x

Digital Photography by Tasch

Iklan

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Senin, 20 Maret 2023 19:10 WIB

Duotone

Cerpen Duotone. Keajaiban Ilahi hadir sesuka waktu tanpa terduga, tanpa disadari, hadir hanya untuk insan beriman, baik hati selalu gembira gemar menolong, tak gemar gosip sindir menyindir. Hanya ada kemuliaan hati. Bukan gugusan sulapan filantropi jadi magma, kawah menganga banjir bandang melanda derita penerima, hak, lantas tak menerima, haknya, sebagaimana seharusnya. Dilipat, dicatut atas nama ... Sulapan unik egosentris materialisme, kealpaan menghormati keikhlasan hukum-Keilahian. Teganya ya jadi api di tengah perubahan, pertumbuhan keimanan teman kebaikan. Bersambung enggak ya ceritanya. Salam baik saudaraku.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Musim pancaroba, patah tumbuh hilang berganti. Itulah hidup, kata perlambang zodiak umumnya. Lantas, apa ada suatu hal terjadi jika tak ada hidup? Enggak tau deh. 

Dambaan insan kamil kan? Hidup berdampingan baik-baik saja. Apa iya bisa mulus tanpa noktah. Beneran nih. Bagus deh kalau bisa begitu, tanpa pemeo kiri kanan atas bawah.

Menggedor kesadaran budi pekerti, baik hati tidak sombong. Apa sudah sepenuhnya terjalin tali kasih di antara insan kamil? 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Keluarga, akademi kebaikan tersahih, di sana lahir kemanusiaan nan tulus, sekalipun hujan badai, tsunami mengancam dermaga sekaligus. Tonggak gugusan kasih sayang tangguh terbangun menjulang langit.

Keajaiban Ilahi hadir sesuka waktu tanpa terduga, tanpa disadari, hadir hanya untuk insan beriman, baik hati selalu gembira gemar menolong, tak gemar gosip sindir menyindir. Hanya ada kemuliaan hati. 

Bukan gugusan sulapan filantropi jadi magma, kawah menganga banjir bandang melanda derita penerima, hak, lantas tak menerima, haknya, sebagaimana seharusnya. Dilipat, dicatut atas nama ... Sulapan unik egosentris materialisme, kealpaan menghormati keikhlasan hukum-Keilahian. Teganya, jadi api di tengah perubahan, pertumbuhan keimanan teman kebaikan. 

Apa itu abstraksi? Gejala serupa budaya narsis persis presisi. Di antara lalulalang urban simbol. Kekejaman individualistis kerap, seiring perubahan waktu perdetik berbeda. Apakah iya begitu, bentuk jamak dari hidup. Waduh  ... Celaka betul nampaknya apabila begitu. Cek cek cek.

**

Masing-masing kembar identik, asyik memandang panorama kota urban metropolis dengan isi kepala berbeda-beda, di ketinggian menara kota.

"Gravitasi milik siapa?" menghela desah napas. 

"Milik sains Ilahi. Kenapa? Baru belajar?" tanpa menoleh. Asyik menikmati panorama, waktu ketika itu.

"Buktikan." Tanpa menoleh.

"Nantang?" belum menoleh. Keduanya tersapa hening udara, bersahabat, di kepala sains masing-masing.

"Coba," serentak saling menoleh. 

"Zav, sebentar. Perhatikan gemerlap lampu kota, beterbangan kian kemari, mereka seperti bernyawa saling berkejaran.

"Matamu terhipnotis fatamorgana, Ziv." Santai cuek. Tapi inderanya memperhatikan. Lantas di benaknya. "Perubahan apa lagi ya ..."

"Kau pemerhati keren." Senyum, sedikit melirik, Ziv. Serentak keduanya menoleh, wajahnya saling terperanjat.

"Ziv, jujur. Adakah berbeda di tubuhmu?" 

"Enggak tuh. Seperti biasa aku bisa melihat otak di kepalamu. Kenapa?"

"Nah, itu!" memperhatikan, Ziv, dengan saksama. "Tadinya tidak begitu kan? Kau hanya melihat kepalaku tapi tidak otakku."

"Iya sih. Zav, daya pikirmu terasa aneh. Kenapa?" di benaknya membenarkan dugaan, Zav, tapi, inderanya memerintahkan, mencoba menolak dugaan itu.

**

"Sikaa! Sikaaaa! Dimana kamu, Sikaaaaa!" berteriak sekuat-kuat.

"Pssst! Berisik!" membisik di telinga, Saki.

"Haaah!" kaget memukul-mukul. "Bikin kaget aja kakak!" keduanya berpelukan, Saki, nangis sejadi-jadinya di pelukan kakak kembarannya.

"Apaan sih. Kebiasaan deeh, kaget, nangis. Adik kakak tetap cantik. Ssst! Stop nangisnya, kita cari si kembar Zav. Badai agak reda, udara agak lembab. Yuk!" Klik! Masing-masing lampu senter gunung menyala, di kening kepala, di tangan.

Entah keduanya menyadari atau tidak. Mereka berjalan secepat badai. Seluruh pelosok pegunungan, tak dijumpai, Zav atau Ziv, selesai pencarian di area itu.

"Kak.  Ada tanda di kejauhan." si kembar mengamati.

"Saki. Ayo, menuju tanda itu." Segera bergegas. "Semoga mereka baik-baik saja."

"Yuk! Lebih cepat kak." 

Perjalanan menuju kota urban metropolis, tak terpaut lama menjejak gedung-gedung pencakar langit. Mereka berpapasan berbagai waktu peristiwa di perjalanan. Agaknya perhatian mereka fokus menuju sosok dicari. 

"Kau mencium bau sesuatu?" Sika.

"Belum tuh." 

"Belum atau akan?"

"Bau huru-hara kak."

"Mantan gedung SMP kita, Saki. Yuk!" Keduanya meluncur arah Selatan kota. Api, belum menyala besar sekitaran halaman luar mantan sekolah mereka.

"Psst! Stop!" samar terlihat sosok mengendap-ngendap. 

Pada Saki. "Kamu ke kanan aku ke kiri. Kita sergap mereka," bisik-bisik

"Selamatkan perpus dulu kakak."

Membisik. "Nanti, sergap mereka dulu," segera berpencar. Sigap menyergap sosok.

Buk! Buk! Gubrak! Buk! Saling banting, pukul memukul. "Ziv! Stop! Kakak stop!" Saki teriak. 

"Hahhh ..." Semuanya. 

"Ngapain kalian di sini. Sssst!" keempatnya jongkok mengendap. "Ada predator. Ssst. Berpencar. Sergap. Mereka lima orang." Berpencar, sekilat hilang.

Api, sekeliling sekolah agak membesar. Saki, menuju perpus, memadamkan api. Sika, berkeliling meredakan amarah api. Suara di kejauhan. Auman sirene Damkar ke arah mereka. Zav-Ziv, meringkus singkat kelima begundal. Keempatnya superkilat, bebenah area sekolah, kembali seperti sediakala, lalu keempatnya menyirna. Lima begundal, bukti pelaku kejahatan, catatan grafiti di punggung mereka masing-masing. Diringkus keamanan kota bareng pasukan Damkar.

Serentak Digital Billboard, gambar bergerak, seantero kota urban metropolis, beberapa detik menayangkan short video shot kejahatan kelima begundal itu, pesan terakhir video itu "... Sedang dicari biangkeroknya ... "

News media kota urban metropolis, senegeri itu dibikin pusing tujuh keliling, tak tau kemana arah fakta akan diburu, tanpa itu, berita tak bisa tayang selengkap news investigasi xixixixixi, rame dehh ... 

Hampir setiap enam puluh detik, bemper news insert tayang "... Pencarian biangkerok pelaku kejahatan mantan gedung sekolah SMP kami, masih berlangsung. Pemirsa harap bersabar ..." Tertulis dengan huruf kapital. 

Stasiun media senegeri itu makin pusing, berita, pemberitahuan, nyelonong tak bisa dicegah sistem keamanan server mereka, demikian pula pihak keamanan senegeri, menerima info persis, di frekuensi waktu setara. Pada makin bingung deh ...

** 

SMA NEGERI IV DEWADEWI. Waktu Relatif.

Sirene istirahat, nyala mengaum pekak. Berhamburan generasi now, calon-calon cerdas bersih hati suci otak, keluar kelas. Kegembiraan masa SMA, topik kebahagiaan mengangkasa, rasanya rame bingit, seru berbudi terbuka, mereka mungkin para calon pembersih kotoran formal nyamuk malaria, hobi ngumpet di laci-laci om atau tante tak berbudi-kuasa usaha negeri itu. Iyauu ...

Sika-Saki, celingukan, arah suara di telinga mereka masing-masing. "Sudut taman depan bawah pohon beringin. Yuk!" bergegas.

Zav-Ziv, tiarap, mengintip arah depan gerbang sebalik tembok pagar sekolah ke balik gerobak ketoprak, menyusul Sika-Saki, tiarap berdampingan. Zav-Ziv, menjelaskan singkat. 

"Itu bodyguard, lima orang?" Sika.

"Banyak amat." Saki. 

Lanjut Ziv "Ngawal anak baru. Masuk IPA tadi pagi. Mudah-mudahan bukan anak setan," kepada Sika-Saki, lanjut lagi "Lihat arah kantin, dari sini."
 
"Wow!" Saki, langsung melesat, ke kantin.

"Wah!" Zav-Ziv.

"Ngaco dia. Kalau kalah mewek!" Sika.

"Nyusul!" Zav-Sika

"Kalian ke sana. Aku, ke bodyguard." Mereka berpencar. 

Setelah sedekat itu. "Oh! Om Komandan Santu," nama aslinya memang, Komandan Santu. "Loh, om Sobat, om Sohib. Wah! Om Selaut, om Selangit. Loh, Putri Bee?" Ziv, terpana pikirannya sejenak.

"Eh! Si ganteng! Apa kabar, Ziv," kor kelimanya. "Makin keren aja nih," kor lagi, bersalam-salaman. 

"Bee ...?" di hatinya merah marun.

***

Jakarta Indonesiana, Maret 20, 2023.

Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB

Terkini

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB