Membuka Jendela Melihat Rembulan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Para Pesilat saat bertanding dalam Kejuaraan Pencak Silat Dandim Cup Ke IX Tahun 2019 di GOR Stadion Gajah Mada Mojosari Mojokerto, Jawa Timur

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Sabtu, 16 April 2022 10:10 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Membuka Jendela Melihat Rembulan

    Para penggemar cerita silat pasti sudah akrab degan karya Kho Ping Hoo, Mintardja, Herman Pratikto dll. Cerita itu biasanya dipicu oleh kejadian nyata. Indonesia memang kaya dengan ilmu Pencak Silat dari berbagai daerah. Barangkali ratusan aliran masih eksis sampai hari ini. Bagaimana membuat ilmu warisan nenek moyang menjadi devisa? Silahkan baca terus.

    Dibaca : 1.051 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

     

    Kalimat di atas pasti sudah tidak asing lagi untuk para penggemar cerita silat seperti karya Ko Ping Ho dll.  Mereka pasti ingat itu adalah nama sebuah jurus atau teknik berkelahi.   Ini adalah sebuah teknik kuncian ke tangan lawan.  Kita menarik tangan lawan lalu dipelintir dan ditekan ke bawah sehingga lawan terpaksa membungkuk.  Sembari menekan tangan lawan kepalanya bisa ditarik ke atas sehingga menengok ke atas.  Itulah sebabnya jurus ini disebut ‘Membuka jendela melihat rembulan’. 

     

    Dalam Kung Fu memang jurus jurus itu diberi nama yang indah.  Ternyata para pendekar Siauw Lim sie memang mendalami ilmu bun dan bu (sastra dan silat) sehingga mampu memberi nama yang artistik paa setiap jurus ciptaan mereka.  Para penggemar cerita silat pasti tidak asing dengan jurus ‘Membuka jendela memanah rembulan’.   Dalam teknik ini kita membuka pertahanan lawan lalu menyerangnya dengan pukulan lurus ke arah ulu hati, atau leher atau kepala.  Ada lagi jurus bernama ‘Ayam emas berdiri di kaki satu’.  Kita memang berdiri di satu kaki.  Kaki lainnya diangkat.  Kedua tangan diangkat.  Satu tangan menghadap ke lawan dan satu lagi di atas kepala.  Posisi ini untuk ancang ancang sebelum menyerang atau menjebak lawan menyerang.  Gerakan membanting lawan dinamai ‘Memanggul macan naik ke gunung’.  Dalam gerakan ini lawan diangkat di atas pundak lalu dibanting ke tanah. ‘Memegang buntut burung’ adalah mencekik leher lawan dengan kedua tangan lalu ditarik dan dilempar.  ‘Naga kibaskan ekor’  adalah sebutan untuk tendangan memutar ke belakang alias ‘ushiro geri’ dalam Karate.  ‘Burung walet menembus mega’ adalah nama pukulan yang arahnya dari bawah ke atas yang di dalam tinju disebut ‘upper cut’.  Masih banyak lagi nama nama indah untuk bermacam macam jurus dalam wushu. 

     

    Karate lain lagi.  Dalam Karate tidak ada nama gerakan yang puitis seperti dalam Wushu. Istilah dalam Karate lugas dan singkat.   Tendangan ke depan disebut ‘mae geri’. Mae artinya depan, geri artinya tendangan.  Yoko geri artinya tendangan samping.  Mawashi geri tendangan berputar ke depan dsb. 

     

    Bagaimana dengan pencak silat?   Aliran dalam pencak silat sangat banyak dan dalam banyak sekali bahasa daerah.  Di Yogyakarta dulu saya pernah berlatih silat di perguruan Reti Ati di kawasan mBrontokusuman.  Nama gerakan juga ada tapi singkat seperti Karate.  Ada beberapa yang tidak diketahui artinya seperti Lok Lok te.  Saya punya dugaan itu adalah serapan dari bahasa asing, mungkin Belanda yang diucapkan dengan lidah Jawa sehingga sudah susah dikenali aslinya.  Tangkisan dengan dua tangan disebut ‘Fort De Kock’.  Gerakan yang mirip double cover dalam tinju ini masih jelas merujuk ke masa perang Diponegoro. Fort artinya benteng. De Kock nama jendral Belanda yang menangkap Diponegoro.

     

    Mana bela diri yang paling efektif?  Pertanyaan ini sudah ratusan tahun ada di pikiran banyak orang.  Biasanya orang memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain.  Jadi penganut aliran A merasa alirannya yang terbaik dan lainnya kalah. Demikian selanjutnya dengan B, C dst.  Saya sendiri juga tidak tahu jawabannya karena banyak sekali faktor yang mempengaruhi.  Tapi kalau melihat perkembangan Mixed Martial Art (bela diri campuran antara standing fight dengan gulat) di dunia beladiri terkini memang dalam kenyataannya para pendekar MMA lebih unggul daripada mereka yang hanya memiliki satu ilmu saja.  Namun jangan lupa bahwa Pencak Silat sejatinya juga memiliki jurus standing fight dan submission.  Kuncian dan bantingan juga ada dalam silat.  Jadi sebenarnya Silat tidak jauh dengan MMA.  Tapi memang selama ini kuncian dan bantingan jarang dipakai dalam latihan maupun pertandingan.  Jadi sebenarnya yang diperlukan adalah upaya untuk mengembalikan kejayaan Pencak Silat.    

     

    Dulu Dyan Wijaya memukul tentara Mongol yang saat itu terkuat di dunia dengan bekal ilmu Pencak Silat selain taktik dan strategi militer yang brilian.  Jadi sebenarnya sudah teruji, sudah terbukti keampuhannya.  Tapi sayang keseriusan kita dalam mengembangkan ilmu warisan nenek moyang ini masih kurang.  Sedangkan potensi sektor ini sebenarnya besar sekali.

     

    Di luar negri saya sering melihat keseriusan mereka mengembangkan ilmu bela diri sehingga sekarang sudah menjadi komoditi dagang yang sangat menguntungkan.  Lihatlah Jepang.  Mereka mengembangkan Judo, Karate, Jiu Jitsu, Aikido, Kendo, Kempo, dll sehingga sudah mendunia.  Apa dampak positifnya buat mereka?  Ribuan orang dari seluruh dunia datang ke Jepang untuk berlatih bela diri.  Tidak hanya ke Tokyo saja bahkan banyak yang datang ke Okinawa untuk berlatih Karate di tempat asalnya.  Demikian juga Wushu.  Banyak sekali orang datang ke berbagai penjuru Tiongkok untuk berguru Wushu dari banyak aliran. Korea juga demikian.  Thailand juga mendapat rejeki dari Thai boxing.  Jutaan dollar uang mengalir dari bisnis bela diri ini. Selain kedatangan tamu manca  negara, mereka juga mengekspor pelatih ke banyak negara.  Di Eropa misalnya, Karate sudah bisa menyediakan lapangan kerja karena sudah ada kompetisi rutin.  Jadi setiap bulan ada uang mengalir dari usaha ini.  Selain pelatih ada lagi tukang pijat, dokter, perawat kesehatan, dll yang mendapat rejeki dari sini. 

     

    Bung Karno benar ketika berkata bahwa kita memiliki Trisakti, tiga kekuatan yaitu politik, ekonomi dan budaya.  Warisan budaya pencak silat ini jika dikembangkan dengan baik akan jadi kekuatan ekonomi juga seperti di negara Asia lain.  Apalagi sekarang Pencak Silat sudah masuk ke Asian Games dan menyediakan banyak medali.  Artinya peluang membesar.  Jadi kini sudah saatnya para pemangku kepentingan berembuk mencari jalan untuk mengembangkan warisan ini.

     

    Saya membayangkan suatu saat nanti akan ada ratusan ribu wisman datang ke Indonesia tidak hanya untuk melancong tapi untuk berguru Pencak Silat ke banyak daerah di Indonesia.  Kita punya ratusan aliran yang memiliki keunggulan masing masing.  Setiap aliran memiliki kekhasannya sehingga bisa dikembangkan ke pentas dunia.  

     

    Keunggulan wisata olah raga bela diri ini ada pada lama tinggalnya.  Mereka berlatih tidak hanya sehari dua hari tapi dalam hitungan minggu paling tidak.  Jadi bisa dikembangkan latihan dalam paket dua minggu, sebulan dsb.  Artinya uang yang datang akan lebih banyak daripada wisata pelancongan biasa.  Kalau pelancongan bisa hanya memakan waktu paling lama tiga minggu.  Itu kalau wisman mengikuti Java-Bali, Lombok, Toraja, NTT tour.  Kebanyakan mereka hanya mengambil Java-Bali overland saja.

     

    Saya membayangkan suatu saat nanti akan ada banyak penulis Indonesia menulis karya baik fiksi maupun non fiksi tentang Pencak Silat.  Saya bayangkan karyanya akan diterjemahkan dalam banyak bahasa dan bahkan difilmkan oleh Holywood.  Saya bayangkan akan ada banyak film action Pencak Silat semacam The Raid yang diedarkan di seluruh dunia. Saya bayangkan kalau kita berwisata di luar negri akan ditanya orang tentang Pencak Silat. 

     

    Wacana ini memang masih berupa impian.  Tapi segalanya dimulai dari mimpi.  Kalau mimpi saja tidak maka bagaimana mungkin akan jadi kenyataan. Jadi mari kita pikirkan agar Pencak Silat bisa menjadi tambang emas seperti Wushu di Tiongkok, Karate di Jepang, Tae Kwondo di Korea dan Thai boxing di Thailand.  

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.