Rejeki Tidak Hanya Materi, juga Harus Dicari - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Ergonomis kerja

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Minggu, 14 Agustus 2022 05:58 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Rejeki Tidak Hanya Materi, juga Harus Dicari

    REJEKI itu bisa berupa apa saja. Ia bisa datang dari pintu mana pun. Setiap mahluk, selalu Allah jamin rejeki yang melimpah. Namun, acapkali kita abai.

    Dibaca : 597 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ungkapan “kalau ada dapat uang atau rejeki, nanti kalian  aku traktir” tidak keliru. Alhamdulillah Allah kasih sehat, pun tak salah. Tidak keliru dan tak salah

     

    Tidak keliru, karena mendapat uang tergolong rejeki. Tidak salah, bahwa kesehatan yang kita miliki pun merupakan rejeki pula.

     

    Allah Menjamin Rezeki Kita

    Allah SWT menjamin,  bahwa setiap mahluk yang bernyawa akan mendapatkan rezeki. Dalam  surah Al-Hud ayat 6 Allah menegaskan:

     

    “Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

     

    Rezeki dalam konteks luas, tidak semata-mata materi. Sehat, memiliki teman yang baik, memiliki keluarga yang saling menyayangi, dan memiliki tetangga yang saling menolong dalam segala hal adalah rezeki tiada tara. Ada pula yang mengaitkan rezeki itu  nikmat berupa: karir, jabatan, dan anak-anak yang saleh dan salehah.

     

    Acapkali, walau sudah mengetahui jaminan Allah sebagaimana disebutkan, manusia sering galau. Baginya, rezeki identik dengan adanya harta yang melimpah. Itu sebabnya,  banyak yang berkompetisi dan menghalalkansegalacara demi memperoleh harta.

     

    Dalam hal memproleh rezeki, berupa materi,sangat dianjurkan agar caranya mencari dan memperoleh dengan cara sesuai syariah.  Di lain pihak, kita pun dilarang bersantai-santai  dalam memperoleh rezeki, karena Allah telah menjaminnya. Kita perlu berikhtiar.

     

    Mengambil kisah pada masa Umar bin Khattab, beliau  pernah menegur pemuda-pemuda yang seharian banyak menghabiskan waktunya di masjid, tanpa melakukan ikhtiar untuk mencari rezeki. Umar marah mendengar pernyataan pemuda tersebut yang mengharapkan ridha Allah, tapi enggan untuk mencari rezeki-Nya.

     

    Kisah ini memberikan hikmah kepada kita, bahwa ikhtiar itu diperlukan agar kita memperoleh apa yang telah kita usahakan selama ini. Allah memang menjamin rezeki tiap mahluk-Nya, tapi jaminan tersebut juga berdasarkan atas usaha kita.

     

    KH Nurul (2022) dalam hal ini menganalogikannya dengan cicak. Cicak tetap berikhtiar untuk mencari rezeki-Nya, meski ia tak dapat berjalan karena tubuhnya hanya menempel di dinding, cicak merayap dari satu sisi ke sisi lain untuk mendapatkan makanan. Allah menjamin rezekinya melalui serangga-serangga yang datang mendekat padanya, sehingga ia dapat tetap hidup dan makan dari serangga tersebut.

     

    Adapun dalam hal memikat rezeki, KH. Nurul menerangkan bahwa ada amalan khusus yang dapat kita lakukan untuk mendatangkan rezeki yang tentu saja disertai dengan ikhtiar. Amalan tersebut adalah rajin salat dan  menunaikan ibadah sunah salat duha beserta dengan doanya. Wallahu alam bisshowab.

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.