x

Iklan

Widya Desvita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Desember 2021

Rabu, 8 Desember 2021 23:14 WIB

Gadis Tanpa Simpul

Gadis Tanpa Simpul adalah kisah mengenai seorang gadis yang tidak bisa mengungkapkan dan merasakan suatu emosi. Cerita ini berisi mengenai perjalanan bagaimana gadis itu belajar memahami emosi dan perasaan, hingga bagaimana gadis itu bisa merasakan perasaan sesungguhnya yang muncul dalam dirinya. Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen Indonesiana.id

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Semua manusia memiliki simpul yang terikat erat di hati mereka. Simpul yang membuat seseorang memiliki kuasa untuk menunjukkan emosi dan perasaan dalam dirinya. Emosi yang laksana tali penghubung mereka dengan dunia serta kehidupan. Namun, bagaimana jika simpul itu putus? Seperti seorang gadis yang bahkan tidak memiliki simpul sejak awal keberadaannya di dunia ini. 

Orang-orang acap kali bertanya pada gadis itu, “Mengapa kamu tidak meneteskan setitik pun air mata di pusara Ibumu?” atau bahkan “Apakah kau merasakan kecewa ketika Ayahmu menelantarkanmu, dan memilih pergi bersama istri barunya?” dan “Apakah kau marah dengan orang yang menindasmu?” Dengan beribu pertanyaan yang ditembakkan langsung padanya, gadis itu hanya mampu diam dan termangu. Gadis itu tidak bisa menjawabnya, karena bahkan dia pun tidak tahu apa itu marah, sedih, gembira, kecewa, atau ragam emosi lainnya. 

Tiada seorang pun yang ingin hidup dengan gadis itu. Mungkin mereka menganggap jika manusia yang tidak memiliki empati sepertinya lebih baik musnah saja dari muka bumi. Gadis itu kerap kali berpikir jika dia berbeda dengan orang lain apakah dia bukan manusia? Apakah dia pantas dilaknat seperti ini? Pertanyaan itu acap kali berlalu lalang di pikirannya. Terkadang juga terlintas bahwa manusia, makhluk yang sebangsa dengannya ternyata sangat menjijikkan dan biadab. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Cuaca yang dingin membuat gadis itu mengeratkan baju hangat yang melekat di tubuhnya. Niat awalnya adalah ingin berjalan-jalan santai seraya menikmati langit yang perlahan mengubah warnanya dari biru menjadi gradasi antara jingga dan kuning. Matanya terpaku pada sebuah bangunan yang berdiri megah di hadapannya. Entah suatu sihir macam apa yang serta-merta membuatnya memasuki tempat yang digunakan orang untuk melihat para aktor yang menunjukkan kemampuan bersandiwaranya di atas panggung.   

Gadis itu merasa pilihannya tepat untuk memasuki tempat ini, sebab ia merasakan nyaman yang asing baginya. Ia sempat terhenyak sebelum seseorang menabraknya dengan keras. Gadis itu meringis, mengusap tangannya yang terhantam cukup keras, pandangannya beralih menatap seorang laki-laki yang juga mengusap lengannya. Laki-laki itu mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, dan tentu saja dibalas dengan senang hati oleh gadis itu. “Kau baik-baik saja, Nona?” tanyanya. “Aku tidak apa-apa, hanya tangan yang sedikit sakit karena terbentur sangat keras tadi. Ini akan membaik sebentar lagi.“ 

“Aku sangat meminta maaf karena tidak sengaja menabrakmu, apakah kamu butuh sesuatu? atau ada yang bisa kulakukan?” Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu melakukan apa pun.” Laki-laki itu tersenyum, “Terima kasih, kalau begitu aku pamit karena ada urusan. Sampai jumpa lagi, Nona.” Ia menatap kepergian laki-laki itu hingga menghilang di ruangan lain, lalu gadis itu pergi menuju ruangan tempatnya menonton. 

Terdapat kursi beludru merah yang meninggi semakin ke belakang, tidak lupa dengan inti dari ruangan teater  yaitu panggung megah yang berada di bagian paling depan ruangan. Ruangan ini sepertinya dapat memuat banyak penonton, kursi yang terisi juga sudah hampir seluruhnya. Gadis itu mendudukkan dirinya di kursi yang terdapat di barisan tengah ruangan dan paling pojok. Ia menyandarkan  punggungnya dan berusaha membuat dirinya senyaman mungkin.  

Lampu teater dimatikan. Tak lama setelahnya, lampu yang menyorot panggung menyala, memperlihatkan seorang pemuda dengan setelan yang seperti pangeran. Dia adalah orang yang sama dengan lelaki yang menabraknya. 

Selama pertunjukkan berlangsung gadis itu merasa ada yang aneh dengan degup jantungnya. Ia berdetak lebih cepat daripada biasanya. Dirinya seperti disihir untuk tidak mengalihkan perhatian pada apa pun selain mereka yang berada di atas panggung. Gadis itu sama sekali tidak membenci debaran jantungnya yang menggila, atau bahkan perasaan asing yang menyelusup ke dalam dirinya. Ia menikmati itu semua. 

Ketika lampu menyala, terdengar gemuruh tepuk tangan para penonton yang puas dengan pertunjukan. Gadis itu adalah salah satu dari mereka yang puas. Karena pertunjukan ini menghadirkan sesuatu yang asing dalam dirinya, sesuatu yang sedikit menambal lubang kekosongan yang menganga. “Apakah ini adalah salah satu jalanku untuk terhubung dengan dunia?” gumamnya. 

Di kala para penonton mulai berhamburan menuruni tangga dan bergegas keluar ruangan, gadis itu masih berdiam diri di tempatnya. Tempat ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan, pikir gadis itu. Namun ia masih memiliki kewarasan untuk tidak menginap dan memilih pulang ke rumahnya ketika ruangan itu telah sepenuhnya kosong. Langkahnya terhenti ketika sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya.  

“Ternyata benar Nona yang tadi! Ini seperti takdir,” seru laki-laki itu. “Ternyata kamu adalah salah satu aktor di sini, kemampuanmu sangat hebat,” pujinya yang membuat laki-laki itu tersenyum manis. “Terima kasih. Bagaimana jika aku mentraktirmu secangkir kopi hangat di malam yang dingin ini? Ini juga sebagai bentuk permintaan maafku,” ajaknya. Gadis itu menimbang-nimbang sebentar, secangkir kopi hangat gratis bukanlah hal yang buruk. “Baiklah, aku ikut denganmu,” ucapnya.  

Lelaki itu mengulurkan tangannya. “Ah iya, aku Aeden. Siapa namamu, Nona?” tanya lelaki itu.  

“Namaku Marionatte, Salam kenal Aeden.”  

Aeden mengerutkan alisnya, “Bagaimana jika kupanggil Marry saja?” usulnya yang membuat Marionatte menganggukkan kepala pasrah dengan antusiasme Aeden. Malam yang dingin itu mereka habiskan dengan secangkir kopi panas dan obrolan dari dua insan yang dipertemukan oleh takdir. 

Setelah sebulan lamanya Marionatte mengenal Aeden, ia merasa bahwa Aeden adalah orang yang sangat baik. Aeden tidak menghina atau menjauhinya ketika Marionatte memberitahu tentang ketiadaan simpul di hatinya, Aeden juga tidak mencelanya saat Marionatte menunjukkan ketertarikannya dalam dunia teater. Aeden saat itu malah bersemangat dan menawarkan untuk melatihnya mengeluarkan ekspresi, menjelaskan apa itu emosi dan rasanya. Ia juga menjadikan Marionatte sebagai teman latihannya ketika ada pertunjukkan teater yang harus dia lakoni. 

“Aeden, apakah kamu tahu mengenai berita tentang teroris yang sedang berkeliaran?” tanya Marionatte yang matanya masih sibuk menyusuri barisan kalimat pada kertas koran.Aeden menggelengkan kepalanya acuh tak acuh “Aku mempunyai kabar baik yang lebih penting,” ucap Aeden. Marionatte mengalihkan pandangannya dari koran yang berada di pangkuannya. Aeden memberikannya sebuah kertas yang tampak seperti kartu undangan. “Lusa aku akan tampil di tempat yang sama ketika pertama kali kita bertemu. Kau harus datang, ya,” harapnya. Marionatte menganggukkan kepalanya. “Tentu saja aku akan datang!” tegas Marionatte. “Aeden, beritahu aku sedikit saja, tentang apa drama itu?” Aeden tersenyum simpul, ia menyandarkan punggungnya pada kursi taman. “Tentang seorang pria yang kehilangan lalu mendapatkannya kembali." 

Di hari yang sudah ditentukan, Marionatte datang ke tempat itu lagi, tempat yang menyisipkan rasa nyaman pada dirinya. Tiada yang berubah dari tempat itu dalam kurun waktu sebulan, namun terdapat perbedaan yang kentara pada diri Marionatte. Lubang kehampaan di hatinya sudah mulai menutup. Marionatte mengulas senyum manis, senyum yang diajarkan Aeden padanya. Lelaki itu berkata bahwa senyumannya sangat manis dan cantik, tentu saja itu menimbulkan rasa yang baru lagi dalam diri Marionatte, mungkin itu dinamakan dengan bahagia? 

