x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 18 Oktober 2023 11:17 WIB

Kamu Kecewa karena Terlalu Banyak Berharap kepada Manusia, Ini Penjelasannya

Kamu kecewa karena terlalu banyak berharap pada manusia. Jangan mencintai terlalu banyak. Cukup perbaiki hubungan dengan Allah SWT, tidak akan kecewa

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Apa kamu pernah kecewa? Kemarin atau hari ini, merasa diperlakukan kurang baik. Punya impian yang gagal terealisasi. Punya harapan yang belum juga terwujud. Kecewa lagi, kecewa terus dan jadi akhirnya serba pesimis. Jadi kecewa melulu. Mungkin karena terlalu banyak berharap pada manusia.

 

Sudah masukin proposal belum ada jawaban. Sudah kirim lamaran tapi belum dapat panggilan. Sudah daftar tapi belum ada kepastian. Kemarin pun sudah mencoba bersikap baik tapi tetap diperlakukan kurang baik. Sudah mencoba lebih perhatian tapi tetap biasa saja. Bahkan sudah mengubah penambilan namun tetap saja tidak dianggap. Sudah berusaha sekuat tenaga, menguras biaya, pikiran, waktu, namun tetap saja semua gagal. Semuanya sudah dilakukan. Tapi hasil tidak sesuai dengan harapan kecewa lagi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Bisa jadi, terlalu kecewa. Karena terlalu banyak berharap pada manusia. Terlalu berlebihan menaruh harapan, sehingga sulit menerima realitas. Kecewa yang mendalam karena berharap terlalu tinggi. Sekali lagi, jangan terlalu berharap. Jangan percaya terlalu banyak, jangan mencintai terlalu banyak. Sebab terlalu banyak akan melukai begitu banyak pula. Iya nggak?

 

Begitulah hidup dan kehidupan. Karena terlalu banyak berharap pada manusia. Terlalu berserah kepada orang lain. Terlalu mendekat kepada manusia, lalu lupa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ikhtiar hanya kepada manusia tanpa ikhtiar yang optimal kepada sang pencipta. Padahal hati manusia semuanya adalah milik Allah SWT. Katanya,  tidaklah ada seorang anak adam melainkan hatinya terletak di antara dua jari dari jari-jemari Allah SWT.

 

Hanya Allah SWT yang bisa membuat hati manusia di bolak-balik. Menjadi hati yang terbuka untuk mencintai dan menyayangi. Dan sebaliknya, menjadikan hati manusia tertutup tidak menyukai kita. Maka dekatilah dan perbaikilah hubungan kamu dengan Allah SWT. Maka Allah SWT juga akan memperbaiki hubungan kamu dengan manusia lainnya. Senangkan Allah SWT bila ingin disenangkan-Nya.

 

Dunia ini penuh gemerlap. Ingin bergaya dalam hidup, ingin dipuji manusia. Terbuai dengan kehidupan dunia. Hingga ada tiga perkara yang sangat penting namun sering terlupakan. Yaitu 1) siapa yang lebih fokus terhadap kehidupan akhiratnya  maka Allah SWT akan cukupkan urusan dunianya, 2) siapa yang memperbaiki batinnya, Allah SWT akan perbaiki lahirnya, dan 3) siapa yang memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, maka Allah SWT akan perbaiki hubungannya dengan manusia. Cukup, amalkan tiga perkara itu sekarang.

 

Penting banget sekarang. Perbaiki saja hubungan dengan Allah SWT. Perbaiki urusan sholat lima waktu, perbaiki cara ibadah, perbaiki niat dan ikhtiar hanya untuk Allah SWT, perbanyak zikir untuk mengingat-Nya, perbanyak doa yang baik, bersedekah, membaca Al Qur'an, tinggalkan kesyirikan. Selalu bertawakal kepada Allah SWT, bersabar, dan bersyukur. Dan akhirnya selalu berbuat baik dan menebar manfaat seperti berkiprah di Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Demi tegaknya adab baik dan tradisi baca anak-anak dan Masyarakat.

 

Maka sahabat, untuk apa sibuk memikirkan cinta manusia kepada kita? Tidak perlu dan mulailah perbaiki hubungan dengan Allah SWT. Karena manusia hatinya berbeda-beda. Hari ini manusia bisa cinta, besok berubah jadi benci. Sedangkan bila Allah SWT cinta kepada kita, maka Allah SWT mampu menjadikan hati manusia lainnya mencintai kita. Sebab itu, lebih baik fokus untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT.

 

Jangan berharap terlalu banyak pada manusia. Karena semakin kita terlalu berharap selain kepada Allah SWT, maka bersiap-siaplah untuk semakin kecewa. Terlalu berharap adalah akar dari semua rasa sakit di hati. Cukup perbaiki saja urusan dengan Allah SWT. Setelah itu, terus ikhtiar untuk menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Itulah prinsi literasi yang sebenarnya.

 

Seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia." Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #PegiatLiterasi

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu