Menilik Sisi Psikologis Tokoh Yura dalam Film Tersanjung - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Diaz Vindra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 Juni 2022

Rabu, 15 Juni 2022 07:12 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Menilik Sisi Psikologis Tokoh Yura dalam Film Tersanjung

    Dampak jangka panjang keterpurukan yang pernah dialami anak semasa kecil yang tergambar dalam Film Tersanjung.

    Dibaca : 719 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bagi generasi yang lahir pada tahun 80-an dan besar di tahun 90-an pasti sudah tidak asing lagi dengan sinetron Tersanjung. Sinetron ini diadaptasi secara bebas dalam bentuk sebuah film dan dirilis pada Maret 2020 lalu. Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan Pandhu Adjisurya ini diisi oleh kolaborasi sejumlah pemain film senior ternama serta sejumlah pemain film muda berbakat, sebut saja Ari Wibowo, Nugie, Feby Febiola, Kinaryosih, Clara Bernadeth, dan Kevin Ardilova.  

    Film ini dibuka dengan cerita perjodohan antara tokoh utama bernama Yura dengan Bobby, namun perjodohan batal dan keluarga Yura mengalami kebangkrutan. Hubungan Yura dengan ibu tirinya pun semakin tidak harmonis dan ayah Yura mengalami stroke. Seorang sahabat Yura yang  bernama Tian datang membantu sehingga keluarga Yura terbebas dari kesulitan ekonomi sampai akhirnya Yura jatuh cinta kepada Tian. Namun tiba-tiba Tian menghilang di saat Yura mengandung benih cinta mereka. Impian pernikahan Yura mendadak hancur sehingga Yura melakukan percobaan bunuh diri.

    Dalam film dijelaskan bahwa sang ayah kembali menikah tak lama dari kematian istri pertamanya. Hubungan Yura dengan ibu tirinya tidak harmonis sejak awal kehadiran sang ibu tiri, di tengah jalan perekonomian keluarga mereka tiba-tiba ambruk. Keadaan ini membuat sang ibu tiri berniat menjodohkan Yura dengan pemuda dari keluarga kaya. Bila ditelisik lebih dalam, film “Tersanjung” ini memberikan pesan mendalam tentang sosok seorang ayah dalam menentukan masa depan putrinya.

    Keputusan seorang lelaki untuk kembali menikah setelah istrinya meninggal merupakan suatu hal yang wajar, namun hal ini harus dipertimbangkan secara mendalam terlebih jika telah hadir seorang anak. Keterpurukan yang dialami anak ketika harus ditinggal mati ibunya saat masih kecil adalah sebuah hal yang sangat memengaruhi sisi psikologis anak. Hal ini membuat keputusan sang ayah untuk menikah lagi memerlukan persiapan yang matang dan tidak boleh terburu-buru. Sang ayah harus mengatur bagaimana caranya agar sang ibu tiri kelak dapat benar-benar masuk ke dalam hidup anak.

    Pendapat yang mengatakan bahwa anak membutuhkan sosok seorang ibu pengganti ketika ibu kandungnya meninggal memang tidak salah dan ada benarnya. Di sini kebijaksanaan seorang ayah sangat diperlukan. Alih-alih memberikan kebahagiaan pada anak, kehadiran ibu tiri malah semakin menambah keterpurukan bagi anak. Anak bisa saja merasa semakin ditinggalkan jika sang ayah mengambil cara yang tidak tepat dalam memperlakukan anak. Hal ini dapat membuat jiwa anak menjadi labil dan rapuh, jika dibiarkan maka bertambahnya usia anak tidak akan diiringi dengan bertambahnya kedewasaan dalam diri anak. Dalam film ini dapat kita lihat buktinya, saat Yura terlalu mudah jatuh dalam perasaan cinta dan memutuskan bunuh diri ketika merasa kehilangan cinta.

    Pada akhirnya, kedewasaan dari seorang ayah sangat diperlukan dalam menentukan pola pikir dan kedewasaan anaknya kelak, terlebih bagi anak perempuan. Karena bagi anak perempuan, ayah adalah sosok lelaki hebat pertamanya dan menjadi panutan baginya dalam mencari lelaki yang kelak akan mengisi relung hatinya.

    Ikuti tulisan menarik Diaz Vindra lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.