Dialog: Ironi Negeri ini

Rabu, 1 Mei 2024 16:17 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Percakapan dua orang pemikir bangsa, di sebuah warung kopi sederhana, membahas realita kehidupan negeri ini yang penuh ironis.

"Pernahkah terpikir dibenak kita, kalau kita bisa seperti negeri amrik yang dapat mengendalikan perekonomian negeri lainnya yang menjadi lawan mereka?"

"Ah gimana lu ini! Rakyat kita boro-boro mikirin ngulik kapitalisme, yang kita bisa saat ini mencari uang! Bukan ngulik sistem yang mengkokohkan uang kita, rupiah kita!"

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Bener juga ya. Kenapa kita ga kepikiran kita membangun kekuatan bersama agar masyarakat menjadikan rupiah kokoh di atas ekonomi dunia? Saat ini kita malah sibuk cari uang untuk kebutuhan. Kenapa para ekonom bangsa kita tidak memberikan pencerahan pada kita semua? Apalagi tuh mereka yang sekolah di amrik, kerjaannya sebar pemahaman kapitalisme, tanpa berkeinginan memperkuat rupiah kita bersama rakyat!"

"Ya jelaslah, mereka kan didoktrin jadi kacung negeri asing! Senang bangsa kita melarat, namun kantong duit mereka makin tebal, karena sukses dalam tugasnya jadi jongos negeri imperialis macam amrik."

"Pake bilang uang itu netral lah, tidak baik dan tidak buruk. Buktinya kita dibuat sibuk cari duit, tanpa merenungkan hakikat hidup, apa benar sepanjang hidup kita hanya untuk cari duit doang?"

"Ya mestinya kita mikir juga sebagai rakyat lah, kita diberi impian semu dengan barang barang mewah elektronik buatan negeri barat. Tapi saat negeri kita membuat secara mandiri, apakah negeri kita mendukung? Jangan salahkan negerilah, negeri bergerak kalau rakyat bergerak, kita kan negeri demokrasi, kan kita lebih percaya produk buatan asing dibanding produk buatan anak negeri?"

"Begitulah bangsa kita, kiblat kita seakan negeri orang lain, tanpa sadar kita jadi masyarakat kelas dua yang sibuk dengan iming iming produk bangsa lain."

"Memang dari mana sih budaya kita gak senang liat anak negeri maju di negerinya sendiri?"

"Gak gitu juga sih, selama sang anak negeri yang maju itu mengharumkan nama bangsa, ia dikenal negeri orang, dipuja bangsa bangsa selain bangsa kita. Pastilah sang anak negeri itu juga dielu-elu oleh rakyat kita."

"Ohh ... jadi mesti dikenal bangsa lain dulu ya, kalau mau mendapatkan pengakuan bangsa kita?"

"Ya itulah ironi negeri kita."

"Jadi solusinya?"

"Kita seluruh rakyat wajib percaya dan mendukung akan potensi anak bangsa kita yang bersungguh-sungguh mengabdi demi negeri dan siap bersaing dengan pasar global. Baik mereka yang bekerja dalam hal perekonomian, riset dan teknologi serta yang berjuang dengan pemikirannya yang mendalam. Dengan sendirinya potensi mereka berkembang, kepercayaan untuk mereka meluas, dan nama mereka menjadi besar. Sebagai imbalannya, bangsa kita dilirik asing dan kita berkuasa menjadi kiblat bangsa bangsa lainnya."

"Oh begitu ... jadi keinget jargon lama iklan televisi jaman dulu haha!"

"Apa itu?"

"Cintailah produk-produk Indonesia."

Cimahi, 1 Mei 2024.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Hamba Allah dan Umat Muhammad Saw. Semakin besar harapan kepada Allah melebihi harapan kepada makhluk-Nya, semakin besar pula potensi dan kekuatan yang kita miliki.

1 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua