Cerita Perjalanan Koordinator Program Pemberdayaan Petani di Yayasan Ayo Indonesia Richard Urut Menemani Tamu dari Swiss dan Kalimantan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Anton Kipler dari Swiss foto bersama petani agrobisnis di Pasar Sotor Ketang, Selasa (6/9/2022) Foto/RR.

Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2022

Jumat, 25 November 2022 10:26 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Cerita Perjalanan Koordinator Program Pemberdayaan Petani di Yayasan Ayo Indonesia Richard Urut Menemani Tamu dari Swiss dan Kalimantan

    Petani Agribisnis menerapkan pola pertanian terintegrasi untuk menjamin kontinuitas Produksi Sayur-sayuran di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pola Pertanian ini memadukan usaha ternak dengan sayur-sayuran sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan petani di Manggarai.

    Dibaca : 350 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Cerita Perjalanan Richard Urut, Koordinator Program Pemberdayaan di Yayasan Ayo Indonesia dengan tamu dari Swiss dan Kalimantan;
     
    Petani Agribisnis menerapkan pola pertanian terintegrasi untuk menjamin kontinuitas Produksi Sayur-sayuran.




    Anton Kipler dari Swiss foto bersama petani agrobisnis di Pasar Sotor Ketang, Selasa (6/9/2022) Foto/RR.
     


    Yayasan Ayo Indonesia dikunjungi dua tamu beberapa minggu lalu, 1 orang dari negara Swiss dan 1 orang Dayak. Kedua orang itu, datang dari jauh untuk lejong (bertamu) bertukar pengalaman tentang usaha pertanian dengan beberapa petani mitra dari Yayasan Ayo Indonesia yang tinggal di Lembor, Ketang Pasar Sotor, Null, Jing Golo Ndari dan kampung kopi Wela Golo Worok, selama lima hari, 5-9 September 2022.
     
    Sejak Tahun  2000,Yayasan Ayo Indonesia mempromosikan pertanian untuk tujuan Ekonomi, Gizi dan Ekologi kepada petani-petani di perdesaan di Manggarai.

    Para staf pendamping program agrobisnis di Yayasan Ayo Indonesia tentu merasa senang dan bangga didatangi orang asing, sebab setiap perjumpaan bagi mereka sangat bermakna lantaran kesempatan ini pasti mengandung konten pertukaran pengalaman atau pengetahuan.
     
    Peristiwa ini sangat bersejarah tentu bagi Yayasan Ayo Indonesia, walaupun hasil karyanya bersama para petani kecil di perdesaan melalui program pemberdayaan sosial ekonominya belum dapat membawa perubahan besar tetapi kehadirannya di Manggarai telah mengubah tidak sedikit orang secara sosial ekonomi, dimana pendapatan mereka meningkat dan setiap hari mereka mengkonsumsi aneka sayur-sayuran sehat.

    Perjumpaan dua orang asing itu dengan Yayasan Ayo Indonesia dilandasi oleh satu spirit bersama untuk berkontribusi mengatasi persoalan kemiskinan, mencegah petani-petani termarginalisasi oleh kemajuan pembangunan yang begitu pesat di Flores dan mempromosikan pertanian permanen (permakultur) secara organic. Penerapan pertanian organik menjadi pilihan untuk menjaga kualitas lingkungan hidup dan keberlanjutan pembangunan.

    Bagi Yayasan Ayo Indonesia yang menerima kedatangan tamu (tuan rumah), berinteraksi dengan orang yang berbeda latar belakang, baik dari segi budaya, pengalaman maupun pengetahuan tentu bermakna, menjadi hal positif, karena pasti akan mendapatkan pengalaman baru dalam bentuk masukan-masukan ataupun kritikan, terhadap apa yang sudah dan belum dicapai dalam program pemberdayaan.
     
    Baik input maupun kritik keduanya dipandang sebagai kekuatan dari luar untuk mendorong peningkatan kapasitas (skill dan mind) dari para staf agar mereka dapat menemukan strategi inovatif yang sesuai dengan perkembangan jaman, dalam kerja pemberdayaan sebab tujuan harus tetap dicapai dimana petani mesti berkecukupan pangan, ekonomi, gizi dan tanah tetap terjaga kesehatannya (healthy soil) atau kualitasnya.
     

    Yayasan Ayo Indonesia memang dari awal memposisikan dirinya sebagai Rumah Belajar, maka setiap orang yang diberi tanggungjawab atau peran baik sebagai Manager Program, Koordinator maupun staf program harus memiliki mindset dimana dirinya adalah orang yang selalu "haus"untuk belajar sebab kemajuan adalah kepastian dan tidak boleh ditinggal oleh kemajuan itu.

     

    Ekonomi berubah setelah berbisnis sayur-sayuran

    Anton Kipler merasa kagum dengan 1 keluarga di Kakor, Lembor, Manggarai Barat yang telah berhasil berbisnis sayur-sayuran. Rita Giut, salah satu petani perempuan mitra dari Yayasan Ayo Indonesia dengan bangga menunjukkan hasil kerja kerasnya kepada Anton berupa bedeng yang telah ditumbuhi sayur-sayuran, jenis kangkung darat, cabe besar dan tomat. Ketiga jenis sayur-sayuran tersebut tampak tumbuh subur dan tegar sebagai dampak dari penggunaan tehnologi arang sekam, pupuk organik dan perawatan tanaman yang dilakukan setiap hari. Kepada kedua tamu istimewa itu, Rita menceritakan apa adanya tentang hasil penjualan sayur-sayuran dari lahan yang berukuran luas 6 are dan cara menjual dengan menggunakan media sosial.


    Kebun Agrobisnis milik Rita Giut di Kakor, Lembor, Kabupaten Manggarai Barat

    Pada musim tanam pertama tahun ini, kata Rita omzet penjualan dari tomat, cabe kecil dan kangkung darat mencapai puluhan juta rupiah, penghasilan dari usaha ini dapat mencukupi biaya Pendidikan kedua anaknya yang sedang bersekolah di SMPK Santu Klaus Kuwu bahkan untuk mewujudkan rencana keduanya guna membangun rumah.
     
    Sebagian uang dari hasil penjualan sayur-sayuran tersebut, lanjut Rita, ditabung di Koperasi Kredit CU Florette, salah satu Credit Union di Manggarai yang memberi perhatian pada pemberdayaan ekonomi anggota.
     
    Ketekunan Rita dan Suaminya menyimpan uang di Lembaga Koperasi setiap bulan patut diacungkan jempol, hal ini memungkinkan mereka mendapatkan pinjaman di CU Florette untuk membangun satu rumah sederhana. Keberhasilan yang luar biasa ini, sayangnya, tidak ditiru oleh petani lain di sana, meski Rita dan Suaminya tanpa bicara banyak telah menunjukkan sesuatu yang beda di kebun mereka di samping dan belakang Rumah.

    Satu hal menarik yang keluar dari mulut Rita secara lugas disampaikan ketika menceritakan tentang pengelolaan usahanya pada 3 tahun terakhir, adalah setiap uang yang masuk dari hasil penjualan sayur-sayuran dikeluarkan atau dibelanjakan untuk menyimpan (Saving) di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) CU Florette. Sehingga dapat dikatakan bahwa keluarga ini sungguh paham tentang melek keuangan (financial literacy). Menabung telah menjadi kebiasaan dalam pengelolaan keuangan keluarga.
     
     
    Perjalanan hari kedua dengan Pa Anton dan Peritno yang kami menyebutnya sebagai perjalanan "pertukaran pengalaman" dilanjutkan dengan mengunjungi dua petani sukses di belakang pasar sotor ketang. Di sana, mereka bertemu dengan Herman dan Martinus yang didampingi oleh isteri dan anak mantu mereka. Di dalam rumah sederhana berdinding gedek milik Herman yang telah dibentangi tikar pandan berwarna merah, biru dan ungu dengan motif khas manggarai, Anton dan Peritno yang didampingi oleh Staf Agrobisnis Yayasan Ayo Indonesia diterima secara adat Manggarai, “Manuk Kapu” (ayam) dengan penuh keramahtamahan. Ayam jantan putih bersih simbol dari ketulusan hati untuk menerima tamu yang dipandang sebagai bagian dari keluarga, terlihat dipegang erat oleh martinus dalam posisi duduk bersila kemudian mengucapkan secara budaya manggarai kata-kata penyambutan selamat datang.
     
     
    Saya duduk agak jauh dari kedua tamu tersebut, mengambil posisi dekat pintu masuk, menyaksikan tuan rumah menunjukkan raut wajah tersenyum dan tampak sumringah, tentu dimaknai sebagai tanda bahwa mereka senang dikunjungi orang asing, sangat bersejarah, ada orang yang asing datang bertamu di rumah mereka yang sangat sederhana. Tetapi kalau menghubungkannya dengan cerita mereka di halaman depan rumah, rasa kebahagiaan itu tidak terlepas dari suatu pengalaman berharga yang mereka alami dimana mereka telah mendapatkan jutaan rupiah dari hasil penjualan sayur-sayuran yang beli oleh pedagang sayur dari Pasar Wae Nakeng, Lembor dan Ruteng pada minggu sebelumnya.



    Penerimaan 
    Anton Kipler dan Peritno secara adat Manggarai "Manuk Kapu" 

    Anton dan Peritno kelihatannya sangat senang dengan cara kelompok tani pasar sotor menyambut tamu. Anton secara spotan mengatakan kepada mereka, “Hari ini saya merasa sangat bahagia, diterima dengan penuh senyum dan kita telah menjadi satu keluarga besar meski saya tinggal di Swiss,”ujar Anton yang telah berusia 73 tahun ini.

    Mengembangkan pola pertanian terintegrasi menjamin kesuburan tanah.


    Herman kemudian mengajak Anton dan Peritno ke kebun miliknya, bekas lahan sawah, berukuran luas kurang lebih ¼ hektar, terletak persis di belakang rumahnya. Sayur jenis salad, fanboks dan brokoli tumbuh subur, tidak heran kalau sayur-sayuran itu mampu menarik perhatian untuk segera dilihat dari dekat dan dipegang. Daunnya segar, mulus, dan utuh tak ada satu hama pun terlihat, batang dari sayur-sayur itu tampak berukuran cukup besar pertanda tanahnya kaya akan unsur hara organik.
     
    Pemandangan demikian dengan obyek sayur-sayuran hijau tumbuh segar di atas bedeng yang ditata rapih itu mengundang hasrat Anton untuk secepat kilat mengambil HP di saku celana lewisnya lantas meminta bantuan seseorang untuk mengabadikan momen itu bersama pemilik kebun dan beberapa petani dalam posisi berdiri dengan menampakkan wajah penuh senyum di celah-celah bedeng.


    Mengembangkan pertanian terintegrasi dengan usaha peternakan untuk menjamin ketersediaan pupuk organik

    Kepada kedua tamu itu yang berdiri di tengah kebun sayur, Herman menjelaskan bahwa pupuk yang digunakan adalah kotoran kambing dan babi, sambil menjelaskan Panjang lebar tentang pupuk organic, dia menunjukkan dengan jari telunjuknya letak kandang kedua jenis ternak, dan ternyata posisi kandang dekat dengan lokasi kebun sehingga tidak sulit bagi dia dan isterinya untuk mengangkut pupuk ke lokasi kebun. Dia menerapkan pola pertanian terintegrasi, memadukan usaha pemeliharaan ternak dan sayur-sayuran. Pola ini sangat masuk akal untuk memastikan kontinuitas produksi.

    Cerita lain, tidak kalah menariknya dari Herman yang mencengangkan Anton dan Peritno, adalah tentang alasannya menanam sayur-sayuran dengan cara mengubah lahan sawah menjadi “ladang uang” bagi keluarganya. Herman menegaskan kembali bahwa kebun sayurnya dulu, kurang lebih 5 tahun lalu, adalah lahan sawah tadah hujan (tegalan) dengan 1 kali musim tanam saja karena terbatasnya air, hasil padi tidak mencukupi kebutuhan pangan dan keuangan keluarga saat itu sebab lahan sawahnya tersebut tidak subur.


    Herman Haju, petani sukses agrobisnis dari Pasar Sotor Ketang, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai-NTT

    Berdasarkan karakteristik fisik, tanah di lokasi kebunnya teridentifikasi termasuk ke dalam jenis “tanah bontong jarang” (pantat kuda) atau istilah dalam ilmu tanahnya dikenal dengan sebutan tanah pod solik kuning. “Hasil padi paling tinggi 5 karung setara 350 kg beras atau jika dirupiahkan sama dengan Rp 3.500.000 untuk 1 musim tanaman yang jangka waktu panennya 5 bulan,” kata Herman. Namun sejak Herman dan Isterinya memutuskan untuk beralih ke usaha sayur-sayuran, keadaan berubah, di atas lahan kurang subur itu, kemudian dihasilkan puluhan juta rupiah dari hasil penjualan beberapa jenis sayur-sayuran, antara lain fanboks, ketimun, brokoli, terung, kol dan salad. Hal ini terjadi, ungkap Herman, akibat keseringan menggunakan pupuk organic dari kotoran ternak dan ditambah dengan arang sekam, dalam setiap musim tanam, 4 kali setahun.
     
    Pada akhir perjalanan Anton memberikan gagasannya

    Buah pikiran dari Anton yang disampaikan kepada Yayasan Ayo Indonesia merespon apa yang dilihat dan didapat selama kunjungan pertukaran pengalaman itu, adalah Yayasan Ayo Indonesia perlu melakukan survey pasar (permintaan) di Labuan Bajo untuk menentukan pola dan waktu tanam, terus menyadarkan keluarga petani mengkonsumsi sayur-sayuran setiap hari agar anggota keluarga sehat, konsisten mendorong petani untuk mengembangkan pertanian permakultur, mencari tehnologi pengendalian hama secara alamiah, membangun visi dari para petani dan sebaiknya menghindari penggunaan urea yang berlebihan sebab hari ini kita mendapatkan hasil yang banyak karena urea tetapi anak cucu kita di masa depan menuai kesulitan dalam bertani.

    Ikuti tulisan menarik Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.