Menanti Hujan - Analisis - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menanti Hujan

    Hujan membawa saya menyusuri lorong waktu ke masa lampau, mengajak saya menapaki kembali jejak-jejak ingatan akan beragam peristiwa.

    Dibaca : 4.654 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sebelum Bogor diguyur hujan dua hari, Bandung sempat dikunjungi gerimis kecil dan pendek—tak sampai satu menit. Aroma tanah yang tersiram air pun belum lagi tercium di sini. Ya, gerimis itu hanya menetes sebentar dari langit, yang kini kerap gelap oleh mendung tapi tak kunjung mengirim hujan. Uap air menggumpal di langit, melukis warna abu-abu gelap.

    Hujan selalu saya nanti, bukan hanya karena ia menyuburkan tanah, tapi juga karena ia menciptakan suasana: dingin, sejuk, tenang, bisa pula sedih dan melankolis. Hujan membawa saya menyusuri lorong waktu ke masa lampau, mengajak saya menapaki kembali jejak-jejak ingatan akan beragam peristiwa.

    Penciuman saya selalu mengendus-endus aroma tanah yang khas menguar ke udara tatkala air dari langit baru saja menerpa pori-pori Bumi. Aromanya memberi kesegaran dan kelapangan hati. Ketika hujan pertama jatuh, saya membuka pintu rumah lebar-lebar agar aroma itu memasuki ruang. Entah kenapa, sesaat yang rumit jadi terasa sederhana karena aroma yang menguar tercium dan saya menghirupnya.

    Gemuruh guntur dan kilatan petir menimbulkan sensasi tersendiri. Ada rasa cemas, perasaan kerdil, seolah alam siap menumpahkan langit ke muka Bumi. Dan kita tak berkutik. Cahaya petir yang berkilat-kilat menembus rintik hujan. Suara lecutannya yang memekakkan telinga sanggup memecah suara derai hujan. Saya membayangkan gelombang suara gemuruh dan cahaya kilat itu telah menembus jarak berkilo-kilometer dan masih juga menggetarkan.

    Di saat seperti itu, saya membutuhkan kehangatan. Usai diseduh, secangkir teh atau kopi melepaskan aromanya ke udara lalu menyentuh indera penciuman, seolah ikut menegaskan momen-momen de javu yang berkilasan. Satu tegukan kopi hangat mengantarkan saya kepada pencarian sesuatu di antara hujan. Mungkin kenangan, barangkali juga inspirasi.

    Tapi kenangan lebih kerap menyiksa, karena itu pencarian inspirasi lebih sering menyenangkan. Hujan mengirim begitu banyak ilham dari langit, dan saya berusaha menangkapnya dengan kepala yang satu, hati yang satu, tangan yang dua.

    Bila angin turut mengantarkan hujan ke rumah, derunya kadang terdengar samar. Deraunya beriringan dengan suara tetes-tetes air yang menerpa atap. Hujan begitu baik dan kaya karena memberi kesegaran: tanaman tumbuh kembali, tanah pun basah lagi, ladang dan sawah terairi, kering sumur terhalau, tapi lebih dari semua itu ia mengirim ketenangan pada batin yang gelisah. Bukan hujan badai, tapi hujan rintik dan hujan yang bersuara agak keras.

    “Biarkan hujan menciummu,” kata Langston Hughes. “Biarkan hujan menepuk kepalamu dengan tetesan peraknya. Biarkan hujan menyanyikan lagu pengantar tidur untukmu.”

    Sepanjang hari ini, ditambah hari-hari kemarin, saya menanti hujan berkunjung dari langit dan mengirimkan kesejukannya ke muka Bumi. Saya lebih menyukai hujan kepagian ketimbang hujan yang datang menjelang tengah malam. (foto: tempo) ***

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.