Keajaiban dalam Cerita Wayang - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 20 Januari 2023 22:47 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Keajaiban dalam Cerita Wayang

    Dalam cerita wayang banyak sekali gambaran keajaiban yang gambarannya menyerupai teknologi tinggi. Apa saja gambaran tersebut? Silahkan baca terus.

    Dibaca : 302 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Keajaiban Dalam Cerita Wayang

     

    Bambang Udoyono

     

    Banyak sekali kisah keajaiban dalam wayang.  Saking ajaibnya banyak orang percaya bahwa di masa lalu pernah ada peradaban yang memiliki teknologi tinggi.  Kemudian peradaban itu musnah karena terjadi perang nuklir maha dahsyat yang menghancurkan segalanya.  Berikut ini beberapa keajaiban yang dikisahkan dalam wayang.

     

    Resi Gotama suami Dewi Windradi memiliki tiga anak. Pertama  Dewi Anjani yang cantik jelita. Kedua Subali dan Ketiga Sugriwo. Keduanya adalah satria tampan dan gagah perkasa.  Ketiganya anak baik, tapi suatu hari ketika sang resi akan semedi anak anaknya ribut terus.  Sang resi agak marah lalu mencari tahu. Ternyata ketiga anaknya sedang berebut Cupu Manik Astogino.  Ini adalah benda ajaib milik ibunya.  Konon kalau bagian atasnya ditengok akan terlihat langit seisinya. Kalau bagian bawahnya dilihat akan nampak bumi seisinya.    Oleh sang resi benda itu dibuang jauh. Ketika jatuh ke bumi terdengar suara gemuruh kemudian tempat jatuhnya berubah menjadi sebuah telaga. Benda apakah ini, yang bisa menampilkan peta bumi dan langit?  Mungkinkah itu alat navigasi untuk perjalanan antar planet? 

     

    Raja Dworowati yang bernama Kresno dan biasa dipanggil Jliteng oleh Bimoseno,  memiliki sebuah pusaka berujud koco benggolo alias layar kaca.  Kalau Kresno manatapnya dia bisa melihat orang dari jauh. Dia juga bisa berbicara dengan orang di kejauhan itu berkat koco benggolonya.    Sekarang kita bisa melakukan video call dengan hp. Apakah Kresno sudah punya hp? 

     

    Kresno juga punya kembang wijoyokusumo yang sangat ampuh.  Kalau ada orang mati yang belum saatnya lalu diungkuli (kembang tersebut ditaruh di atasnya), maka si mati akan hidup kembali. Teknologi ini sampai sekarang belum ada.

     

    Arjuno memiliki panah pusaka bernama Pasopati yang bisa mengejar musuhnya ke manapun dia lari. Gambaran panah ini mirip dengan heat seeking missile alias rudal pencari panas.  Rudal ini bisa memindai panas mesin jet lawan lalu memakainya sebagai pemandu untuk mengejarnya.   

     

    Adipati Karno di pihak Kurowo juga memiliki panah serupa bernama Kunto Wijoyondanu.  Dalam perang Baroto Yudo panah Kunto inilah yang menewaskan Gatotkoco yang sebelumnya tak terkalahkan.  Panah ini mengejar Gatotkoco ke manapun dia lari.

     

    Gatotokoco memiliki kemampuan terbang. Para dalang Jawa menggambarkannya udan ora kodanan, panas oran kepanasen alias ketika hujan dia tidak kehujanan dan ketika panas dia tidak kepanasan.  Mungkin dia ada di dalam cockpit pesawat tempur.   Gatotkoco juga seorang bionic man. Gambaran ki dalang Jawa tentang dia adalah berotot kawat, bertulang besi, dan berkulit tembaga. Dia juga punya kotang ontokusumo alias pelindung badan yang membuatnya kebal segala macam senjata.

     

    Beberapa tokoh wayang juga bisa terbang. Rahwono misalnya ketika menculik Dewi Sinto dia membawanya terbang. Di punggung beberapa tokoh yang bisa terbang itu sebuah alat bernama badong.  Ini sejatinya bukan sekedar hiasan tapi mesin terbang.  Jadi mungkin di masa lalu ada mesin jet kecil untuk terbang.  Tidak semua tokoh memilikinya.  Hanya beberapa tokoh saja.

     

    Tokoh yang tidak bisa terbang bisa juga melakukan perjalanan dengan cepat dan nyaman.  Caranya mereka dimasukkan dalam kancing gelung (jepit rambut) dari tokoh yang bisa terbang. Teknologi ini belum dikenal sampai sekarang.

     

    Ontorejo, salah satu anak Bimoseno, memiliki kemampuan ambles laut alias menyelam.  Dari dalam sana dia bisa menyerang musuhnya.  Agaknya dia adalah komandan satuan kapal selam.

     

    Ontoseno, saudara Gatotkoco dari ibu lain memiliki kemampuan ambles bumi alias masuk ke bumi.  Agaknya dia adalah komandan bunker alias persembunyian bawah tanah. Dia bisa membunuh musuhnya hanya dengan menjilat telapak kaki si musuh.  Teknologi ini belum ada sampai sekarang.

     

    Pada akhir perang Baroto Yudo di pihak Kurowo tinggal satu orang tokoh bernama Aswotomo, anak Resi Durno.  Dia punya sebuah panah pusaka yang paling sakti bernama Cundomanik.  Sebenarnya panah ini tidak boleh dipakai oleh dewa karena bisa menghancurkan dunia.  Karena kalap Aswotomo memakainya untuk menyerang Pendowo.  Arjuno juga memiliki satu panah ini sehinga terpaksa dia memakainya.  Kedua panah itu bertemu dan akibatnya dalam gambaran ki dalang dahono sundul ing awiyat (api menyundul langit).  Bola api raksasa akibat ledakan itu gambarannya mirip dengan ledakan nuklir jaman kini.  Ledakan itulah yang mengakhiri perang Baroto Yudo lantaran banyak sekali korban jiwa dan kerusakan.      

     

    Apakah dulu pernah ada perang nuklir yang menghancurkan dunia?  Apakah sang pujangga hanya makai imajinasinya? Biasanya seorang pujangga menulis berdasarkan apa yang dialaminya atau dilihatnya.   Apakah dia melihat sendiri semua alat dan kejadian itu?   Wallahualam.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.