x

Sumber gambar: iStock

Iklan

Suko Waspodo

... an ordinary man ...
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 15 Mei 2024 19:56 WIB

Membawa Literasi Kesehatan ke Tingkat Berikutnya

Literasi kesehatan telah dikaitkan dengan perilaku kesehatan yang positif. Mengisi beberapa kekosongan dapat menjadikannya lebih efektif.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Literasi kesehatan memerlukan pengaturan mandiri. Beberapa bantuan tambahan mungkin diperlukan.

Poin-Poin Penting

  • Literasi kesehatan mencakup pengetahuan, komunikasi, dan berpikir kritis.
  • Efikasi diri merupakan faktor penentu keberhasilan manajemen kesehatan diri.
  • Ada program yang dapat memungkinkan tindakan yang didorong oleh literasi kesehatan.

Literasi kesehatan adalah sebuah konsep yang membahas kemampuan individu untuk “menemukan, memahami, dan menggunakan informasi dan layanan untuk menginformasikan keputusan dan tindakan terkait kesehatan bagi diri mereka sendiri dan orang lain.” Demikian definisi terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (2020).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam konteks sehari-hari, literasi kesehatan dapat berperan dalam banyak hal. Seringkali pengobatan penyakit kronis seperti gagal jantung atau diabetes melibatkan kepatuhan terhadap pengobatan dan perubahan gaya hidup seperti lebih aktif secara fisik dan mengonsumsi makanan yang lebih sehat.

Hal yang sama juga berlaku pada individu yang relatif sehat. Membuat orang termotivasi untuk lebih banyak berolahraga dan mengonsumsi makanan sehat dapat menjadi perjuangan berat dalam berbagai situasi.

Literasi kesehatan juga menunjukkan bahwa banyak orang tidak memahami cara kerja tubuh mereka.

Menyempurnakan Ruang Lingkup Literasi Kesehatan

Menurut tinjauan sistematis pada tahun 2020, literasi kesehatan dianggap sebagai cara yang sangat menjanjikan dan efektif untuk menghadapi peningkatan penyakit yang mereka sebut sebagai “penyakit tidak menular.” Masyarakat kita semakin terjangkit penyakit ini, dan kita sangat membutuhkan kemampuan untuk menggunakan informasi kesehatan untuk mengelola kesehatan kita.

Kurangnya literasi kesehatan dikaitkan dengan kesehatan yang buruk, tingginya risiko kematian, dan meningkatnya biaya terkait penanganan penyakit kronis. Memahami kemajuan medis dan obat-obatan baru, serta memilah informasi yang disajikan di berbagai bentuk media merupakan tantangan yang semakin besar dalam masyarakat modern. Literasi kesehatan menjadi lebih penting dari sebelumnya.

Tinjauan sistematis tahun 2020 menyajikan penelitian yang memenuhi beberapa elemen penting dari konsep literasi kesehatan. Ini bukan hanya tentang menggunakan pengetahuan untuk menginformasikan keputusan. Ini tentang mengetahui bagaimana memproses informasi tersebut dan kemudian mengambil tindakan untuk menjaga kesehatan.

Penelitian lain yang dikutip dalam tinjauan tersebut menyajikan konsep tambahan. Literasi kesehatan juga dapat mencakup kemampuan bekerja sama dengan penyedia layanan kesehatan untuk menjaga kesehatan. Dalam konteks ini berarti mampu menggambarkan situasi dan kesukaan seseorang.

Artikel tinjauan tersebut menyimpulkan bahwa perlu ada definisi baru mengenai literasi kesehatan sebagai “kemampuan seseorang untuk memperoleh dan menerjemahkan pengetahuan dan informasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dengan cara yang sesuai dengan konteks individu dan sistem.”

Definisi baru ini mengacu pada apa yang mungkin dibawa oleh masing-masing individu. Tingkat pendidikan, dukungan sosial, keyakinan tentang pentingnya kesehatan, dan pengalaman sebelumnya dalam sistem layanan kesehatan dapat berperan.

