Makanan dalam Cerita - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Sumber gambar : merdeka.com

Dewi puspa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 23 Januari 2023 09:18 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Makanan dalam Cerita

    Adanya deskripsi makanan dan minuman dalam cerita memberikan daya tarik tersendiri. Bahkan tak sedikit yang menjadikan makanan menjadi fokus cerita

    Dibaca : 171 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Buku-buku anak karya Enid Blyton dulu dan kini menjadi favoritku. Terutama yang memiliki unsur petualangan dan fantasi. Bukan hanya jalan ceritanya saja yang menarik, namun aku selalu menanti bagian-bagian ketika makanan hadir dan disebut dalam ceritanya. Ada limun jahe, sarden, tarcis, tomat dalam krim, dan sebagainya, membuatku merasa lapar dan kemudian kenyang. 

    Ya, makanan bagi Enid sepertinya sesuatu yang wajib disertakan. Seingatku ia suka memasukkan atribut makanan tersebut ke dalam ceritanya. Dan, itulah yang membuat cerita-ceritanya makin menarik dan khas.

    Aku suka sekali membayangkan makanan dalam cerita yang tak pernah kusantap. Pusing nasi, misalnya. Wah seperti apa puding tersebut sehingga ada anak yang begitu menyukainya. 

    Hampir sama dengan Enid, penulis lainnya yang juga suka memasukkan unsur makanan adalah Astrid Lindgren. Karakter favoritnya, Pippi si Kaus Kaki Panjang meski kocak dan eksentrik, tapi pandai memasak. Ia pernah membuat begitu banyak tart, membuat pesta untuk anak-anak dengan kue dan hidangan yang sedap. 

    Nah, kalau kedua pengarang itu memasukkan makanan ke dalam kisah fiksi, maka Laura Ingalls menceritakannya ke dalam bukunya yang semi biografi. Disebut semi biografi karena tak semuanya nyata, ada beberapa bagian yang didramatisasi. Meski demikian, Laura di luar ceritanya yang sedikit rasis, adalah pengarang favoritku. Ia pandai sekali mendeskripsikan sesuatu dalam serial Little House on the Prairie. 

    Laura dan keluarganya pandai memasak. Nah, dalam buku-buku nya ada menu dan resep masakan yang unik. Pastel burung hitam, misalnya. Suatu ketika keluarga mereka tak punya uang, bahan makanan hampir tak bersisa, dan panen gagal karena serangan burung hitam. 

    Oleh ayahnya, burung hitam itu ditembaki untuk dimasak. Ibunya yang cerdik kemudian mencoba memasaknya ala pastel tutup. Dan, rasanya ternyata mirip dengan pastel ayam. Mereka lega karena setidaknya mereka bisa tetap makan. 

    Di cerita lainnya, mereka juga hampir kelaparan karena musim dingin berkepanjangan. Hampir tujuh bulan. Mereka juga mulai kehabisan makanan dan uang. Akhirnya mereka menggiling gandum kasar untuk dibuat roti. Kata Laura rasanya mirip kacang. Mereka menyantap roti gandum kasar dan kentang rebus setiap harinya hingga badai tersebut reda dan bahan makanan datang. 

    Lain dengan keluarga Laura yang hidup serba terbatas, keluarga suaminya hidup makmur. Dalam buku Anak Tani, diceritakan masakan dari sarapan hingga makan malam selalu beragam dan berlimpah. Dalam buku ini diceritakan awal mula donat.

    Donat pada jaman mereka yang umum itu bentuknya tidak bundar berkubang seperti sekarang. Umumnya donatnya panjang dan dipilin. Tujuannya agar mereka tak perlu membaliknya saat digoreng.

    Nah dalam cerita tersebut, Ibu Almanzo Wilder bercerita jika ia mendengar ada bentuk donat baru yang bundar dan berlubang. Itu inovasi baru di jamannya. Ia tak ingin mengikutinya karena baginya buang-buang waktu. 

    Selain tiga pengarang manca di atas, pengarang Indonesia juga ada yang erat kaitannya dengan makanan. Ia adalah Umar Kayam. Lewat buku Mangan Ora Mangan Kumpul, ia memasukkan banyak makanan yang membuat kalian penasaran dan tergoda. Ada penggeng ayam, sate usus, es krim, dan brongkos. 

    Dewi Lestari lewat cerita pendek Filosofi Kopi juga memasukkan berbagai jenis kopi dalam ceritanya. Ini membuat kalian mendapat wawasan tentang kopi nusantara dan ingin mencobanya. 

    Bagaimana jika kalian juga ikut mencobanya, membuat fiksi kuliner? 

    Kita tinggal di negeri seribu masakan sehingga kita punya bahan cerita yang tak ada habisnya. Ada lebih dari seribu masakan, belum lagi kudapan, minuman, dan juga bahan-bahannya. Jika kita menulis fiksi kuliner setiap harinya kita tak akan pernah kekurangan bahan. 

    Cerita tentang makanan ini memberikan data tarik tersendiri. Ada banyak pembaca yang menyukainya, baik yang hanya menjadi bumbu atau malah menjadi fokus cerita. 

    Yuk coba ceritakan makan siang kalian. Kalian akan takjub karena masakan yang bagi kalian biasa saja akan jadi nampak istimewa dalam cerita. 

    Ikuti tulisan menarik Dewi puspa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.