Cerita Rakyat Betawi: Bang Melong Pendekar Maruga - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Kamis, 23 Juni 2022 14:18 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Cerita Rakyat Betawi: Bang Melong Pendekar Maruga

    Kisah kepahlawanan seorang tokoh di sebuah daerah, sering dianggap sebagai legenda. Kisah heroik melawan kesewenang-wenangan yang dilakukan sang tokoh disebut wiracarita atau epos. Salah satunya adalah kisah Bang Melong berikut ini.

    Dibaca : 495 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Warga desa Maruga,Kebayoran Lama Jakarta Selatan pada zaman penjajahan Belanda sering menderita.  Hampir setiap hari, terjadi perampokan. Tindakan perampokan pimpinan Bang Cidit ini semakin hari semakin merajalela.Warga amat resah karenanya.

     

    Melihat keadaan ini, Bang Melong, salah seorang warganya meradang. Sebagai seorang yang dikaruniai kepandaian ilmu silat, ia tak ingin berdiam diri. Ia berniat ingin memberantas para peampok.

     

    Suatu malam, ketika perampok pimpinan Bang Cidit akan menjalankan aksinya, Bang Melong berhasil mencegatnya. Mereka adu mulut.

    “Minggir, luh kalo masing sayang nyawa lo!” bentak Bang Cidit.

    Lu yang minggat dan minggir dari kampung gua” gertak Bang Melong tak kalah nyali.

    “Huaa hahaha hahaaa. Cidit bukan anak kemarin sore yang nyalinya seupil cuma dibentak anak ingusan!”

    “Bangsat! Sekali lagi gue peringatin.Kalau lu masing keluyuran di kampung gue, kepala lu bakal pindah ngambang di Ciliwung.”

    “Oooo, jadi luh nantangin?”

     

    Bang Cidit maju selangkah. Bang Melong bergeming. Keduanya duel mulai dari tangan kosong sampai adu tangkas golok. Main pukulan tak terelakkan. Adu sakti ditampakkan.

     

    Hanya dalam tempo beberapa jurus, Bang Cidit dapat dilumpuhkan Bang Melong.

    Sambil menempelkan golok di leher Bang Cidit, Bang Melong kasih ancaman.

    “Kalau lu masih tetep bandel, ni golok nyang bakal nebas lo punya leher.”

    “Iye Bang. Ampuun. Gua ngaku kalah”

    Lu janji kagak ngulangin perbuatan lu lagi?”

    “Ho-oh, janji Bang!”

    “Baik, lu gue ampuni. Tapi inget, kalau lu masih bikin onar di mari, lu mesti tanggung jawab!”

    “Janji Bang!”

    “Pergi sana! Bawa anak buah lu!”

    Rupanya kekalahan Bang Cidit, bikin ciut nyali anak buahnya. Meskipun begitu, Bang Cidit diam-diam gondok juga. Ia pun mengatur strategi buat balas dendam atas kekalahannya, yang bikin malu dia.

    Babah Boe Siong  saudagar tajir di Maruga, kali ini menjadi sasaran Bang Cidit. Setelah menguras ludes harta bendanya, anak buah Bang Cidit menyandera anak Babah, yang berusia 5 tahun.

    Nama anaknya, Akeo. Oleh anak buah Bang Cidit, Akeo dan sejumlah hasil rampokannya dibawalah ke rumah Bang Melong. Ini sebetulnya Cuma taktik, siasat licik Bang Cidit memfitnah Bang Melong. Akeo diikat di salah satu ruang di rumah Bang Melong.

    Rencana tersebut berhasil. Bang Cidit memang sudah mengendus, kalau Bang Melong sedang keluar kota. Maka, disuruhlan anak buahnya menaruh barang rampokannya dan mengikat si Akeo  di rumah Bang Melong.

     

    Keesokan harinya, anak buah Bang Cidit melapor ke Polisi Belanda. Mereka melaporkan telah terjadi perampokan di Maruga dan menuduh pelakunya adalah Bang Melong dan anak buahnya.

    Keesokan harinya, Bang Melong ditangkap. Ia diadili dan dijatuhi hukuman mati. Ketika hukuman tembak mati akan dilaksanakan, tiba-tiba Babah Siong dan Akeo datang.

     

    Mereka memberikan kesaksian, bahwa pelaku perampokan dan yang menculik Akeo bukan Bang Melong dan anak buahnya. Namun, Bang Cidit dan anak buahnya.

     

    Hukuman tembak mati diurungkan. Akhirnya,kini Bang Cidit dan anak buahnya yang ditangkap dan dikurung di sel kantor polisi. Mereka menunggu eksekusi pengadilan.

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.