Setelah Badai Berlalu - Perjuangan Istri yang Ditinggal Suami Karena Dituduh PKI - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Setelah Badai Berlalu

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 17 Oktober 2022 18:38 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Setelah Badai Berlalu - Perjuangan Istri yang Ditinggal Suami Karena Dituduh PKI

    Liem Hok Nio ditinggal Alex - sang suami, karena dituduh sebagai anggota PKI. Bukan hanya kehilangan suami, harta Hok Nio juga dikuras habis oleh aparat. Dalam kondisi kalut dan ketakutan, Hok Nio berhasil bangkit membesarkan 8 anaknya sampai menjadi sukses.

    Dibaca : 1.327 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Buku ” mengisahkan tentang kehidupan seorang ibu yang harus menghidupi anak-anaknya karena suaminya ditangkap polisi karena dituduh sebagai anggota PKI. Buku yang ditulis ulang berdasarkan buku Perjuangan Memperjuangkan Anak karya Suharjo HS ini memuat bagaimana perjuangan Liem Hok Nio sejak ditinggal sang suami sampai dengan anak-anaknya sukses tidak terlantar. Buku ini ditulis ulang dengan editor Bondan Nusantara.

    Buku ini dicetak dan diedarkan pertama kali pada tahun 2001, sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke 75 Liem Hok Nio. Buku ini kemudian dicetak kembali pada tahun 2006 untuk mengiringi kepergian Sang Wanita Perkasa Liem Hok Nio.

    Liem Hok Nio diasuk oleh orangtua angkat. Meski orangtua angkat, Hok Nio tidak pernah kekurangan kasih sayang. Meski ibunya mendidiknya dengan keras. Justru pendidikan keras penuh disiplin inilah yang kemudian berguna baginya dalam menghadapi prahara kehidupan saat ditinggal suaminya.

    Hok Nio menikah dengan Alex alias Djie Kiem Koen. Mereka menikah pada tanggal 25 Oktober 1947. Pernikahan mereka penuh kebahagiaan. Mereka dikaruniai 8 anak. Ekonomi keluarga berkecukupan, kalau tidak bisa dibilang kaya. Sampai suatu hari terjadi huru-hara G30S.

    Alex dituduh menjadi anggota PKI karena dia adalah Ketua Baperki. Alex ditangkap pada akhir Oktober 1965. Mula-mula ia ditahan di Penjara Klaten. Kemudian di tahun 1966, ia dipindahkan ke Pengadilan Negeri Klaten, dan kemudian lenyap tanpa diketahui nasip selanjutnya.

    Derita Hok Nio tidak hanya karena kehilangan suami. Harta yang dimilikinya pun dikuras habis. Mereka yang mengaku sebagai pejabat, dengan seenaknya datang dan mengambil apa saja dari rumah Hok Nio. Bahkan harta yang sudah dijual pun juga ditanyakan untuk disita. Hanya Siang Lan, sang anak perempuan yang berani melawan para perampok tersebut.

    Dalam kondisi ketakutan dan hartanya dijarah, Hok Nio harus menghidupi anak-anaknya. Ia tidak menyerah. Ia tidak larut dalam kesedihan dan penyesalan. Ia bangkit memimpin anak-anaknya untuk menjadi sukses. Anaknya yang kuliah di Kedokteran Gigi UGM terpaksa pindah kuliah ke Solo dan akhirnya memutuskan untuk berhenti. Djie Liong Hwie diminta oleh Hok Nio untuk bekerja membantunya supaya adik-adiknya tidak terlantar. Liong Houw, anak keempat (putra kedua) juga terpaksa tidak melanjutkan kuliah selepas SMA. Siang Lan, sang anak nomor tiga – perempuan, membuka kembali toko sepeda yang sempat tutup.

    Stigma terhadap keluarga PKI, apalagi dari etnis tionghoa sungguh membuat susah keluarga ini. Meski telah kehilangan suami, keluarga Hok Nio masih harus menghadapi kesemena-menaan para pejabat yang tega memeras keluarga ini.

    Meski berat, usaha Hok Nio dibantu oleh anak-anaknya membuahkan hasil. Mereka berhasil bangkit dalam bisnis. Siang Lan berkaris di dunia pendidikan dengan mendirikan sekolah dan kursus bahasa Inggris. Di bagian akhir buku ini, anak dan cucu Hok Nio memberi kesaksian tentangnya. Di mata anak dan cucu, Hok Nio dikenal sebagai orangtua yang keras, suka marah, penuh disiplin tetapi tegas dan mengasihi keluarganya.

    Liem Hok Nio adalah contoh bagaimana seorang perempuan, seorang ibu mampu menghadapi badai yang menerpa keluarganya. Hok Nio ditinggal sang suami ketika usianya 38 tahun. Ketegarannya dan keberanianny menghadapi segala masalah dan ketakutan telah membuahkan hasil. Anak-anaknya sukses dalam bisnis dan kehidupan sosial. 708

     

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Bayu Lukmana

    Selasa, 8 November 2022 17:43 WIB

    Lagu Satu Jiwa Lambang Toleransi Keragaman

    Dibaca : 754 kali