Dokter Soemarno Gubernur DKI Saksi Peristiwa G30S di Ibukota - Analisis - www.indonesiana.id
x

Cover buku Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 28 November 2022 06:22 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Dokter Soemarno Gubernur DKI Saksi Peristiwa G30S di Ibukota

    dr. Soemarno adalah saksi peristiwa G30S di Jakarta. Saat peristiwa G30S, Soemarno adalah Gubernur DKI sekaligus Menteri Dalam Negeri. Sebagai Gubernur sekaligus Menteri Dalam Negeri, Soemarno merasa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

    Dibaca : 686 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya

    Penulis: Soemarno Sosroatmodjo

    Tahun Terbit: 1981

    Penerbit: Gunung Agung

    Tebal: x + 462

    ISBN:

     

    Saya membeli buku ini karena ingin berkenalan lebih dalam dengan dr. H. Soemarno Sosroatmodjo. Sebab nama beliau menjadi nama Rumah Sakit Daerah di Kota Tanjungselor. Minat saya untuk membeli buku ini juga dipicu saat saya membaca buku tentang Tjiputra. Di buku-buku tentang Tjiputra, nama Soemarno selalu disebut. Anehnya di buku-buku tentang Tjiputra, Soemarno disebut sebagai Gubernur Jakarta.

    Buku “ Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya” ini memberikan informasi yang cukup lengkap tentang sosok yang membuat saya penasaran. Buku yang ditulis sendiri oleh Soemarno ini membeberkan peran beliau bagi Republik Indonesia. Ternyata beliau bukan saja seorang dokter yang mengabdi di pedalaman Kalimantan dan Gubernur Jakarta, beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri. Karirnya di bidang kesehatan sangat lekat dengan kemiliteran. Sebagai dokter militer karir Soemarno menanjak sampai ke level Jenderal.

     

    Masa G30S

    Soemarno memilih mengisahkan lebih dulu tentang peristiwa G30S dari perspektif yang beliau tahu. Baru kemudian secara kronologis menceritakan masa kecilnya, saat sekolah kedokteran di Netherlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya, menjadi dokter di Bulungan, Kalimantan Utara (saat itu masih Kalimantan Timur) dan di beberapa kota kecil di Kalimantan, jaman Kemerdekaan dan saat ia menjabat Gubernur di Jakarta. Soemarno menceritakan bagaimana kedekatannya dengan Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia.

    Pemilihan menampilkan peristiwa G30S lebih dulu membuat buku ini langsung memberikan informasi yang merangsang saya untuk terus membaca. Lain halnya jika disajikan secara kronologis. Mungkin saya tidak cukup sabar untuk merangkak mengikuti kisah Soemarno sejak dari kecil.

    Soemarno adalah saksi sejarah G30S. Sebab saat itu beliau menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri merangkap sebagai Menteri Kepala Daerah Jakarta Raya. Soemarno telah menjadi Gubernur Jakarta Raya sejak tahun 1960. Saat dilantik menjadi Menteri Dalam Negeri, posisi Gubernur digantikan oleh Henk Ngantung yang sebelumnya adalah Wakil Gubernur. Namun saat Henk Ngantung terganggu kesehatannya, Soemarno kembali ditunjuk untuk merangkap jabatan sebagai Gubernur.

    Jadi, saat G30S meletus, Soemarno mempunyai posisi yang sangat penting. Selain sebagai Menteri Dalam Negeri, beliau juga sebagai Menteri Kepala Daerah Jakarta Raya. Meski mempunyai posisi yang penting, Soemarno merasa bahwa beliau tidak mempunyai informasi mengapa peristiwa ini bisa terjadi. Soemarno, seperti halnya Umar Wirahadikusumah merasa kecolongan (hal. 57). Sebab sebagai pejabat yang memegang jabatan penting di Jakarta, beliau sama sekali tidak tahu ada peristiwa penculikan para jenderal. Soemarno bahkan masih merencanakan untuk menghadiri pembukaan Pameran Pembangunan Bukarest bersama Duta Besar Rumania dan Ibu Hartini (hal. 8).

    Soemarno menjelaskan bagaimana dinamika orang-orang yang berada di sekitar Bung Karno sebelum, saat dan setelah G30S. Meski faksi-faksi itu saling bersaing, namun sepertinya semua masih tunduk kepada Bung Karno. Sementara itu Sukarno terus berusaha menyatukan berbagai pihak tersebut.

     

    Masa Kecil Sampai Menjadi Dokter di Pedalaman Borneo

    Masa kecil Soemarno dilaluinya di Jember, sebelum kemudian kuliah di NIAS di Surabaya. Soemarno menyatakan bahwa pengalamannya sebagai Pandu di masa remaja sangat bermanfaat dalam pekerjaan saat beliau sudah dewasa. Terutama tentang membangun rasa nasionalisme (hal. 127).

    Soemarno lulus dari NIAS pada Bulan April 1938. Beliau langsung ditugaskan ke Bulungan. Soemarno menggantikan dr.  Sapuan Sastrosatomo yang telah bertugas selama 4 tahun. Dengan menumpang Kapal Koninkelijke Paketvaart Maatschappij (KNP) beliau menuju ke Tanjungselor pada tanggal 14 Juni 1938. Pelayaran ini tidak langsung menuju ke Bulungan (hal. 194). Kapal KPM dipenuhi oleh para KNIL. KPM mula-mula berangkat dari Surabaya menuju Balikpapan. Dari Balikpapan kapal menuju Tarakan.

    Soemarno menjelaskan bagaimana bentuk pelayanan kesehatan di sekitar Bulungan saat itu. Pelayanan ke pedalaman dilakukan dengan menggunakan perahu (hal. 206). Jadilah Soemarno harus belajar mengendarai perahu. Penyakit yang sering dihadapi masyarakat adalah frambosia, mencret, batuk dan cacingan (hal. 207). Selain masalah kesehatan, Soemarno juga mengisahkan tentang pemuda-pemuda Dayak yang diangkut dari Tanjungselor ke New Guinea/Papua untuk dijadikan kuli. Pengangkutan orang-orang Dayak dari pedalaman yang memerlukan waktu yang lama ini membuat kebanyakan dari mereka sakit. Hampir 70% dari mereka masuk rumah sakit (hal. 211).

    Setelah bertugas di Bulungan, Soemarno dipindahkan ke Kuala Kapuas di Kalimantan Tengah dan kemudian di Kandangan Kalimantan Selatan (hal. 232). Di Kandanganlah pertama kali Soemarno ikut politik. Beliau menjadi anggota Parindra. Soemarno mengomentari kebijakan Belanda yang menugaskan dokter-dokter muda dari Jawa keluar Jawa, dari Sulawesi ke Ambon, dan dari Kalimantan ke Jawa secara tidak langsung mendorong tersebarnya rasa kebangsaan secara merata di wilayah Hindia Belanda.

    Saat Soemarno di Kandangan, Jepang masuk Indonesia. Pada tanggal 22 September 1942, Soemarno mendapatkan surat penugasan sebagai dokter oleh Pemerintah Jepang. Soemarno hampir saja terbunuh oleh Jepang karena hampir saja memubuhkan namanya di daftar yang menyokong Rumah Sakit Zending. Mereka-mereka yang menyokong Rumah Sakit Zending benar-benar karena alasan kemanusiaan. Namun semua nama yang terdapat di daftar tersebut dibunuh oleh Jepang karena dianggap pro Belanda (hal. 256). Hal lain yang diceritakannya adalah tentang langkanya obat-obatan karena wilayah Kalimantan terputus hubungan dengan Jawa (hal. 258).

     

    Meniti Karir Sebagai Dokter Tentara

    Kepulangannya ke Jawa membuka jalan bagi Soemarno menjadi dokter tentara. Ketika Jepang kalah, Soemarno kembali ke Jawa. Ia terpaksa menumpang kapal layar karena Jepang mengatakan bahwa sudah tidak ada kapal lagi yang akan berlayar ke Jawa dari Banjarmasin. Ia menempuh perjalanan selama 7 hari sebelum akhirnya sampai ke Madura. Saat di Malang ia berkontak dengan dokter-dokter yang sudah lebih dulu berada di Surabaya dan Malang. Tiba-tiba saja ia mendapat pangkat Kapten Jepang supaya bisa menjadi bagian team dokter yang mengambil alih Rumah Sakit Celaket, sebuah rumah sakit Zending di Malang (hal 288). Beliau bergabung dengan tim dokter Divisi VII. Soemarno ikut serta merawat para korban ketika terjadi pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November.

    Salah satu upaya Soemarno untuk mengatasi kurangnya tenaga medis di saat perang adalah dengan melatih pemuda-pemudi untuk menjadi tenaga medis (hal. 293). Pengalaman menyiapkan tenaga medis di kala perang ini membuat Soemarno mempunyai pengalaman khusus yang kemudian dipakai oleh tentara untuk menyiapkan tenaga medis di kalangan militer.

    Pada tahun 1948, Soemarno dipercaya untuk menjadi Kepala Rumah Sakit Tentara (RST) di Solo. Beliau bergabung dengan Divisi IV. Saat di Solo Soemarno harus merawat tentara korban pemberontakan PKI Madiun. Soemarno juga sempat berkontak dengan dr. Muwardi sehari sebelum dr. Muwardi diculik (hal. 314). Begitu pentingnya RST di Solo, Kolonel Gatot Subroto yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Militer meminta Soemarno untuk mempertahankan RST Solo dari tangan Belanda. RST Solo harus dinyatakan sebagai RS PMI jika Kota Solo diduduki Belanda. Soemarno adalah saksi pertempuran 4 hari di Solo antara Tentara Pelajar yang dipimpin oleh Achmadi melawan Belanda.

    Pada tahun 1949, Soemarno menjadi salah satu dari 5 Kepala Jawatan Kesehatan Tentara (hal. 338). Tugas dari Kepala Jawatan adalah untuk mengambil alih semua rumah sakit militer yang ada. Sejak itu Soemarno pindah ke Jakarta. Soemarno memimpin pengambil-alihan rumah sakit tentara di Indonesia Timur, termasuk yang ada di Sulawesi Selatan dan Maluku. Soemarno menjabat sebagai Dokter Divisi Teritorium Indonesia Timur (hal. 391).

     

    Sebagai Gubernur DKI dan Tentang Sukarno

    Karir politik Soemarno diawali pada tahun 1960, ketika beliau diangkat menjadi Gubernur Kepala Daerah Khusus Jakarta Raya oleh Presiden Sukarno (hal. 380). Proyek pertama yang dilakukan adalah pencegahan banjir di Ibukota Negara ini. Ia berperan dalam pendirian Department Store Sarinah (hal. 397). Sarinah Department Store pertama di Jakarta dan di Indonesia. Soemarnolah yang menggagas adanya patung dengan sosok perempuan sebagai modelnya (412). Sebab patung-patung yang sudah berdiri di Jakarta, semua menggunakan sosok pria sebagai modelnya.

    Tugas Soemarno bukan hanya mengatasi banjir di Jakarta. Tugas lain yang amat penting adalah membenahi Jakarta supaya layak menjadi Ibukota Negara. Ia membangun perumahan, membangun pertokoan dan pusat bisnis, membenahi kebersihan Jakarta. Secara khusus, Soemarno ditugasi oleh Bung Karno untuk membuat Perencaan Kota Jakarta (metropolitan planning), termasuk bekerjasama dengan Jepang (411).

    Tugas Soemarno sebagai Gubernur DKI membuat hubungannya dengan Sukarno sangat dekat. Soemarno menceritakan bahwa Soekarno pernah memintanya untuk sebuah tugas penting saat berada di toilet bersama Sukarno. Soemarno juga mengisahkan betapa Sukarno adalah seorang pengagum wanita cantik. 719

     

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.