Memahami Sikap Pantang Menyerah Gregoria Mariska

Minggu, 3 Desember 2023 18:58 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Gregoria Mariska, mulai menunjukkan kembali dirinya layak sebagai pebulutangkis tunggal putri dunia yang layak diperhitungkan. Banyak mengalami penurunan setelah juara dunia junior tahun 2017, dia mulai menemukan permainan terbaiknya dalam 1,5 tahun terakhir.

Ingat nama ini baik-baik yaa: Gregoria Mariska Tunjung, tunggal putri nomor satu Indonesia saat ini yang baru saja mendapatkan gelar Super Series 500 pertamanya sepanjang karir badmintonnya.  Di Jepang, tepatnya  diajang Kumamoto Master Japan 2023, “queen” Gregoria Mariska dibabak final mampu mengandaskan perlawanan mantan nomor satu dunia asal China, Chen Yufei  dua set langsung 21-12, 21-12.

Chen Yu Fei dibuat pontang-panting oleh Gregoria Mariska Tunjung, kadang bola didrop disamping, di dekat net ataupun dibuang jauh di luar jangkauan Chen Yu Fei. Tidak mengherankan pecinta bulutangkis Indonesia menyebutkan bahwa Gregoria Mariska Tunjung layaknya penari balerina yang sedang nyambi bermain bulutangkis, sungguh indah dan lincah.

Untuk tahun 2023, ini merupakan final ketiga dirinya sepanjang World Tour 2023 dan menjadi gelar keduanya setelah Spain Master  2023 dimana mengalahkan Pusarla Sindhu asal India, waoow. Bisa dikatakan yaa, Gregoria Mariska mulai menapaki perbaikan permainan dan kepercayaan diri semenjak tahun 2022 dan berlanjut hingga 2023 yang tentu diharapkan puncaknya adalah gelar diajang Olimpiade 2024, Paris nanti.

Sebagai salah satu pecinta bulutangkis nasional, rasanya apa yang didapatkan Gregoria ini sudah sangat luar biasa, mengingat semenjak dirinya masuk di jenjang senior dirinya sangat familiar dengan kalah dan pulang dibabak-babak awal dan bukan merupakan pemain langganan “sabtu-minggu” atau berlaga hingga semifinal dan final.

Pernah menjadi Juara Dunia Junior 2017, Gregoria Mariska membawa asa untuk mampu menjadi the next Susi Susanti dan Maria Kristin yang mampu memenangi berbagai macam turnamen bulutangkis. Tapi ya, dasarnya apes akan beban besar Gregoria Mariska setelah masuk kelas yang lebih tinggi hampir tidak mampu berkutik dan seperti menjadi semacam anekdot kalau Gregoria Mariska main paling hanya sampai “Rabu-Kamis”. Tahu kalian apa itu?

Berarti selama ikut turnamen bertahun-tahun, Gregoria Mariska hanya sering bermain sampai babak dua atau maksimal 16 besar belaka, itupun untuk turnamen-turnamen level bawah, sungguh mengenaskan. Tapi semua berubah, saat memasuki periode World Tour 2022-2023, Gregoria Mariska seperti mengalami perubahan besar dalam dirinya.

Mulai percaya dengan gaya main sendiri

2022 adalah tahun dimana Gregoria Mariska yang lama ngelungsungi menjadi diri yang baru. Tetap memiliki gaya main klamar-klemer, tapi memiliki akurasi pukulan yang tajam dengan keberanian bermain net yang membuat kita yang menonton terkadang berasa jantungnya mau copot dilihatnya. Dua kali mencapai babak delapan besar, dua kali menjadi runner-up dan sekali final di BWF World Tour 2022 dianggap sebagai pencapaian terbaik Gregoria Mariska setelah 2018-2021 selalu mengalami hasil bagaikan roller coster, naik turun tidak menentu. Hinaan, kritikan, hingga perasaan ingin pensiun dini sempat muncul dari dirinya, namun seperti yang dikatakan Susi Susanti dalam beberapa kesempatan memang untuk saat ini Gregoria Mariska adalah bakat terbaik tunggal putri selama beberapa tahun terakhir, jika dia mampu bangkit maka semuanya bisa dilewati.

Akhirnya setelah berdamai dengan dirinya sendiri dan yakin dengan kemampuannya, Gregoria Mariska mulai bangkit. Terbukti, walaupun sedikit keberuntungan 2022 dunia bulutangkis mulai melihat potensi sesungguhnya Gregoria Mariska dengan mampu lolos di BWF World Tour Final 2022 setelah menggantikan Pusarla Sindhu yang mundur karena cedera kala itu. Tren ini untungnya saudara semua berlanjutnya hingga 2023 dimana dirinya sudah mendapatkan dua gelar dan dipastikan lolos ke BWF World Tour 2023 dan masih mantap menempati peringkat tujuh dunia versi BWF yang merupakan peringkat tertinggi selama karir badmintonnya, goks beneer.

Dengan keadaan kaki yang mengalami kapalan baik sebelah kiri ataupun kanan masih mampu membluat dirinya bermain dengan maksimalu dan meraih hasilu gelar juara. Hal ini pun mendapatkan aspirasi dari pelatih HerIi Djaenudin yang menganggap bahwa keinginannya untuk menjadi yang terbaik lebih kuat daripada merasakan rasa sakit yang dideritanya. Melihat perkembangan Gregoria Mariska, rasanya gayanya yang klamer-klemer itu memang sudah menjadi cirinya dan diperkuat dengan pukulan yang lebih mematikan, kekuatan dan keyakinan dengan pola sendiri inilah yang membuat Gregoria Mariska seperti menari-menari layaknya balerina di atas lapangan badminton. Indah, tapi mematikan, seraaam.

Melihat situasinya sekarang, harapannya adik-adik tunggal putri dibawahnya seperti Putri KW, Ester Wardoyo ataupun yang terbaru Chiara Marvella Handoyo yang baru-baru mendapatkan medali perak Kejuaraan Dunia Junior 2023. Harapannya sederhana, mampu menjadi motivasi dan contoh langsung bahwa mencapai pemain badminton kelas dunia butuh usaha dan kerja keras. Sikapnya Gregoria Mariska yang mampu kembali menemukan jati dirinya dan percaya dengan ciri permainannya adalah kunci sukses mengapai prestasi dunia, bila bisa terus meningkatkan lagi performanya rasanya medali di Olimpiade 2024, Paris bukanlah hal yang mustahil untuk Gregoria Mariska yang asli Wonogiri ini. Walau federasi sekarang ini sedang disodori setelah prestasi buruk Asian Games 2022, China, kita hanya perlu yakin dan mendukung kalau bulutangkis Indonesia itu kelasnya yaa dunia, bukan AFF atau Asia Tenggara. Weeeh kayak familiar dengan istilah ini, tapi dimana yaaa.

Bagikan Artikel Ini
img-content
muhammad rizal

Pemula dan terus belajar

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler