Perjalananku Menjadi Guru - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Perjalananku Menjadi Guru

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 12 Agustus 2022 13:14 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Perjalananku Menjadi Guru

    Mengaku bahwa dirinya bodoh bukanlah sebuah aib. Biar bodoh yang penting banyak akal dan gigih. Itulah kunci keberhasilan Djie Siang Lan alias Lanny Anggawati dalam berjuang menyambut masa depan ditengah kesulitan keluarga akibat dari ayahnya ditangkap karena dianggap musuh negara.

    Dibaca : 1.403 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Perjalananku Menjadi Guru

    Penulis: Djie Siang Lan (Lanny Anggawati)

    Tahun Terbit: 2004

    Penerbit: Wisma Sambodhi

    Tebal: iv + 135

    ISBN:

     

    Buku “ Perjalananku Menjadi Guru” adalah buku kedua dari enam buku karya Djie Siang Lan alias Lanny Anggawati (Ang). Buku pertamanya berjudul “Di Dalam Derita Manusia Membaja” berkisah tentang masa kecilnya sampai usia 15 tahuh, saat ditinggal sang ayah karena ditangkap apparat dalam kasus G30S 1965. Buku kedua ini berkisah bagaimana upayanya untuk kuliah sampai menjadi guru Bahasa Inggris di IKIP Sanata Dharma Jogjakarta.

    Kehilangan sosok ayah membuat Ang dan keluarganya mengalami kesulitan ekonomi. Akibatnya keluarga Ang harus berusaha keras untuk melanjutkan hidup. Untunglah keluarga besarnya ikut membantu. Namun kerja keras dan kegigihan Ang dan keluarganyalah yang lebih berperan dalam membangkitkan kembali kelanjutan keluarga ini.

    Ang ikut keluarganya di Solo untuk menempuh SMA. Ia belajar di SMA Kristen Sidokare, Solo. Masa SMA-nya dilalui dengan membantu pekerjaan saudaranya membuat roti dan belajar dengan giat. Meski bekerja keras dan giat belajar, Ang tidak kehilangan keceriaan dan masa remajanya. Ia ungkapkan bagaimana pertemanan (dan “permusuhan”) dengan teman-teman sekolahnya dan hobi jalan-jalan.

    Selepas SMA di Solo, Ang mencoba untuk masuk universitas negeri. Ia mendaftar di UGM, ternyata tidak diterima. Ang diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro di Semarang. Sayangnya Ang tidak mampu untuk memberikan sumbangan yang diharapkan oleh Undip. Sebagai keturunan Cina, Ang harus membayar lebih mahal. Pasaran Fakultas Kedokteran saat itu adalah Rp. 750.000. Sementara Ang hanya mencantumkan Rp. 500.000, yang saat itu seharga 1 kg emas! Maka kandaslah cita-citanya untuk menjadi mahasiswa universitas negeri yang kelak membawanya menjadi dokter.

    Tak putus asa ditolah dua universitas negeri, Ang mencoba keberuntungan di universitas swasta. Ia mendaftar di Jurusan Bahasa Inggris IKIP Sanata Dharma. Di universitas inilah akhirnya Ang belajar.

    Tema utama yang ditampilkan oleh Ang dalam buku ini adalah tentang kerja keras dan banyak akal. Bodoh tidak apa-apa asal banyak akal dan mau bekerja keras. Ang mengisahkan kegoblokannya dengan jenaka. Ia menyadari bahwa dirinya tidak bisa berbahasa Inggris, meski nelai bahasa Inggrisnya 9 di rapor SMA. Ia dengan gagah berani mengakui kegobokannya.

    Karena tahu bahwa dirinya tidak paham bahasa Inggris, tetapi nekat kuliah di jurusan Bahasa Inggris, maka Ang menggunakan akalnya yang banyak supaya ia tidak tertinggal dalam pelajaran. Ia belajar dengan gigih tentang gramer dan segala aturan kebahasainggrisan. Jika pada 3 bulan awal Ang dianggap sepele oleh kawan-kawan kuliahnya, setelah bekerja keras dan banyak akal, Ang mulai bisa menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Inggris yang paham bahasa Inggris.

    Setelah mempunyai ilmu yang memadai, Ang mulai bersentuhan dengan proses belajar mengajar. Bermula menjadi pengajar privat, menjadi asisten dosen dan mengajar di SMA, Ang mengawali karirnya sebagai seorang pengajar.

    Pengalamannya yang keras membentuknya menjadi seorang guru yang bijaksana. 695

     

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.