Marionatte memasuki ruangan yang sama, juga menduduki kursi yang sama yaitu kursi di barisan tengah ruangan dan paling pojok. Entah Aeden yang terlalu perhatian dan baik padanya, sampai mengingat jelas letak kursi yang dulu ia duduki, namun Marionatte sungguh menghargainya. Mungkin bisa dikatakan jika Marionatte bersyukur dengan kehadiran Aeden. 

Lampu ruangan mati, dan tidak lama kemudian lampu sorot panggung memunculkan sinarnya. Aeden berdiri di tengah panggung dengan setelan jas putih tulang. Sebelumnya Aeden sempat mengatakan padanya jika jenis pertunjukan teater kali ini adalah monolog. 

Monolog yang ditampilkan Aeden menceritakan seorang laki-laki yang kehilangan segalanya sejak ia masih berusia belia. Hidupnya terluntang-lantung sampai seorang anggota teater merekrutnya. Laki-laki itu mengembangkan kemampuannya hingga bisa mencapai aktor teater kelas atas. Perjuangan, kerja kerasnya, hingga pertemuannya dengan seorang wanita yang kebetulan hadir di hidupnya, memunculkan sebuah perasaan baru dalam dirinya.  

Selama pertunjukkan berlangsung, Marionatte tak henti-hentinya berdecak kagum pada penampilan luar biasa Aeden. Bahkan meskipun dirinya tidak mengerti, hatinya mulai bisa merasakan perasaan dan emosi yang tersampaikan. Namun, yang mengganggu pikiran Marionatte saat ini adalah, mungkinkah isi monolog ini adalah kisah kehidupan Aeden? Dia bisa berpikiran seperti itu karena walaupun dia baru mengenal Aeden selama sebulan, mereka sudah seperti teman lama. 

Bunyi tembakan senjata api menggelegar ke seluruh ruangan. Ruangan gelap total dan Marionatte tidak mengerti apa yang sedang terjadi, lalu pikirannya berkelana pada berita tentang teroris yang sedang berkeliaran. Kepanikan mulai melanda, orang-orang mulai berteriak hingga keadaan menjadi tidak terkendali. Suara tembakan kedua terdengar lagi, dan di saat yang sama lampu ruangan kembali menyala. Jantung Marionatte seperti berhenti berfungsi untuk sementara waktu ketika melihat setelan putih yang dikenakan Aeden berubah warna menjadi merah di bagian dadanya. Tanpa ia sadari, kakinya telah membawa Marionatte menuju tempat Aeden berada.  

Marionatte tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tepat di hadapannya, Aeden terbujur dan bersimbah darah. Marionatte meletakkan Aeden di atas pengakuannya, tangannya berusaha menghentikan pendarahan di dada laki-laki itu, namun perhatiannya teralihkan ketika sebuah tangan yang basah oleh darah menyentuh tangannya. “Marry, hentikan saja, percuma kamu lakukan semua ini,” lirihnya. “Kau diam! Aku sedang berusaha menyelamatkanmu!” bentak Marionatte. Darah melumuri tangan Marionatte yang bergetar. Sungguh pikirannya sangat kacau sangat ini, gadis itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan.  

Aeden terbatuk-batuk dan darah mengalir dari mulutnya, tangan laki-laki itu berusaha menjangkau pipi Marionatte dan memaksanya untuk menatapnya. “Marry, kau lihat aku. Aku sangat meminta maaf karena tidak bisa lagi menjaga dan menemani dirimu. Aku ingin kau tahu bahwa kau adalah orang yang sangat berharga untukku, namun mungkin belum saatnya kita untuk bersatu.” Aeden merogoh kantung jas yang dikenakannya, ia mengeluarkan sebuah cincin perak dan memasukkannya ke dalam jari manis Marionatte. “Aku sangat berharap kamu menemukan hal yang kau cintai dengan sepenuh hati, kuharap kamu dapat bertemu dengan orang yang peduli dan mengerti dirimu lebih dari yang kulakukan. Marry, kamu adalah manusia terkuat yang pernah aku temui, kamu indah dengan cahayamu sendiri. Percayalah Marry, dari lubuk hati terdalam, aku sangat amat menyayangimu.” Aeden mengulas senyum tipis untuk terakhir kalinya, dan kelopak matanya tertutup untuk selamanya.  

Marionatte menggenggam tangan Aeden yang sudah berubah menjadi dingin. Tanpa Marionatte sadari, air mata lolos dari pelupuk matanya. Air mata pertama yang menjadi saksi bahwa suatu perpisahan dan kehilangan. Dan saksi bahwa gadis yang tidak memiliki simpul di hatinya, masih memiliki hati layaknya seorang manusia biasa. 

Ikuti tulisan menarik Widya Desvita lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan