Novela Seno Gumira Ajidarma: Suara Hati Seorang Pelacur - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Kekerasan terhadap perempuan

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 3 Juli 2022 15:02 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Novela Seno Gumira Ajidarma: Suara Hati Seorang Pelacur

    Ini kisah seorang bocah perempuan yang hidup bersama ibunya, seorang pelacur. Aneka peristiwa berkelabat dalam benaknya ketika pelajaran mengarang di kelasnya berlangsung. Tapi Marti, ibunya, tetap bisa membuat keputusan sesuai dengan suara hatinya.

    Dibaca : 3.825 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Novel ini pada mulanya adalah cerita pendek berjudul Pelajaran Mengarang yang ditulis pada 1991, kemudian menjadi cerita pendek terbaik Kompas pada 1993. Setelah itu dikembangkan menjadi skenario dengan judul Ibuku Seorang Pelacur pada 1997, dan diproduksi menjadi film televisi (FTV) pada 2013. Selanjutnya disunting ulang menjadi prosa pada Maret 2022 dengan judul Marti & Sandra ini, yang diterbitkan oleh PT Kompas Media Nusantara.

    Kisahnya tentang Sandra, seorang gadis cilik, kelas V Sekolah Dasar, yang hidup bersama ibunya (Marti). Tak ada sosok bapak dalam keluarga ini. Marti adalah seorang pelacur yang bekerja di klab malam dan tak jarang membawa laki-laki ke rumah atau ajakan ke luar kota. Di rumah itu Sandra sudah terbiasa dengan putung rokok, botol bir, celana dalam, dan kaus kaki yang berserakan di lantai. Meski sering bersikap kasar dan meninggalkan rumah, Marti tetap ingin agar nantinya Sandra menjadi “orang baik-baik” alias tidak seperti dirinya saat ini.

    Pada suatu hari, di sekolah, tibalah waktunya pelajaran mengarang. Ibu guru Tati menuliskan 3 (tiga) topik di papan tulis yang bisa dipilih oleh para siswa: Keluarga Kami yang Berbahagia; Liburan ke Rumah Nenek; dan Ibu. Para sisiwa diberikan waktu 60 menit untuk membuat karangan dengan memilih salah salah satu topik tersebut.

    Setelah Bu Tati memberikan aba-aba, para siswa pun mulai menulis. Sandra memandangi kertas putih bergaris. Tangannya yang memgangi pena bergerak, tapi dia belum menulis apa-apa. Wajahnya tampak santai dan tidak peduli. dia memandangi papan tulis. Di benaknya  teringat contoh keluarga harmonis dari sebuah film seri di televisi. Tetapi suara yang terdengar justru berasal dari ingastan yang lain.

    Nah, mulai dari sinilah berkelabat aneka peristiwa yang terjadi di urmahnya atau di tenpat lain yang melekat dalam ingatan Sandra. Misalnya, keributan antara ibunyan dengan seorang lelaki.

            “Bangsat! Belum jadi suami sudah kurang ajar! Mingguat kamu dari rumah ini! Diempanin tiap hari bukannya berterima kasihm malah tidur sama perempuan brengsek!” teriak ibunya.

               “Jangan bilang dia brengsek.”

                “Eh, ngebalian? Perempuan brengsek kamu belain?!”

                “Kamu sendiri perempuan apa?!”

    Wajah Sandra begitu dingin, tetapi ingatan itu tetap berusaha memeras perasaannya. Makain orang bertengkar dan suara baerang pecah belah berterbangan masih berkelebat di kepalanya.

                                                                     ***

    Ibu Tati berjalan dari belakang ke depan. Dilihatnya kertas tempat murid-murid menulis itu mulai terisi. Tapi Sandra belum menuliskan apa-pa. Kertasnya masih kosong.

    Sebagain besar – artinya ada yang tidak – isi novel ini adalah aneka peristiwa yang diingat dan berkelebat dalam ingatan Sandra ketika pelalajaran mengarang berlangsung di kelas. Sandra belum menulis apa-apa sementara waktu terus berjalan.

                 “Sudah dua puluh menit,” kata Ibu Tati setelah menengok jam dinding. Langkah Bu Tati terdengar lebih keras. Tapi Sandra seperti tidak terpengaruh sama sekali. Dia justru mendengar suara lain di kepalahnya. Suara laki-laki yang datang ke rumahnya dengan segala tingkah-polanya.

    Peristiwa lain di luar ingatan Sandra juga terjadi. Misalnya, hubungan Marti dengan lelaki kaya raya bernama Alex. Pria ini bahkan rela menceraikan istrinya agar bisa kawin dengan Marti. Beberapa kali ia mengajak Marti untuk segera menikah. Marti selalu berusaha memberi alasan kepada Alex untuk tidak segera memberi jawaban tegas, hingga suatu kali terucaplah kata penolakannya: “Karena aku tidak menyintai kamu.” Lelaki itu terkejut. Marti melanjutkan: ”Aku seorang profesional. Kujual tubuhku, tapi tidak kujual hatiku.”

    Kalimat itu sebenarnya mulai memancing saya untuk menyelidiki lebih lanjut tentang falsafah hidup apa yang diyakini Marti. Juga pandangan –tepatnya filssfat—Marti tentang manusia. Misalnya, apakah Marti berpandangan bahwa roh dan badan adalah dua entitas yang berbeda? Apakah yang rohani (jiwa) dan yang jasmani (badan) saling memengaruhi atau tidak. Bagaimana dia mendefinisikan soal kepribadian atau persona manusia?

    Masalah hubungan jiwa dan badan ini sudah lama menjadi bahan diskusi para filosof besar sepert Plato, Rene Descares, Malebranche, Leibniz, Spinoza, dan lain-lain. Sayangnya saya tidak menemukan lagi pandangan Marti yang mengarah pada relasi jiwa dan badan ini. Maka, singkat saja, kita langsung singgung soal manusia sebagai persona. Sebagai pribadi manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri. Setiap individu bersifat unik, dan ini berkaitan dengan kerohanian. Kata “individu” bagi manusia menunjuk pada keutuhan, yakni keutuhan aspek kerohanian dan aspek kejasmanian sekaligus. Sementara kata “persona” yang aslinya berarti “topeng”, kini dimengerti sebagai kualitas-kualitas pribadi yang ada dalam diri seseorang. Secara lebih umum, kini persona dipahami sebagai “jati diri” seseorang. Beberapa filosof yang menaruh perhatian tentang “pribadi” atau “persona” ini, antara lain lain, Boethius, Thomas Aquinas, Sigmund Freud, Mounier, Martin Buber, dan lain-lain.

    Karena manusia dengan kepribadiannya itu konkret, maka ada beberapa elemen yang melekat dalam kepribadian. Setidaknya ada 6 (enam) elemen yang sering disebut, yakni: karakter,  akal budi,  kebebasan, nama, suara hati, dan perasaan. Beberapa filosof yang banyak melakukan refleksi soal elemen kepribadian ini, antara lain, Francis Bacon, Alfred North Whitehead, John Dewey, dan lain-lain.

    Berkaitan dengan ucapan Marti dalam novel ini (“Kujual tubuhku, tapi tidak kujual hatiku”), saya cenderung menganggap bahwa itu adalah ungkapan suara hatinya -- salah satu dari enam elemen kepribadian. Suara hatinya memutuskan bahwa dia harus menolak Alex. Dia tidak menyintai Alex, meskipun ia kaya raya dan bakal menjamin masa depannya secara materi. Marti lebih menyintai Ronggur, pria yang selalu datang dan pergi – dan ternyata justru tidak ingin menikah dengan Marti.

                                                            ***

    Membicarakan soal sura hati ini juga bisa panjang kali lebar kali luas. Sebab banyak dimensinya, mulai dari arti katanya,  fakta adanya suara hati, kemutlakannya, potensi kekeliruannya, rasionalitasnya, sampai bagaimana melatih atau mengembangkannya. Maka, di sini saya hanya akan mengutarakan hal-hal yang pokok yang mungkin sudah dimengerti banyak orang.

    Suara hati adalah bagian hakiki dari kepribadian manusia. Suara hati ini bersifat personal. Tidak ada pihak luar yang bisa mengetahui kedalaman suara suara hati seseorang. Suara hati merupakan urusan pribadi. Pembentukan mutu sura hati ini terkait dengan latar belakang, pendidikan,  lingkungan, dan budaya seseorang.

    Suara hati ini antara lain berperan sebagai pedoman hidup bagi setiap orang dalam mengambiul keputusan untuk menentukan perilaku hdupnya.  Jadi dia berfungsi etis karena mengarahkan seseorang untuk mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dalam tindakannya, dalam putusannya.  Suara hati menjadi dasar bagi setiap orang dalam mengambil keputusan.

    Dalam bahasa lain, suara hati menjadi pangkal otonomi manusia, karena ia merupakan kesadaran langsung tentang apa yang menjadi kewajibannya sebagai manusia dalam situasi konkret. Suara hati sekaligus menegaskan kebebasan manusia, yakni kemampuannya untuk menentukan diri lepas dari penentuan pihak luar atau orang lain.

    Dalam dunia nyata, sering kita mendengar bahwa seseorang mengaku telah membuat keputusan yang keliru. Atau, kita menghadapi situasi yang ragu-ragu. Dalam keadaan ragu-ragu, jika suatu keputusan masih dapat ditunda, maka sebaiknya orang tersebut pertama-tama wajib untuk mencari informasi lebih banyak untuk meperoleh kejelasan tentang situasi yang sedang dihadapinya. Namun, jika keputusan yang harus diambil tidak dapat ditunda, dan seseorang tetap ragu-ragu, maka sebaiknya itu tetap mengikuti suara hatinya saat itu, pilihan yang diyakini sebagai yang terbaik.  Dan itulah yang dilakukan Marti.

                                                         ***

    Singkat cerita, murid-murid di kelas itu sudah tinggal separuh. Ibu Guru Tati berada di depan meja guru. Dia menengok jam dinding maupun jam tangannya.

           “Waktu habis, kumpulkan semua ke depan.”

    Seluruh isi kelas bangkit. Kecuali Sandra. Dia menuliskan sesuatu di kertasnya, lantas ikut bangkit. Ibu Guru Tati melihat murid-muridnya menmgalir ke depan meja, sampai agak berjubel.

    Kertas-kertas karangan bertumpuk. Sandra bergegas menyelip di antara murid-murid, dan menyelipkan  kertasnya di tengah.

    Di rumahnya, Ibu Guru Tati memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Sudah separuh dari tumpukan itu diperiksanya. Di meja yang terletak di depannya , terdapat pekerjaan yang sudah selesai diperiksanya. Di sebelahnya, di sofa, terdapat pekerjaan yang bekum diperiksa.

    Telepon berdering. Ibu Guru Tati berdiri dan mengangkatnya sambil membuka kacamata. “Hai! Aduh, aku tidak bisa keluar malam ini. Iya, biasa, pekerjaan anak-anak. Haruslah diperiksa, mereka membuatnya sungguh-sungguh, kok. Isinya? Aduh, kayaknya mereka itu memang mengalami masa kanak-kanak yang indah, ya? Mereka itu anak-anak yang berbahagia kok. Iya, Iya. Namanya juga anak-anak, kalau tidak bahagia, apa jadinya?”

    Ibu Guru Tati memang belum sempat membaca karangan Sandra yang berjudul “Ibu”. Di tumpukan teratas, tampak dengan jelas tulisan Sandra: Ibuku Seorang Pelacur.....

    Selasai? Belum. Di bagian akhir (bagian 20), Seno Gumira menambahkan dengan peristiwa yang berlangsung pada 28 November 2024.

    Langit mendung dan udara berangin, ketika Sandra meletakkan setangkai mawar merah di pusara itu. Tertulis pada nisannya:

    SUMARTI

    28 November 1961, Jakarta

    15 Maret 2022, Jakarta.

    Berlutut dengan baju rapi, ia tampak khusyuk berdoa. Segala kenangan berkelebat seperti gambar hidup yang tidak terlalu urut. Kadang jelas, kadang kabur, kadang memberikan  kepadanya suatu perasaan yang seperti menusuk ulu hati. Namun selebihnya dia merasa bersyukur, sembari mengusap mata yang membasah.

    Di luar pagar pekuburan, sebuah mobil sedan hitam yang panjang menunggu, ketika dia melangkah dengan cepat meninggalkan pusara ibunya. Sopir membukakan pintu, sambil menyerahkan telepon genggam.

             “Dari Bapak Presiden, katanya penting,” ujar sang sopir.

             “Kapan tidak penting?” kata Sandra sambil menerimanya.

    Hujan mulai turun, saat mobil sudah berjalan pelan, melewati anak-anak yang mengulurkan tangan. Sopir membagi-bagi uang dan Sandra mendengarkan yang berbicara di telepon.

              “Sebentar, sebentar,” dia menyela, dan berkata kepada sopir, “kita langsung ke Istana ya.”

              “Baik, Bu Menteri”                              

                                                 ***

    Cerrita punh berakhir. Sandra rupanya jadi menteri? Kapan? Ya nanti – mungkin—di tahun 2024! Selamat membaca. Selamat mengikuti.

    • Atmojo adalah penulis yang memintai bidang hukum, filsafat, dan seni.

    Ikuti tulisan menarik atmojo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.