presiden kala itu. Suasana demonstrasi yang berlangsung panas membuat para pendemo berdiri berhadap-hadapan dengan aparat beratribut lengkap. Hingga di suatu senja, kericuhan pun pecah.

    Agus dan Iwan yang berada di tengah kerumunan terperanjat kala peserta unjuk rasa di garis depan mendadak lari tunggang-langgang ke arahnya. Keduanya yang tak siap menerima kedatangan gelombang massa itu kelabakan saat membalik badan. Akibatnya, Agus dan Iwan terjatuh dan keduanya terinjak-injak.

    Tungkai kiri Agus tertumbuk ratusan kaki. Sementara Iwan, kepalanya terinjak keras hingga sempat terseret puluhan meter dan kena gocoh orang tak dikenal. Beruntung, keduanya mampu melepaskan diri, meski cacat permanen di kaki Agus dan kepala Iwan tak terhindarkan lagi.

    Sejak peristiwa itu, Iwan jadi lebih pasif dan pendiam. Hari-harinya mulai banyak dihabiskan untuk kongko-kongko di warung kopi. Ia menarik diri dari kegiatan sosial yang biasa diikutinya. Sikap itu makin kuat setelah mendengar banyak suara warga yang malah menyudutkan dan menyalahkannya ikut-ikutan demo '98 yang berdarah itu.

    "Dasar Iwan Soak. Enggak tau apa-apa aja sok-sokan ikut demo. Mau bela apa? Hati nurani? Kalau udah celaka, kan, hati nurani enggak bisa bela juga!" bisik para penjenguk yang tak sengaja didengar Iwan sesaat mereka berangsur keluar dari kediamannya.

    Iwan makin abai mengurus masalah warga begitu sadar tidak seorang pun yang menaruh simpati pada penderitaan ibunya yang sedang sakit. Ia makin merasa bersalah pada sikapnya yang dulu ketika ibunya berpulang. Iwan merasa, sikap kritis dan sosial yang ditunjukkan ayahnya dan yang selama ini dibelanya habis-habisan tak mampu membantunya di saat sulit.

    Nostalgianya mendadak buyar saat Agus yang baru muncul di warung kopi menepuk pundaknya. Namun, Iwan tetap bergeming dan terus menatap layar kaca yang sudah bersalin tayang menjadi berita seputar lembaga antikorupsi yang katanya dikebiri. Tatapan Iwan ke televisi makin serius kendati Agus mengajaknya berbicara. Ajakan menjaga bazar yang selama ini menjadi tambatan hidupnya pun tak dihiraukan. Ia baru mau menoleh saat berita beralih kabar ke penangkapan orang-orang yang kritis terhadap pemerintah.

    "Kejadian lagi, Gus, yang diam selamat, yang melawan kiamat," kata Iwan seraya menggelengkan kepala dan berlalu pergi.

    "He, mau ke mana kau, Wan?"

    "Pulang!"

    "Oh iya, Gus, besok sore sedikit lepas maghrib, aku punya surat wasiat buat kau."

    "Ngomong apa, si, Wan? Jadi ikut bazar, enggak, besok malam?" tanya Agus yang sama sekali tak beroleh respons balik dari Iwan karena ia keburu berlalu pergi dan lenyap di ujung gang.

    ======

    Iwan menatap dalam-dalam lemari kayu jati itu. Ia buka salah satu laci yang sudah lama tak dijamahnya dan menemukan sebuah kotak. Di dalamya, ada album foto kenangan dan secarik kertas yang pernah dituliskan ayahnya, Sarimin, sebelum berpulang.

    Ia masih ingat kejadian puluhan tahun lalu saat Sarimin pulang dengan napas tersengal dan wajah berpupur lebam penuh takut. Sarimin memeluk anak dan istrinya begitu erat. Sambil sesenggukan, ia membisikkan kalimat ke telinga mereka. Tidak jelas apa yang diucapkannya waktu itu. Hingga sepekan setelahnya, saat sang ayah terbaring tak berdaya, ia angsurkan selembar kertas kepada Iwan. Bisikannya tersalin gamblang. Itulah kata-kata terakhir Sarimin untuk Iwan.

    Yang terbujur lalu, yang terlintang patah? - Januari '74

    Secarik kertas itulah yang menjadi wasiat Sarimin untuk Iwan. Sejak masuk SMP, Iwan sebenarnya sudah memahami arti peribahasa itu. Namun, yang masih menjadi misteri baginya adalah penyematan tanda tanya di akhir kalimat. Namun, kini, teka-teki itu terjawab. Kalimat itu merupakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab sendiri oleh Iwan.

    Akankah yang tak melawan selamat dan yang menentang kiamat?

    Botol cairan antiserangga di sebelah kiri kakinya seolah memberi jawaban atas kegelisahannya itu. Pengorbanan diri dan keluarga yang diserahkannya untuk kepentingan orang lain serasa sia-sia. Kritik ayah dan dirinya terhadap keadaan malah dianggap perlawanan yang berujung binasa.

    Kalau binasa itu yang sungguh niscaya, buat apa lagi menundanya? Toh, hidup selamat pun tidak menjamin sebuah kehidupan itu sendiri.

    ======

    Agus yang sore itu diminta bertandang ke rumah Iwan tak habis pikir ketukannya yang ketiga belum juga dibuka oleh pemilik rumah. Ia mendengar lamat-lamat suara erangan dari dalam yang memaksanya segera menyingkap sendiri daun pintu itu. Ketika terbuka, ia terkesiap.

    Teriakan Agus yang begitu lantang meminta tolong sontak membuat warga berduyun-duyun melesat ke sumber suara. Seorang warga yang kebetulan dokter langsung mendekati tubuh Iwan dan menekan dadanya berulang kali—berharap entakan yang ditimbulkannya dapat memicu jantung Iwan agar kembali berdenyut. Iwan tersentak dan memuntahkan cairan putih ke lantai. Masih ada harapan.

    Kanagawa, Desember 2021



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.