x

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sebuah kesempatan, Selasa 2 Januari 2024. Tempo/Tony Hartawan

Iklan

Heru Subagia

Penulis, Pengamat Politik dan Sosial
Bergabung Sejak: 9 November 2022

Kamis, 16 Mei 2024 14:26 WIB

Senyumin Aja Ketika Sri Mulyani Ngedabrus Puji Selangit Ekonomi Indonesia

Masyarakat sudah bosan tabiat pencitraan pejabat. Mereka sudah pintar membedakan mana yang sesungguhnya kerja profesional. Sudah tidak lazim jika pemerintah melalukan monopoli informasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sri Mulyani sedang nhgedabrus, puji Kementrian yang dipimpinnya dan ekonomi Indonesia, Apa iya Ekonomi Indonesia seindah yang Sri Mulyani ceritakan?

Siapa yang tidak tahu nama srikandi ekonomi Indonesia? Sang ekonom kelas dunia yang sudah khatam dalam hitungan hutang luar negeri dan bagiamana mencicilnya.

Dialah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Diakui jika kiprah Sri Mulyani dalam menjaga gawang ekonomi Indonesia sangat fantastis dan meyakinkan. Ia menorehkan kemampuan menjaga ekonomi Indonesia dari berbagi ancaman resesi serta krisis ekonomi baik dari faktor internal dan eksternal. Wajar jika Sri Mulyani dipakai keahlian dan profesionalnya dari jaman SBY hingga dua periode pemerintah Jokowi.

Nggedabrus

Boleh dikata Sti Mulyani sering bikin gemes dan juga bikin ngeri-ngeri sedap dalam perilaku kesehariannya. Apapun ocehan lucu dan juga kegamangannya tetap dianggap serius. Sri Mulyani sudah dicap sebagai salah satu menteri paling serius kerja dan juga perilakunya secara menyeluruh.

Namun penulis melihat Sri Mulyani juga manusia, kadang lembut, tegas dan sesekali romantis. Singkatnya penulis kali ini curiga Sri Mulyani justru sedang nggedabrus merespon isu ekonomi dan juga situasi global berkaitan kekuatan dan ketahanan bagi keberlangsungan ekonomi Indonesia. Penulis melihat Sri Mulyani sedang dalam situasi batin yang layu, tertekan bahkan bisa saja lagi dongkol.

Dalam menanggapi isu serius situasi ekonomi saat ini, Sri Mulyani sepertinya sedang bercanda. Kelakarnya bahwa Ia tidak menyangka perekonomian Indonesia bisa pulih lebih cepat dari krisis akibat pandemi Covid-19. Hal ini juga membuat kaget banyak negara lain di dunia. 

"Well, saya salah, karena (pemulihan) ini tak membutuhkan waktu tiga tahun, tapi hanya dua tahun," kata Sri Mulyani di acara Fitch on Indonesia, di Jakarta, Rabu, (15/5/2024).

Sri Mulyani mengawali nggedabrus-nya dengan menggambarkan betapa gawatnya kondisi pandemi ketika itu. Dia mengatakan pemerintah harus mencari cara untuk mencegah penyebaran penyakit, merawat masyarakat yang sakit, mempercepat vaksinasi dan membantu masyarakat yang ekonominya terpukul oleh pandemi. 

Sri Mulyani Indrawati menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama (Januari-Maret) 2024 mencapai 5,11% (year on year) cukup baik di tengah situasi global yang melemah.

Bagaimana ngak mungkin sekelas Sri Mulyani tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dalam ekosistem politik dan ekonomi global.

Meski situasi ekonomi global cenderung melemah dan gejolak pasar keuangan memberi tekanan semakin berat, ketangguhan perekonomian Indonesia tetap terjaga baik," kata Sri Mulyani dikutip dari akun Instagram @smindrawati, dikutip Selasa (7/5/2024).

Terlalu PD

Kepercayaan diri Sri Mulyani terus menjadi-jadi. Dia pun mengklaim pertumbuhan ekonomi yang solid ini mampu mendorong penciptaan lapangan kerja nasional. Terbukti, per Februari 2024 ini, jumlah pekerja secara nasional tercatat meningkat sebanyak 3,55 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja pertumbuhan ekonomi akibat geliat berbagai sektor industri itu menurut Sri Mulyani mampu mendorong penciptaan lapangan kerja, sehingga tingkat pengangguran ikut turun. Data BPS per Februari 2024 menunjukkan jumlah orang yang bekerja sebesar 142,18 juta orang, meningkat 3,55 juta dibandingkan Februari 2023 yang sebesar 138,63 juta orang.

Seperti Sri Mulyani tidak berterus terang dan justru sebaliknya bercerita sundul langit berkaitan kondisi internal ekonomi Indonesia.

Masalahnya apakah Sri Mulyani sebenarnya sedang mewakili negara dan juga masyarakat ataukah sedang menyenangkan rezim yang berkuasa saat ini?

Resesi Global 

Dirangkum dari berbagai sumber, kesimpulannya jika ekonomi global penuh dengan tantangan pada tahun ini karena banyak potensi risiko yang bisa menekan laju pertumbuhannya ke depan.

Dunia sedang tidak baik-baik saja , faktor distorsinya lebih banyak dipicu oleh konflik politik regional. Akibat perang di berbagai kawasan mengakibatkan efek domino ekomoni menyeluruh menjadi korban. Konflik uang dipicu oleh konflik geopolitik tersebut menyebabkan terjadinya resiprokal yang negatif. Negara yang berkonflik akan melakukan pembalasan atau retalition.

Tidak hanya uang berkonflik saja yang dirugikan, banyak negara tetangga yang paling dekat dan paling jauh juga mengalami kerusakan wkonomi. Pada akhirnya terjadi kerentanan ekonomi dunia dan menyebabkan dunia resesi tak kecuali berimbas buruk khususnya untuk negara-negara maju dengan kapasitas ekonomi besar seperti Amerika Serikat dan China.

Berdasarkan data yang dikutip dari berbagai sumber, Negara Maju seperti Jerman punya probabilitas resesi paling tinggi mencapai 60%; Italia mencapai 55%; zona Eropa 40%; dan untuk wilayah Asia seperti Thailand 30%; dan Korea Selatan 15%.

Daya Beli Anjlok 

Perbankan masih menghadapi risiko tekanan pada tahun ini, dipicu oleh potensi ketatnya likuditas hingga daya beli masyarakat yang melemah.

Mengutip pendapat dari Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan jika ekonomi Indonesia sedang terancam serius terutama tergerusnya daya beli masyarakat. Ia menjelaskan, dari sisi likuditas yang mengetat, disebabkan pertumbuhan dana pihak ketiga yang tidak secepat pertumbuhan kredit.

Adapun ancaman daya beli masyarakat yang melemah, menurutnya terlihat di segmen kelas bawah dan menengah yang konsumsinya tergerus inflasi bahan pangan bergejolak yang sudah tembus 9,63% yoy per April 2024, jauh di atas angka inflasi umum 3%.

Per Maret 2024, pertumbuhan kredit mampu mencapai 12,4% secara tahunan atau year on year (yoy), sedangkan pertumbuhan dana pihak ketiga atau DPK hanya sebesar 7,4%.

Daya beli masyarakat benar-benar menghadapi pelemahan. Survei konsumen yang dilakukan oleh BI menunjukkan bahwa rasio konsumsi kelompok dengan pengeluaran di bawah Rp 5 juta sebagian besar mengalami penurunan.

Penurunan paling dalam dicatatkan oleh kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta – Rp 3 juta, diikuti kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta – Rp 5 juta. Ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat semakin terpukul,

PHK Massal 

Penutupan pabrik sepatu Bata di Purwakarta menambah daftar pabrik-pabrik manufaktur yang satu per satu bertumbangan. Tak hanya industri sepatu (alas kaki), penutupan pabrik juga terjadi di industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Perlu diketahui, BATA telah resmi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal terhadap 233 pekerja di Purwakarta, Jawa Barat. Pihak Manajemen melakukan cut off  karyawan itu terjadi setelah manajemen BATA dan pekerja menyetujui besaran pesangon sebagai tanda pisah kedua dalam hubungan kerja hari ini.

Meski tak sampai tutup, pabrik-pabrik di sektor ini juga dilaporkan banyak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), baik yang didahului merumahkan karyawan, namun ada juga yang langsung memangkas jumlah pekerja atau tak melanjutkan kontrak kerja si karyawan.Tren PHK di pabrik sepatu pun diprediksi masih akan berlanjut.

PPN 12 Persen 

Kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen pada tahun 2025 dinilai semakin memukul mundur kondisi perekonomian masyarakat.

Hal ini disampaikan Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Ecky Awal Mucharam yang menyebut pemerintah yang bersikukuh menaikkan PPN kontraproduktif dengan kondisi daya beli masyarakat saat ini.

“Rencana kenaikan PPN sangat menghimpit masyarakat. Ini akan memukul mundur daya beli masyarakat yang saat ini dihadapkan pada berbagai tekanan perekonomian” buka Ecky, dikutip dari laman fraksi.pks.id, Selasa (14/5/24).

Perlu diingat bahwa dengan mayoritas bersumber dari dalam negeri berupa konsumsi masyarakat, kenaikan tarif PPN tidak hanya akan berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat, melainkan juga meningkatkan tekanan bagi perekonomian nasional. 

Postur penerimaan pajak utama seperti PPN pada triwulan I-2024 menurun sekitar 24,8 persen. Padahal porsi PPN ini dominan terhadap struktur penerimaan perpajakan. Secara sektoral, pajak yang bersumber dari sektor industri juga turun sebesar 14,6 persen. Demikian halnya dengan perdagangan yang pada triwulan ini turun sekitar 0,74 persen.

Industri menjadi tumpuan harapan besar menjaga kesehatan ekonomi Indonesia, namun jika PPN 12 persen dilaksanakan berlalu dipastikan ekonomi nasional stagnan dan bahkan ambyaar.

Kesimpulan 

Kiranya pemerintah harus bijak dalam komunikasi politik dan penyebaran informasi ke masyarakat. Integritas dan kredibilitas penyelenggara negara menjadi fungsi penting menjaga kepercayaan masyarakat dan juga tentunya ekosistem ekonomi nasional dan internasional. 

Keterampilan manajemen informasi wajib dikelola dan disampaikan ke publik oleh pihak kompeten. Pemerintah bukan lagi nggedabrus ngalur-ngidul tetap wajib pegang datang serta bisa berempati terhadap isu yang disampaikan.

Masyarakat saat sudah bosan dan sudah pintar membedakan tabiat pencitraan atau sesungguhnya kerja profesional. Sudah tidak lazim dan masuk akal jika pemerintah atau yang mewakilinya. melalukan monopoli monopoli informasi. Bukannya keterbukaan informasi sudah menjadi hal publik dan jika masyarakat pun sudah sukarela mengakses lebih cepat dan sudah pintar membaca data serta fakta.

Yang jadi masalah jika Sri Mulyani Indrawati dianggap sangat berkompeten di bidangnya namun apa yang disampaikan sebagai bagian Ngedabrus, mungkinkah Sri Mulyani berada dalam situasi dan kondisi psikologis tertekan? Sedang diperintahkan atau sedang suka rela membeli sang Majikannya? 

Ikuti tulisan menarik Heru Subagia lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler