Asian Games 2023, Harapan dan Mimpi Buruk Indonesia

Rabu, 25 Oktober 2023 21:32 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Indonesia berhasi mendapatkan tujuh medali emas, tapi disaat bersamaan bulutangkis tidak menyumbang sekeping pun medali dalam ajang olahraga terbesar di Asia tersebut. Menjadi harapan karena cabang olahraga lain yang dipertandingkan di Olimpiade mulai mampu menunjukkan gigi disaat bulutangkis mulai merosot semenjak awal tahun.

Sudah hampiar dua pekan  semenjak Asian Games 2023, Hangzhou, China resmi ditutup pada Minggu (8/10) dengan menjadi China sebagai juara umum untuk kesekian kalinya. Dengan perolehan medali 201 emas, 111 perak, dan 71 perunggu meninggalkan Jepang dan Korea Selatan diurutan kedua serta ketiga klasemen akhir. Hal tersebut memperkuat supremasi China sebagai negara yang selalu juara umum Asian Games semenjak tahun 1982 atau selama 11 kali penyelenggaraan Asian Games. Sungguh luar biasa. Untuk Indonesia sendiri Asian Games 2023 juga mencatatkan sejarah dengan mendapatkan medali emas terbanyak selama keikutsertaannya di luar menjadi tuan rumah dengan mendapatkan tujuh medali emas di Asian Games kali ini.

 Total medali itu bila dirincikan antara lain: tujuh medali emas, 11 perak, 18 perunggu. Untuk para peraih medali emas antara lain dari cabang wushu, menembak, BMX, angkat besi, panjat tebing dan perahu naga. Emas wushu dipersembahkan oleh Harris Horatius, Muhammad Sejatera dari cabang olahraga bahkan mampu mempersembakan dua emas di dua nomor yang berbeda. Untuk BMX diwakilikan oleh Amellya Nur Syifa, lalu angkat besi yang biasanya menjadi tenaga tambahan dalam perolehan medali dalam ajang Olimpiade mampu memberikan medali emas lewat Rahmat Erwin yang bahkan memecahkan rekor dunia clean and jerk dengan berat 201kg dikelas 73kg putra, kereen pokoknya, pun panjat tebing dipersembahkan oleh Desak Made Rita dan ditutup oleh beregu putra di cabang olahraga perahu naga.

Melihat situasi yang ada dalam ajang Asian Games 2023 sebenarnya untuk menatap ajang ke depan, yaitu Olimpiade.  Indonesia memiliki peluang untuk pertama kalinya bisa saja mendapatkan tiga medali emas dari tiga cabang olahraga, yaitu angkat besi, panjat tebing, dan tentunya bulutangkis yang biasanya selalu menyumbangkan medali emas. Di angkat besi kita punya peluang lewat Rahmat Erwin di kelas 73kg putra, sedangkan untuk panjat tebing kategori speed baik putra ataupun putri punya kesempatan yang sama lewat Desak Made Rita di speed putri yang baru saja mendapatkan emas di Kejuaraan Dunia pertamanya sekaligus menjadikannya Juara Dunia 2023 di Swiss sebelum berlaga di Asian Games 2023 dan putra oleh Veddriq Leonardo yang merupakan juara dunia panjat tebing 2022. Sedangkan bulutangkis, seperti biasa akan bergantung kepada tunggal putra dan ganda putra kita yang secara rangking masih masuk 10 besar dunia untuk sektor tersebut, harapan yang tidak muluk-mulukkan sebenarnya?

 

Mimpi Buruk Bulutangkis

Namun, disaat harapan Olimpiade 2024 mampu memberikan rekor mendapatman medali emas terbanyak kedepannya,  Asian Games 2023 ini juga menjadi masa paling haduh bagi cabang olahraga yang selama ini menjadi tulang punggung Indonesia di cabang Olimpiade yaitu bulutangkis yang diharapkan mendapatkan medali emas, malah mengalami hasil yang lebih buruk dengan nol medali sama sekaligus menjadi catatan pertama bulutangkis tidak dapat mendapatkan medali sama sekali diajang Asian Games. Gregoria Mariska, Anthony Sinisuka Ginting, dan pasangan ganda peringkat satu dunia kita Fajar/Rian semuanya gagal lolos ke empat besar alias jaminan mendapatkan medali perunggu sirna secara bersamaan, haah. Keadaan ini membuat kita berpikir, apakah ini waktunya pengurus federasi bulutangkis untuk overhaul semua metode yang selama ini mereka gunakan dan mulai update pengetahuan kepelatihan baru agar tidak tertinggal dengan negara-negara lain yang mulai mengejar kita.

Sungguh tragis sebenarnya. Desakan untuk adanya pergantian pengurus melalui mekanisme resmi organisasi mulai digalakkan oleh para penggemar bulutangkis dan pendukung lintas olahraga yang merasa harga dirinya tercoreng, karena olahraga kebanggaan mereka tidak mampu memenuhi ekspektasi yang biasanya mampu para atlet, pelatih dan pengurus wujudkan. Kekecwaan ini muncul karena hampir satu tahun ini bulutangkis kita kehilangan banyak gelar di turnamen-turnamen tingkat tinggi, baik secara individu ataupun beregu. Namun, batang hidung pengurus yang gagal mempertahankan prestasi bulutangkis Indonesia bahkan tidak muncul sama sekali dan terkesan seperti menumbalkan Rionny Mainaky dan Rehan Naufal Kusharjanto dalam beberapa momen yang membuat mereka menjadi rujakan semua para netizen kita yang kecewa. Walaupun sebenarnya di skuad yang lebih muda, bulutangkis kita mulai menunjukkan indikasi digdaya ketika berhasil menjadi juara umum di Sea Games 2023, Kamboja dengan berhasil meraih lima emas.

Memang beban sebagai cabang olahraga yang selama ini selalu menjadi lokomotif prestasi olahraga Indonesia diajang tertinggi selevel Olimpiade dan Kejuaraan Dunia, bulutangkis membutuhkan bantuan kita semua. Bantuan yang umum terjadi kita tetap harus mendukung dan sesekali memberikan kritikan yang tajam agar para atlet serta pelatih harus menyadari bahwa sebagai panji terdepan sewajaranya mampu lebih baik lagi ke depannya.  Tapi rasanya, pergantian pengurus dan jajaran pelatih yang kurang membantu pemain untuk berprestasi rasanya sudah mendesak serta harus dilakukan secepatnya.  Karena walaupun cabang olahraga lain berpotensi untuk ikut menyumbang emas di Olimpiade nanti, rasanya cabang olahraga lain masih membutuhkan “seniornya” untuk mengangkat prestasi bersama.

Bagikan Artikel Ini
img-content
muhammad rizal

Pemula dan terus belajar

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua