x

Iklan

Naffarena Kim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Rabu, 8 Desember 2021 10:39 WIB

Sangkar

ketika kesenjangan hukum mencuat, si lemah mulai berandai, jika aku diposisi tersebut, pastilah sudah tercerabut. krisis ekonomi yang semakin mengikat, membuat cipto nekat. ia berharap dunia memperlakukannya sama sperti mahluk yang tinggi jangkung yang menjulang. cerpen ini mengisahkan keadilan hukum dari sudut mata gelap orang kecil nan rabun.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pagi hari seperti biasa Cipto mengeluarkan Denok untuk berjemur. Ditimang-timangnya sangkar indah itu sambil bersiul syahdu. Diambilnya bungkusan koran,ia menjimpit larva serangga yang ada di dalamnya lalu menyuapkannya  pada Denok, burung peliharaannya. Stok serangganya sudah menipis terbukti dengan tampaknya senyum indah koruptor di dasar wadah,dihiasi kilaunya pantulan lamHupuBlitz. Kontras dengan berita di sebelahnya yang mengisahkan tentang sekdes yang diamuk massa karena menggelapkan sejumlah uang. Padahal Jika dihitungdengan matematika tentulah para pemakai baju kuning itu harusnya sudah benjolwajahnya, karena yang mereka gelapkan tenturatusan kali lebih tebal dari sekdescungkring tersebut. Perutnya saja sudah beda, pastilah lebih banyak uang haram iamakan yang bahkan menolak menjadi tahi.

Dibukanya lembaran koran itu, dan membaca perlahan tentang kemajuan kasus tersebut, si tersangka tak jadi di bui. Ia heran tidakkah mereka merasa perbuatannya itu salah sampai tak Sudi di bui. Kemarin ia baru saja mengunjungi sepupunya di balik jeruji, kehidupandi sana terlihat baik-baik saja. Apalagi mereka yang notabene tahanan prioritas. Sel yang menunggu mereka dilengkapi fasilitas mewah yang bahkan tak pernah ia rasakan sebelumnya. Jika negara memperlakukan seorang pencuri seperti itu, tentu semua orang akan mengantre untuk mencuri, lalu kapan rantai kriminalitas ini akan berakhir?

Ia menyemprot peliharaannya itu dengan air. Tampak burung tersebut mengibaskan sayapnya .

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Kau tahu, kamu itu beruntung di dalam sangkar dan ada yang merawatmu. Di luar sana mana ada ulat Hongkong bertebaran. Jika kau kulepas, mungkin kau akan mati kelaparan atau bisa saja dimakan elang” ujarnya pada burung kesayangannya itu. Tadinya ia ingin melepaskan saja burung malang itu, tapi niat itu diurungkannya karena memikirkan kelangsungan hidup burungnya tersebut. Ia tak kuat lagi membeli pakan, jangankan membeli pakan burung, sarapannya pagi ini pun dia belum menanak. Ia masih termenung  melihat Mahluk kecil bersayap tersebut, mengapa harus ada Mahluk yang terkurung karena keindahan mereka, menjadi indah sama sekali bukan kesalahan.

Ia kembali menggantungkan sangkar tersebut, dan masuk untuk membuat sarapan.Dahulu tidak seperti ini. Ia tidak harus membuat sarapannya sendiri. Ada istrinya yang kini minggat meninggalkan tumpukan utang yang tak pernah ia ketahui. Bukan kejadian pertama kali,  karena sebelumnya istrinya juga pernah terlilit hutang sampai ia harus rela melepas dua ekor sapinya. Tapi kali ini lebih parah. Hobi menghutang istrinya tidaklah sembuh. Ia tak pernah tahu untuk apa semua uang itu digunakan. Yang dia tahu, dirinya bukanlah suami pemalas ataupun pelit. Ia selalu memberikan semua uang yang didapat yang menurutnya itu cukup untuk kehidupan sederhana mereka.

Jika harus ditanya ini salah siapa, maka ini adalah kesalahannya. Ini semua terjadi karena iamenghianati cintanya pada Minah, istri pertama Cipto yang meninggal saat persalinan anaknya. Naas anaknya pun tak tertolong. Minah meninggal karena dirinya, Minah ingin memberikan buah hati yang telah ditunggunya selama lima tahun. Memilih untuk tetap mengandung meski membahayakan nyawanya sendiri. Dan lucunya, belum genap lima tahun Minah meninggal,ia sudah menikah lagi. ia jatuh cinta dengan janda satu anak penjual nasi kuning di seberang bengkel lasnya. setiap pagi ia membeli nasi kuning yang membuatnya tergoda kemolekan paha Jamilah yang kuning.

Mereka adalah wanita yang luar biasa, sama-sama lembut dan penyayang, yang berbeda hanya kebiasaan buruk Jamilah yang gemar berfoya-foya. Ia terus berhutang Dalam jumlah yang besar hingga Cipto tak mampu membayar. Kini laki laki-laki dewasa berumur hampir setengah abad itu harus terusir dari rumah warisannya. Ia hanya diberi waktu tiga hari untuk mengosongkan rumah itu dan itu masih belum cukup untuk menutup hutangnya. Mereka juga menyita bengkel las yang memang telah dimilikinya sejak muda dulu. Ia menjadi tunawisma, pengangguran, kehilangan pendapatan, istrinya pun minggat,sial betul. Orang bilang, menikah dengan Jamilah adalah sebuah kesalahan. Tapi sesungguhnya bukan, Menghianati Minah,itulah kesalahan terbesarnya.

Siang harinya, Cipto berjalan ke rumah keponakannya Membawa sangkar dengan Denok di dalamnya. Ia berniat memberikan Denok kepada ponakannya itu.  Setelah memberikan petuah dan wejangan tentang peliharaannya itu, Cipto melanjutkan perjalanan. Ia hanya berjalan ngalor ngidul tanpa arah, karena jika ia pulang ke rumah, para debt collector akan menyambangi dan mengancamnya agar cepat menyerahkan uang yang tak lagi dimilikinya. Ia terus berjalan linglung, ia melihat orang lain seakan sangat bahagia, kenapa hanya dirinya yang susah? Kepalanya seakan kosong dan tak dapat berpikir Jernih. Ia tak akan mampu membayar semua hutangnya, pikirnya.

Sampailah ia di pasar. Orang lalu lalang melakukan aktivitas, ada tukang ojek pangkalan yang sedang memarahi ojek online yang terlalu dekat dengan wilayahnya. Kuli panggul berseliweran mengangkat beban yang begitu berat dengan hanya memakai kaos oblong. Ia penasaran apakah ia dapat  mengangkut barang sebanyak itu. Namun tentu ia tetap takdapat membayar hutangnya jika hanya menjadi kuli panggul.Pandangan mata Cipto terfokus pada seorang wanita paruh  baya yang berjalan terseok dengan dompet dalam genggamannya, ia merasa ragu,namun setelah dilihatnya wanita itu sedang menuju ke tempat sepi, ia mulai goyah. Haruskah ia melakukan hal ini? Ia menggunakan masker dan berjalan mendekati ibu tersebut, wanita itu mengenakan kebaya merah bunga-bunga dan sandal jepit. Roknya selutut terlihat menggulung pada bagian bawahnya. Salah satu tangannya memegang keresek belanjaan, sementara tangan satunya memegang tas kecil hadiah dari toko emas. Ia menyerobot tas kecil itu kemudian lari tunggang langgang.

Terdengar teriakan  ibu itu kencang menggema membuat semua orang bereaksi, kuli panggul, tukang ojek, sopir angkot, sampai keneknya pun ikut mengambil peran dalam mengejarnya. Iamulai panik, mereka datang dari segala penjuru. Ia mengangkat tangan ke atas dan melemparkan tas yang di dapatnya ke arah lain, ia memohon untuk menyerahkan dirinya pada polisi. namun itu tak membuat kerumunan marah itu berbaik hati. Mereka bergeming, malah merangsek maju mendaratkan bogem mentah ke pipinya. Ia tersungkur. Tangan yang terbiasa mengangkat beban itu kembali meninjunya. Yang lain pun ikut menimpali dengan tendangan yang mendarat di sekujur tubuh. Kepalanya pusing, ia tak lagi dapat menghitung berapa kali mereka menghantamnya.

Bak...buk...bak...buk... ia meringis kesakitan. Setengah sadar melihat cahaya berkilatan. matanya berkunang¬kunang, gelap dan terang datang silih bergantian. Jepret...jepret...jepret... cahaya Blitz yang menyilaukan mata menyala dan padam bergantian. Tentu  itu hanya khayalannya, siapakah yang Sudi memotretnya yang hina ini. Ia bukanlah orang tersohor ataupun wakil rakyat.Dari sela-sela kaki ia melihat wanita itu mendapatkan kembali tasnya. Ia mulai berpikir bahwa dia mungkin  harus mendapatkan tas itu,  isi tas wanita itu pastilah lebih banyak dari rampasan para koruptor yang pagi tadi ia baca. Ia meringkuk pasrah, kulitnya terasa menebal. Seorang polisi melerai mereka, pria berseragam itu membawanya keluar dari amukan masa. Ia hanya dapat meringis saat dua orang polisi menyeretnya menuju mobil. Namun samarsenyuman di balik wajah bonyok itu mengembang. Cipto merasa kehidupannya akan lebih baik di dalam sangkar dibandingkan di dunia yang liar.

Ikuti tulisan menarik Naffarena Kim lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu