Oknum DPRD Sumsel Berinisial SM Itu Ternyata Calo CPNS - Analisa - www.indonesiana.id
x

Syafaruddin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Oknum DPRD Sumsel Berinisial SM Itu Ternyata Calo CPNS

    Karena tidak bisa mengembalikan seluruh uang peserta tes CPNS, oknum anggota DPRD Sumsel serahkan mobil dinas, sebagai jaminannya.

    Dibaca : 2.890 kali

    Mobil Dinas DPRD Sumsel BG 1609 MZ plat merah (kiri) yang diganti plat hitam (kanan) yang dijaminkan SM  

    PALEMBANG – Karena tidak mampu mengembalikan sisa uang yang diambilnya sebesar Rp 300 juta untuk dua peserta tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang gagal diterima menjadi CPNS di Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), oknum anggota DPRD Sumsel  berinisial SM serahkan mobil Dinas DPRD sebagai jaminan, bahwa sisa uang Rp. 300 juta yang diambilnya itu akan dikembalikannya.

    Menurut keterangan yang dihimpun pada Senin, 1 Februari 2016, cerita oknum anggota DPRD Sumsel berinisial SM dari Fraksi Partai Golkar menyerahkan mobil Dinas DPRD Sumsel jenis Kijang Inova Nomor Polisi BG 1609 MZ itu berawal dari tersiarnya kabar penerimaan CPNS di Kabupaten OKU Selatan tahun 2014.

    Ilham penduduk Desa Tanjung Bulan, Kecamatan Pulau Beringin, OKU Selatan, mendapat cerita penerimaan CPN tersebut dari Asril Hadi, sementara Asril mendapat cerita dari saudaranya Harsanda yang menceritakan ada orang yang bisa membantu meloloskan tes CPNS untuk menjadi CPNS. Harsanda yang ditanya Asril siapa yang bisa membantu itu disebutkannya bernama Ahlan Dani (40) penduduk Desa Tanjung Bulan.

    Karena ada adik bernama Iswandi Satriawan berkeinginan menjadi PNS, maka Ilham mengundang Ahlan datang kerumahnya, untuk memastikan siapa yang bisa membantu meloloskan tes CPNS. Menurut cerita Ahlan kepada Ilham untuk Sarjana S-1 biaya yang diperlukan sebesar Rp 150 juta.

    Mulanya saya ragu atas cerita Ahlan, namun karena ia menyebutkan nama SM, Ketua DPRD OKU Selatan, Ilham mengaku percaya adiknya bisa lolos tes CPN, karena SM kala itu menjabat Ketua DPRD OKU Selatan priode 2009 - 2014, katanya.

    Selanjutnya pada tanggal 12 Mei 2014, Ilham ditemani saudaranya membawa uang Rp 100 juta bersama Ahlan berangkat ke Muara Dua, ibu kota Kabupaten OKU Selatan untuk menemui SM di rumah Dinas Ketua DPRD OKU Selatan. Dalam pertemuan itu SM menyebutkan untuk lolos tes CPNS dibutuhkan biaya sebesar Rp 150 juta dan tidak bisa ditawar lagi.

    Karena yakin dengan SM yang menjabat Ketua DPRD OKU Selatan itu bisa meluluskan adiknya menjadi PNS, lalu uang Rp 100 juta yang dibawanya diserahkan, sisaya Rp 50 juta akan disusulkan beberapa hari kemudian. Karena masih ada lagi adiknya Meta Elva Yati lulusan D-3 Kesehatan pengen menjadi PNS, lalu diutarakanlah kepasa SM, apa lulusan D-3 bisa dibantu diloloskan tes CPNS yang dijawab SM bisa, tapi biayanya sama Rp 150 juta.

    Karena ia bisa membantu, maka kekurangan uang yang belum kami setorkan kepada SM sebesar Rp 200 juta, kami pun pulang, kata Ilham. Namun besok harinya, tanggal 13 Mei 2015 Ahlan datang menemui Ilham, menyampaikan pesan SM minta tambahan uang Rp 60 juta dan uang itu kami serahkan besok harinya tanggal 14 Mei 2014, yang ngatarkan uang itu ke SM, Ahlan bersama Iswandi.

    Beberapa hari kemudian dibulan Mei 2014 itu datang lagi Ahlan membawa pesan SM minta uang Rp 50 juta. Uang itu kata Ilham, ia ikut mengantarkannya ke rumah SM bersama Ahlan, jadi total uang yang kami serahkan kepada SM mencapai Rp 210 juta. Kemudian bulan Agustus 2014 minta lagi Rp 50 juta disusul pelunasan Rp 40 juta, total Rp 300 juta.

    Pada bulan Januari 2015 ada pengumuman penerimaan di OKU Selatan dan tes penerimaannya akan dilaksanakan bulan Februari 2015, lalu Ilham memerintahkan kedua diknya , Iswandi dan Meta mendaftar ikut tes CPNS.  Lalu dikabarkan kepada SM bahwa kedua adiknya sudah mendaftar ikut tes CPNS dan mendapat nomor peserta tes CPNS dan SM meminta agar mengirimkan nomor tes CPNS itu kepadanya.

    Namun alangkah kecewanya kami ternyata kedua adiknya tidak lulus tes CPNS dan SM kami kabari, sekaligus minta uang Rp 300 juta yang disetorkan kepadanya dikembalikan, karena uang itu pinjaman dari orang lain dan mereka meminta uang dikembalikan.

    SM berjanji akan mengembalikan dahulu Rp 50 juta namun yang dikirimkannya hanya Rp 20 juta, beberapa hari kemudian dikembalikannya lagi Rp 30 juta melalui rekening Ahlan. Total sisa uang yang belum dikembalikannya masih Rp 250 juta.

    Pada bulan April 2015, SM datang menemuinya di desanya Tanjung Bulan, SM disaksikan Ahlan dan Budrin berjanji akan membayar Rp 100 juta dulu pada ahir bulan April 2015. Sisanya akan dibayar paling lambat ahir Juli 2015.

    Di ahir bulan April 2015 itu, Ilham mengatakan, terus menghubungi SM dan ternyata janji mengembalikan Rp 100 juta tidak dipenuhinya. Walau demikian Ilham terus berkomunikasi dengan Ahlan temannya SM, selanjutnya pada bulan Mei 2015, Ilham menghubungi SM agar mengirimkan uang Rp 100 juta dan pada tanggal 13 Mei 2015 SM mengirim uang Rp 20 juta melalui Bosnya di Martapura.

    Alasan SM hanya mengirimkan Rp 20 juta dan sisanya Rp 80 juta, karena buku tabungan Banknya tinggal. Uang Rp 80 juta it uterus Ilham tanyakan dan pada bulan Mei 2015 baru uang Rp 80 juta itu dikirimkannya.

    SM, kata Ilham selalu berjanji akan melunasi uang itu, tapi kenyataannya, janjinya tidak pernah dipenuhinya. Pada tanggal 13 Juli 2015, Ahlan menyampaikan pesan SM bahwa ia belum ada uang, namun dia mau meminjamkan mobil Honda Freed sebagai jaminan kalau sisa uang yang belum dikembalikannya akan dibayar setelah ia mempunyai uang.

    Pada tanggal 15 Juli 2015, Ilham pergi ke Baturaja untuk menemui SM yang sebelumnya diajak SM bertemu di Baturaja, tapi ia masih berada di Palembang, lalu SM dihubunginya melalui telepon SM  dan ia kirim SMS kepada saya menyuruh mengambil mobil yang dijanjikan di Bakung dirumah kakak iparnya.

    Ternyata mobil dimaksud bukan Honda Freed, tapi mobil Inova, selanjutnya SM dihubunginya melalui telepon bahwa mobil yang ada Inova bukan Honda Freed. SM menjawab kalau Honda Freed ia takut hancur nyangkut dijalan sempit, karena mobilnya rendah.

    Ambilah Inova itu kuncinya sekalian ambil sama kakak iparnya, mobil diambil, namun STNK-nya tidak ada. SM ditelpon kembali menanyakan mana STNK-nya yang dijawab SM lagi dalam proses perpanjangan.

    Besok harinya setelah tiba di Desanya mobil Inova itu ia periksa dan ternyata didalamnya ada nomor Polisi plat merah, sementara nomor Polisi yang sama plat hitam terpasang di mobil itu. Karena sisa uang yang belum dikembalikan dan STNK mobil Inova selalu saya tanyakan, maka pada bulan November 2015, SM menyuruhnya mengambil STK monil tersebut diwarung didekat rumahnya.

    Ilham lalu menyuruh adiknya mengambil STNK itu sesuai informasi dari SM dan ternyata mobil Inova yang dipinjamkannya kepada saya, adalah mobil Dinas Pemerintah Provinsi Sumsel, kata Ilham.

    Menurut keterangan sejumlah sumber di OKU Selatan, SM semasa menjabat Ketua DPRD OKU Selatan, bukan hanya menawarkan proyek pembangunan dengan fee 20 persen, ternyata Ketua DPRD OKU Selatan dari Partai Golkar yang kini menjabat anggota DPRD Sumsel merangkap calo CPNS.

    Sementara SM yang dihubungi untuk mengkonfirmasikan tersendatnya pengembalian uang dua peserta tes CPNS melalui ponselnya 081224xxxx tidak atif, sementrara ponsel 082372xxxx milik Ahlan, perantara MS, juga tidak aktif.

    SYAFARUDDIN

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.