Fiksi Bola Liar - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay

sucahyo adi swasono

Pegiat Komunitas Penegak Tatanan Seimbang (PTS); Call Center: 0856 172 7474
Bergabung Sejak: 26 Maret 2022

Senin, 18 Juli 2022 09:08 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Fiksi Bola Liar

    Tentang Nasionalisme Sepak Bola Kita ...

    Dibaca : 1.197 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bola Liar, adalah bagian dari majas dan akan berurusan dengan makna denotatif. Begitulah esensinya, sehingga jangan sampai menimbulkan mis komunikasi di antara kita lantaran ketidakmampuan untuk mengungkapkan gagasan atau pikirannya dengan benar. 

    Memang, saya sengaja menggunakan majas itu, yang jelas bukan tanpa sebab bermusabab. Menyadari, bahwa saya bukanlah pemain sepak bola , bukanlah pegiat sepak bola, maupun sebagai pengamat sepak bola, dan ber-basic ilmu sepak bola di negeri ini. Namun, saya adalah penikmat pertandingan sepak bola, lebih-lebih terhadap pertandingan sepak bola yang mengatasnamakan tim nasional Indonesia, manakala bertanding di kancah pertandingan berskala internasional. Semua itu, tak lebih dari, betapa jiwa ini telah terlanjur cinta pada bangsa dan negeri ini. Sehingga, dalam hal sepak bola pun saya kaitkan dengan jiwa nasionalisme Indonesia_Nusantara. Nasionalisme yang harus dijauhkan dari pemikiran chauvinistic, dalam artian, kecintaan yang berlebihan yang justru berpreseden buruk, dan akan mencederai hakikat dan prinsip ruh nasionalisme itu sendiri. Bila dimaknai secara khusus, mengarahlah pada pemahaman tentang nasionalisme sepak bola Indonesia_Nusantara.

    Pernahkah Timnas sepak bola kita,  dalam sejarah, mencicipi atmosfir pertandingan di kancah perhelatan kelas dunia, sebut saja FIFA World Cup sejak kita merdeka sebagai bangsa dan negara dalam naungan federasi sepak bola, PSSI?  Pernahkah? jawabnya, belum pernah. Kalaupun disebut-sebut konon katanya pernah, maka catatan sejarah lebih real berkata, bahwa itu adalah pada 1938, pada masa penjajahan Hindia Belanda yang pada waktu itu di bawah naungan Dutch East Indies (Hindia Belanda), sebagai peserta dari Asia yang kali pertama lolos ke Piala Dunia. Saat itu, Tim sepak bola kita tampil mewakili zona Asia di kualifikasi grup 12, dimana grup kualifikasi Asia Pila Dunia FIFA 1938, hanya terdiri dari dari 2 (dua) negara, yakni Hindia Belanda dan Jepang.  Tim kita lolos tanpa harus bertanding dalam kualifikasi karena Jepang mundur dari babak kualifikasi, sebab sedang berperang dengan China. Sekedar tahu saja, Tim kita saat itu, menggunakan kostum atau jersey berwarna oranye dan celana putih sebagaimana kostum yang dipakai kesebelasan negeri Belanda.

    Hebat juga, ya Tim kita ini? Lolos ke Pildun, meski tanpa harus tanding kualifikasi dengan Jepang, karena zona Asia hanya ada dua gelintir tim dalam berkualifikasi tanding untuk lolos ke Pildun. Dan, ingat! Tim kita saat itu belum sebagai tim dari sebuah bangsa dan negara merdeka dengan nama Indonesia, lho? Masih dalam nuansa sebagai bangsa yang sedang dijajah oleh Belanda, belum sebagai nation of Indonesia_Nusantara ...

    Nah, melangkahlah sorotan saya terhadap ajang AFF U-19 2022 yang telah usai di gelar, yang mengundang kontroversi dan mengusik prinsip nasionalisme sepak bola Indonesia di mata saya.

    Sepak Bola, itu ranah olah raga yang seharusnya berfilosofi pada prinsip sportivitas, elegan, fairplay, dan wajib menjunjung tinggi, dan tunduk pada rule of game atau regulasi yang yang update berlaku, bukan yang out of date. Ini bukanlah karena Timnas U-19 kita yang gagal lolos ke babak semifinal di ajang tersebut. Bukan lantaran itu. Adalah tentang prinsip logika rasional dalam hal regulasi sebuah pertandingan olah raga sepak bola berskala internasional sekelas regional Asia Tenggara. Di fase grup, Timnas Indonesia yang tergabung di grup A, yang terdiri dari 5 (lima) timnas, yakni Vietnam, Thailand, Filipina, Myanmar dan Indonesia kita.

    Di akhir penyelesaian fase grup, ketiga tim, Thailand, Vietnam dan Indonesia, sama-sama mendapatkan 11 (sebelas) poin. Namun, bedanya, Timas Indonesia lebih unggul dalam hal produktvitas mencetak gol ke gawang lawan. Tercatat, Indonesia plus 15 gol, Vietnam plus 9 gol, dan Thailand plus 6 gol. Yang dinyatakan berhak lolos ke babak semifinal oleh AFF adalah Vietnam sebagai juara grup, dan Thailand sebagai runer up. Dasar keputusannya, menggunakan prinsip head to head yang sudah usang dan sudah tak diberlakukan lagi oleh FIFA maupun AFC. Hal ini, dalam prinsip sepak bola kekinian yang mengutamakan sporivitas yang elegan dan prinsip produktivitas berlaga dalam sebuah turnamen itulah yang seharusnya diberlakukan dan dijadikan acuan dalam memutuskan tim yang berhak melaju ke semifinal, bilamana terjadi kasus raihan poin yang sama di penyisihan fase grup. Sebab, regulasi head to head, sudah dinyatakan out of date oleh FIFA maupun AFC. Jadi, dalam kasus ini, AFF telah melakukan penyimpangan asas kelayakan dan kepatutan dalam menyelenggarakan turnamen sepak bola. Dengan demikian, profesionalitas AFF sebagai konfederasi sepak bola Asia Tenggara sangat patut dipertanyakan dalam hal pemahaman terhadap regulasi pertandingan sepak bola yang berlaku secara internasional.

    Lantas, bagaimana seharusnya sikap PSSI sebagai induk organisasi sepakbola nasional, menyaksikan fakta fenomena kasus turnamen AFF U-19 yang berujung pada gagalnya Timnas U-19 kita berprestasi di ajang AFF U-19 ini?

    Pesan singkat saya kepada PSSI, "Keluar saja PSSI dari keanggotaan AFF bila masih berkeinginan kuat menempa Timnas Bola kita menuju raihan prestasi di ajang Internasional, masih ada konfederasi lainnya, selain AFF" ... Sekian dan terima kasih. 

    Salam Satu Bangsa Indonesia_Nusantara, Salam PANCASILA, Salam Nasionalisme Sepakbola Indonesia_Nusantara ...

    Kota Malang, Juli hari kedelapan belas, Dua Ribu Dua Puluh Dua.

     

     

    Ikuti tulisan menarik sucahyo adi swasono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.