Dakocan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Selasa, 30 Agustus 2022 06:52 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Dakocan

    Sebuah awalan kalimat untuk flashfiction karya Ikhwanul Halim berjudul Telepati telah menggugah saya dalam membaca psikologi sosial tentang makna suatu komitmen atas pernikahan dan mengapa mereka yang menikah masih membutuhkan adanya pihak ketiga. Hal yang cukup ironi dengan akhir sebagai bumerang kepada dirinya sendiri bahkan untuk niat “untuk kebaikan”. Mengapa manusia masih membutuhkan pernikahan, dan juga, seringkali melupakan kesepakatan di dalam pernikahan yang mereka ciptakan sendiri?

    Dibaca : 595 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aku selalu berasumsi bahwa aku adalah satu-satunya orang dengan kemampuan telepati untuk membaca pikiran orang lain. Aku memutuskan sejak lama untuk menggunakan keterampilan ini untuk kebaikan, jadi aku menjadi konsultan perkawinan.” [Ikhwanul Halim]

    Sebuah awalan kalimat untuk flashfiction karya Ikhwanul Halim berjudul Telepati telah menggugah saya dalam membaca psikologi sosial tentang makna suatu komitmen atas pernikahan dan mengapa mereka yang menikah masih membutuhkan adanya pihak ketiga. Hal yang cukup ironi dengan akhir sebagai bumerang kepada dirinya sendiri bahkan untuk niat “untuk kebaikan”. Mengapa manusia masih membutuhkan pernikahan, dan juga, seringkali melupakan kesepakatan di dalam pernikahan yang mereka ciptakan sendiri?

    Dalam sebuah artikel yang dirilis oleh livescience.com: "What marriage had in common was that it really was not about the relationship between the man and the woman," said Stephanie Coontz, the author of "Marriage, a History: How Love Conquered Marriage," (Penguin Books, 2006). "It was a way of getting in-laws, of making alliances and expanding the family labor force." Maka, bagi saya, artikel tersebut secara garis besar dapat dikatakan bahwa sesungguhnya, manusia akan selalu dihantui oleh rasa kurang dan enggan merefleksikan proses hidupnya sebagai pembacaan atas diri sendiri “untuk kebaikan” yang akan mengarahkannya pada titik awal solusi. Suatu penghargaan atas hidup hancur di ruang ini.

    Untuk hal-hal yang sementara dan instan, manusia menikmati surganya dengan cara paling entah.

    Kembali pada inti flashfiction karya Ikhwanul Halim berjudul Telepati, bagaimana suatu komitmen tentang kebersamaan menemukan titik peristiwa dengan menghadirkan pihak ketiga, dan kehadiran pihak ketiga menjadi cermin bagi keduanya dalam hal jujur-percaya-terbuka sebagai sesuatu yang cukup ironi. Bahwa, ada pengorbanaan profesional dan harga yang tidak akan pernah dibaca oleh sang suami dan sang istri pada saat mereka lupa akan komitmennya masing-masing. Hal ini terlalu sering menjadi peristiwa yang tidak terbaca sebagai bentuk hubungan kemanusiaan dalam menjalin relasi secara internal keluarga hingga relasi sosial.

    Dan, bahwa, seorang konseling pun manusia, yang kita tidak pernah tahu, bagaimana mereka harus berdamai dengan peristiwa-peristiwa atas tanggung jawab profesionalnya. Banyak contoh di mana pekerja kesehatan mental manusia maupun pemikir psikoanalisa harus mengakhir hidupnya dengan gangguan pikiran dan meninggal dengan menyimpan kesedihan terdalam. Walaupun tidak sedikit dari mereka yang masih memainkan peran atas nama profesional sebagai cara meraup tenun demi keuntungan lain. Namun, untuk suatu dunia yang membutuhkan layanan kesehatan hingga jalinan kemanusiaan, saya masih percaya akan kehadiran orang-orang yang bertanggung jawab atas pilihan profesionalitas mereka.

    Lantas, apa sebenarnya makna manusia memilih menikah? “The Love which moves the sun and the other stars.” [Canto 33 - Paradiso, Dante Alighieri] Mungkin, komitmen pernikahan benar-benar tercipta dengan landasan kasih sayang antar manunsia atau tentang merawat standar moral tentang “a way of getting in-laws, making alliances and expanding the family labor force” yang tidak pernah dilandasi oleh kasih sayang sebagai praktek nyata tentang bagaimana saling menghargai dan menjaga pilihan antar sesama manusia, atau makna komitmen pernikahan telah berganti wajahnya, serupa boneka hitam dengan mata lebar bernama dakocan yang hadir sebagai mainan dalam melipur lara para manusia untuk hal-hal yang terlupakan.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.