Pangeran Berkuda Putih - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Mimpi seorang gadis diselamatkan oleh pangeran berkuda putih\xd gambar: google

Regina Nikijuluw

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 November 2021

Jumat, 10 Desember 2021 13:09 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pangeran Berkuda Putih


    Dibaca : 1.201 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pangeran Berkuda Putih

     

    Teriakan dari pinggir lapangan menggema menambah kemeriahan suasana pertandingan volley pria antar mahasiswa se-Jakarta yang dilaksanakan di Kampus Gandara di Depok mengisi liburan semester. Pertandingan final yang terjadi saat itu sangat mendebarkan semua pendukung yang hadir karena ketatnya nilai. Loncatan, pukulan dan smash yang dilakukan membuat gemuruh semakin ramai.  Suara membuat getaran di gedung seakan ingin menghancurkan.

    Di pinggir lapangan, Anisa, salah satu panita dari kampus, bergabung dengan teman-temannya, berteriak dan meloncat. “Ayo Damaaar semangat… semangat!”

    Mukanya tampak cerah dan bahagia karena keunggulan nilai kampusnya. Keringat yang membasahi baju dan sekujur tubuhnya tidak mengganggunya untuk terus memberi semangat.

    “Yaaay…!” pekikan semua, termasuk Anisa, kembali terdengar ketika smash dari Damar masuk dan menjadi penentu kemenangan kampusnya.

    Semua berpelukan dengan wajah kegirangan dan bangga. Damar berlari ke arah Anisa serta mengangkat dan memeluknya dengan senang karena gelora kemenangan yang ada di dalam dadanya.

    Anisa membalas merangkulnya tanpa memperdulikan keringat yang terus mengalir dari Damar, “Selamat ya Mas Damar!”

    “Nisa bangun! Anak perempuan jam segini masih tidur. Senyum-senyum sendiri lagi, Mimpi Damar yaaa… ” suara Anita, kakak Anisa, membangunkannya dari mimpi indahnya.

    Suara yang membuat Anisa mengangkat badan dari kasurnya dan mengusap mata, “Ternyata hanya mimpi.”

    ***

    Anisa adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Banyaknya jumlah saudaranya karena dua kali ibu melahirkan anak kembar. Dia berbarengan dengan kakaknya Anita tetapi mereka tidak kembar identik. Berdeda dengan adik lekakinya, Gading dan Gandhi, yang serupa sehingga sulit orang membedakan.

    Ayahnya sudah menikah lagi, sepuluh tahun lalu, dan tinggal dengan istri mudanya di Bandung. Sementara Ibu Anisa, berjualan jajanan pasar dan menjalankan bisnis telemarketing obat-obatan serta asuransi jiwa. Kakak Anisa, Cempaka tidak melanjutkan kuliah karena membantu ibu untuk menutupi hidup dan kebutuhan adik-adik menuntut ilmu.

    Kehidupan Anisa membuatnya menjadi anak yang pendiam, lebih suka menyendiri dan minder dengan sekelilingnya. Teman-temannya tidak banyak serta seringkali tidak bertahan lama karena sifatnya yang sangat pendiam membuat teman-temannya sulit untuk berkomunikasi dengannya. Di kelas maupun di kuliahnya sekarang, Anisa bukan termasuk golongan anak yang cemerlang sehingga dia tidak diindahkan.

    Dalam keseharian kuliahnya, Anisa lebih memilih untuk hadir tepat waktu, juga langsung pulang bila jam kuliahnya habis karena kesendiriannya. Dia menyukai menghabiskan harinya di dalam kamar membaca buku yang dia beli di pasar loak. Dia menghabiskan harinya dengan membantu membereskan rumah dan menjajakan jualan ibu.

    “Anisa,” begitu suara ibu apabila dia membutuhkan bantuannya.

    “Tolong bawakan jajanan ibu ke Warung Suseno dan sekalian ambil pembayaran yang kemarin,” suara ibu melanjutkan dan Anisa sudah sangat paham dengan tugasnya ini.

    Di dalam kesendiriannya, di saat Anisa tidak menjalankan tugas ibu atau tidak mempersiapkan diri untuk test dan Anita sedang keluar dengan kegiatannya,, Anisa melakukan hal yang paling dia suka, berkhayal. Buku-buku karya Hans Christian Andersen, penulis kesukaannya, sudah dihabiskan olehnya. Tetapi diluar dari buku-buku itu, dongeng yang menjadi idolanya adalah Snow White, Karya Grimm bersaudara.

    Cerita perempuan yang disunting oleh pria pujaan hatinya selalu membuat Anisa berhenti sejenak dan berkhayal. Snow White adalah karakter kesukaan dia. Mengenakan selimut besarnya, dia membayangkan dirinya adalah Snow White. Anisa menggambarkan Damar menjadi pangeran idaman hatinya yang datang dan menyelamatkannya. Damar akan membawanya duduk di atas punggung kuda putihnya dan membawanya ke istana.

    “Anisa maukah engkau menjadi permaisuriku dan tinggal di rumahku,” Anisa membuat suara lelaki seakan Damar mempersuntingnya. Dunia yang membuat Anisa bahagia, dunia semu penuh bunga cinta.

     Kecintaan Anisa pada Damar timbul sejak awal dia mengikuti acara masa prabakti siswa kampus barunya. Damar adalah ketua panitia acara tersebut dan selalu sibuk wara-wiri memandangi semua anak baru. Badannya yang olahragawan, kulit sawo matang serta pandangannya tajam menusuk langsung ke dada Anisa ketika dia berpandangan.

    “Nama kamu siapa dan kamu di group mana? Seharusnya kamu pakai pita supaya bisa tahu dimana kelompokmu,” suaranya yang tegas namun dengan nada bersahabat.

    “Sayaaa tidak tahu harus pakai pita,” Anisa menjawab dengan gugup setengah ketakutan karena tidak membaca aturan.

    Sambil melangkah dan berpindah ke mahasiswa lain, Damar melanjutkan, “Coba cek email mahasiswamu. Semua sudah dijelaskan di situ.”

    Semenjak hari itu, Damar selalu menjadi pangeran dalam khalayan Anisa. Kehadirannya mengganggu mimpinya. Dia menunggu kemunculannya di kampus dan memandanginya dari jauh dengan deburan keras di dadanya. Menghabiskan waktu beberapa menit di kantin kampus sebelum pulang untuk melihat Damar berlatih volley, persiapan lomba antar kampus. Membayangkan dia menaiki kuda putih memboyongnya ke istananya.

    “Kamu anak baru yang lupa pakai pita kan? Koq belum pulang,” tiba-tiba suara Damar di sampingnya, saat Anisa membayar minumnya.

    Terhenyak dengan suara yang mengganggu mimpinya, Anisa menjawab cepat, “Iya, ini saya mau pulang Mas.”

    Sambil mengambil tempat di dipan depan warung, Damar bertanya pada Anisa, “Kampus kita jadi penyelenggara lomba volley antar kampus, kamu mau ikut bantu menjadi panitia?”

    Satu pertanyaan yang mengubah hari-hari Anisa. Dia tidak lagi tiba tepat waktu atau pulang cepat karena kesibukannya mendukung Damar. Dia membantu ibu saat sebelum kuliah sehingga bisa menghabiskan sisa harinya bersama Damar. Anisa tidak lagi sendiri karena keberadaan Damar. Dia sangat diandalkan karena cekatan dan cepat dalam menyudahi tugas.

    Perlahan Anisa meninggalkan dunia khayal. Dia hidup di alam nyata, terlena bersama Damar. Dia menikmati setiap senyuman, perkataan, gerakan, permainan, suara dan semua yang ada pada Damar. Di matanya, Anisa memandangnya sebagai pangerang berkuda putih yang tersenyum padanya dan menyelamatkannya dari kesendirian. Pangeran yang bagi Anisa sekarang ada bersama dia, tidak lagi di dunia khayal.

    “Sudah dicatat tugas yang harus dilakukan Anisa,” kerasnya suara Damar membuat Anisa kesal pada dirinya sendiri. Serasa ingin mengetuk kepalanya untuk berhenti melamun dan fokus pada rapat persiapan.

    Perlahan Anisa menanggapi, “Maaf Mas Damar, bisa diulang sekali lagi. Saya terlupa memasang rekaman di HP saya.”

    Untung bagi Anisa, Damar adalah orang yang sabar. Dia pemimpin yang handal dan sangat disayang teman-temannya. Dia mengulang semua tugas Anisa dan kali ini Anisa tidak lupa menyalakan rekaman pada smart phone-nya.

    “Terima kasih banyak Anisa atas bantuannya,” menepuk pundaknya, Damar mengapresiasi Anisa sesaat rapat selesai dan dia bergegas latihan.

    Tepukan yang membuat aliran darah menjadi hangat ke sekujur tubuhnya. “Sama-sama Mas, dengan senang hati,” Anisa berusaha menimpali sambil menahan diri supaya getaran suaranya tidak terdengar.

    Perubahan yang terjadi dalam diri dan tindak tanduk Anisa tidak luput dari perhatian Anita. Kakaknya tidak kuliah di tempat yang sama dengan Anisa. Dia mendalami psikologi pada perguruan tinggi di Srengseng, Depok.

    “Kamu kelihatan lebih cerah belakangan ini dan sering pulang malam. Pasti lagi suka yaaa sama seseorang,” senyum Anita yang nakal membuat Anisa tersipu.

    Walaupun tidak identik, tetapi mereka berdua mempunyai kedekatan satu sama lain. Sedikit perbedaan dengan Anisa, Anita termasuk supel dan banyak teman. Di dalam pendidikan, dia cukup berprestasi dan banyak kegiatan semenjak bangku sekolah. Mereka selalu membagi cerita. Cerita Damar belum sempat Anisa sampaikan karena keduanya memiliki jadwal padat dan ketika sudah di kamar mereka langsung terlelap.

    Di akhir cerita Anisa, hanya satu pesan Anita yang membuat Anisa berkecil hati tetapi dia tahu bahwa itu benar, “Hati-hati dengan perasaanmu, jangan terbawa. Kamu tidak tahu laki-laki. Sekali jatuh, susah bangun lagi kamu.”

    Anita memang sudah beberapa kali berhubungan dengan lelaki. Mungkin itu yang membuatnya cukup paham dan menasehati Anisa supaya berhati-hati. Bagi Anisa, ini pengalaman pertamanya. Dia tidak tahu bagaimana harus berhati-hati. Dia tidak punya kuasa untuk melawan perasaan yang ada di dalam hatinya. Dia tidak mampu mengalahkan getaran-getaran apabila suara dan aroma Damar ada di sekitarnya.

    Malam itu mimpi Anisa tidak seindah malam-malam sebelumnya. Dia mendapatkan dirinya berada di dalam kegelapan. Dia meringkuk ketakutan. Mulutnya ingin berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar. Di kejauhan dia melihat pangerannya menaiki kuda putih, pangeran penolongnya. Dia berlari dan berlari mengejar pangeran idamannya. Dia memintanya untuk menyelamatkan dia namun kuda putih menjauh ditelan kabut malam. Anisa terbangun dengan peluh memenuhi tubuhnya.

    ***

    Waktu tidak pernah menipu. Seiring putaran matahari dan bulan, seusai ujian akhir semester, pelaksanaan lomba volley segera dilaksanakan. Kesibukan panitia bertambah banyak seirama dengan mulai dilaksanakannya lomba. Tamu-tamu dari berbagai kampus berdatangan menambah riuh rendahnya suasana. Keramaian yang menguatkan suara denyut keriangan di dalam diri Anisa.

    Sore itu, di saat Anisa sedang mengatur logistik yang menjadi tanggung jawabnya, suara yang dikenalnya, “Kawan-kawan, perkenalkan ini Kumalasari.”

    Berkulit putih, rambut lurus dengan mata agak sipit, Kumalasari adalah belahan hati Damar. Dia asli Jawa dan menjalankan pendidikan di universitas negeri Semarang. Wajah yang menghenyakkan Anisa dan membangunkan dia dari mimpinya. Senyum cantiknya mengundang kegundahan mendalam bagi Anisa. Sentuhan halus kulitnya saat bersalaman menyadarkan Anisa pangerannya sudah menyelamatkan putri yang lain. Kenyataan di depan mata membawa Anisa pada pangeran khayalannya. Pangeran yang saat ini belum memiliki wajah.

    Harapan terbang, cinta itu tidak harus merangkul, cinta tidak harus dimiliki. Cinta mengalun dalam mimpi, menjadi teman dalam khayal.”

    ***

    Ikuti tulisan menarik Regina Nikijuluw lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Merta Merdeka

    12 jam lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 83 kali