Ini Tidak Selalu tentang Literasi

Mempertahankan atau meningkatkan kesehatan bisa menjadi tugas yang sulit, bahkan bagi seseorang yang dianggap melek kesehatan. Ada hal lain yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengelola kesehatannya.

Misalnya, dua penelitian terhadap kelompok yang mengalami gagal jantung berkaitan dengan hubungan antara literasi kesehatan dan kemampuan mengelola penyakit. Sebuah penelitian (2018) menyimpulkan bahwa tindakan pasien yang efektif tidak berhubungan dengan literasi kesehatan atau pengetahuan tentang gagal jantung. Penelitian lainnya (2014) menemukan bahwa literasi kesehatan dikaitkan dengan pengetahuan, namun efikasi diri dikaitkan dengan kemampuan memulai perawatan mandiri untuk penyakit tersebut.

Melampaui Literasi Kesehatan

Sebagaimana dicatat dalam penelitian terhadap pasien gagal jantung, efikasi diri merupakan faktor penentu keberhasilan manajemen diri. Masyarakat perlu memiliki keyakinan pada kemampuan mereka untuk mengatur dan mengelola situasi kompleks seperti menjaga kesehatan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa proses yang dapat menciptakan kerangka kerja yang kokoh untuk membangun kepercayaan diri, kompetensi, dan perasaan berdaya:

1. Pola Pikir

Pola pikir berkembang dituangkan dalam buku Carol Dweck, Mindset. Ia menjelaskan bahwa growth mindset adalah kemampuan untuk mengubah tantangan menjadi pengalaman belajar. Ini adalah cara menggunakan pemikiran kreatif untuk memecahkan masalah atau mengatasi hambatan dengan cara yang produktif. Pola pikir berkembang dapat menciptakan kepercayaan diri terhadap kemampuan individu dalam mengelola kesehatannya sendiri. Di sisi lain, memiliki “pola pikir tetap” berarti seseorang mungkin terjebak dalam persepsi diri yang menghambat eksplorasi tindakan atau solusi baru. Seperti yang dicatat Dweck, mengajarkan dan memupuk pola pikir berkembang adalah hal yang mungkin. Beberapa aspek penelitian ini mendapat tantangan, namun konsepnya dapat membantu.

2. Wawancara Motivasi

Wawancara motivasi melibatkan mendengarkan dengan empati dan memastikan percakapan tentang individu. Ini adalah proses mengajukan pertanyaan terbuka yang dengan lembut mengarahkan percakapan agar berubah. Dengan menggunakan proses ini, klien sampai pada kesimpulan mereka sendiri tentang apa yang ingin mereka ubah mengenai kesehatan mereka dan alasannya. Ini merupakan proses suportif yang dapat berjalan selaras dengan konstruksi literasi kesehatan.

Yang penting, penelitian menunjukkan bahwa motivasi untuk menerapkan perilaku kesehatan berkelanjutan sering kali berasal dari komitmen terhadap nilai-nilai pribadi yang mendalam. Wawancara motivasi dapat membantu mengungkap hal tersebut dan menghubungkannya dengan tindakan spesifik yang berkontribusi terhadap perubahan yang sehat.

3. Eksplorasi

Buku The End of Try Try Again dan Action Workbook yang menyertainya membahas perubahan atau pemeliharaan perilaku kesehatan menggunakan banyak konsep yang disebutkan di atas. Menjawab pertanyaan akan meningkatkan kesadaran diri, memungkinkan seseorang menyesuaikan strateginya secara individual, dan membantu mereka membangun keterampilan yang dibutuhkan untuk membuat perubahan yang sehat.

Metode-metode ini dapat digunakan secara efektif untuk memperluas dan berhasil menerapkan apa yang ingin dicapai oleh literasi kesehatan.

***

Solo, Rabu, 15 Mei 2024. 8:20 am

Suko Waspodo

Ikuti tulisan menarik Suko Waspodo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini